Membuat NPWP

NPWP atau Nomor Pokok Wajib Pajak entah kenapa sekarang jadi dibutuhkan untuk membuat rekening. Hal itu membuat gue akhirnya terdorong untuk membuat NPWP padahal masih mahasiswa.

Pada hari Jum’at kemarin, gue iseng nyoba buat NPWP. Karena  selain mahasiswa gue punya kerja sampingan alias freelance yasudah mudah saja mengisi form pendaftaran wajib pajak yang diberikan petugas, walau tetep banyak tanya-tanya juga sih biar gak salah isinya, hahaha…

Berbeda dengan yang memiliki pekerjaan sebagai pegawai swasta, kalau freelance ternyata dilayani oleh bagian ekstensi bukan yang bagian utama yang biasanya berada didepan kantor, tapi kalau tidak tahu pun nanti diarahkan oleh petugasnya kok.

Syarat untuk membuat NPWP sendiri sangat mudah untuk pegawai swasta hanya membutuhkan KTP saja, namun kalau freelance selain KTP juga membutuhkan materai 6000 untuk menandatangani perjanjian lapor SPT (Surat Pemberitahuan Tahunan) tiap tahunnya dibulan Januari-Maret.

Jujur dulu males bikin NPWP karena gak mau bayar pajak SPT tahunan padahal upah freelance masih kecil, karena gak tahu apa-apa masalah perpajakan sih intinya. Tapi, pas buat jadi banyak kesempatan nanya dan dijelasin juga. Apalagi buatnya juga cepet banget setelah nama dipanggil paling proses 5-10 menit sudah jadi kartu NPWP kita.

Ternyata pajak pun terkena subsidi dan jumlahnya cukup besar juga dan disana gue baru tahu, semisal saat lapor SPT gaji yang terkena pajak itu dibawah subsidi kita hanya perlu melapor saja dan tidak membayar apapun alias gratis, mungkin ongkos atau bensin ke kantor pajaknya sih ngeluarin biaya, hehehe…

Subsidi dari pemerintah sendiri perorang untuk pajak tahunan sekitar 54 juta rupiah, belum lagi kalau menikah nanti ditambah subsidinya 4,5 juta dan tiap anak pun bertambah 4,5 juta subsidinya hingga anak ketiga.

Semisal gaji kita kalau diakumulasi selama setahun itu 20 juta, lalu wajib pajak kita semisal 20% maka diakumulasikan saja yang terkena pajak berapa. Kalau dihitung seharusnya kita harus membayar 4 juta namun karena 4 juta masih dibawah subsidinya alias 54 juta jadi aman gak perlu membayar alias gratis.

Tapi buat pegawai tetap kena pajak penghasilan tiap bulannya sih kalau yang dijelaskan mah, hanya yang tahunan yang terlihat besar itu tidak perlu membayarnya kalau dibawah subsidi wajib pajaknya.

Banyak hal sih yang masih ingin gue tanya-tanya sama petugasnya saat itu, kaya gimana kalau kita pindah dari pekerjaan nanti yang mengurus apa kita atau kantor. Atau juga bagaimana kalau kita tiba-tiba menganggur apa harus lapor dulu atau cukup dijelaskan saat pelaporan SPT saja. Tapi sayang ketika itu kepotong Sholat Jum’at, karena waktu itu sudah dapat kartu setelah sholat jadi langsung pulang gak balik ke kantor pajak lagi.

Cukup dulu kayaknya blog dari gue kali ini, walau kayaknya terlalu biasa saja dan gak dikasih gambar kaya blog-blog gue sebelumnya. Sebenarnya mau saja tapi kondisi hp lagi semacam rusak jadi harus di-isi terus biar gak pernah mati. Mungkin lebih jelasnya gue jelaskan di blog selanjutnya kalau gak mager XD

Maaf kalau ada salah-salah kata yang tersirat maupun tersurat, sekian. Sampai jumpa di blog gue selanjutnya XDb

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s