Cerita Pendek Berkait “3 Pesepeda” Bagian Tengah

Lanjutan dari postingan Cerita Pendek Berkait “3 Pesepeda” Bagian Awal , sebenernya ceritanya udah beres… pas awal mikir gitu pas dibaca ulang banyak yang kurang jadi direvisi plus ditambah-tambahin ceritanya ini juga tetep kurang sih XD

Silahkan dinikmati cerita tentang seorang pesepeda yang mengayuh diatas aspal, cita-cita dan persahabatan.


3 PESEPEDA

<~ Sebelumnya Di 3 Pesepeda Bagian Awal

sepeda bagian tengahSuara roda berdenyit dari tiga sepeda milik Adnan, Bapsa, dan Cikal. Roda gigi sepeda mereka berhenti berputar seraya kaki mereka bertiga menginjak aspal yang sudah ditandai garis putih menyala diatas aspal.

“Kayaknya kita tepat waktu dah.” Ucap Cikal sambil turun dari sepedanya lalu menuntunnya kedalam area checkpoint.

“Syukur deh kalau begitu, gue kira gak sempet loh tadi sampe sini.”

Mereka bertiga terus mengobrol sambil bercanda-canda sambil mengarahkan sepedanya ke areal parkir.

“Eh, liat cuy disana tempat istirahatnya.”

“Wah, lumayan tuh. Ayolah kesana !” timpal Bapsa.

“Ka-Kalian duluan aja kesana, aku mau ambil minum dulu kayaknya, haus juga sepedahan tadi.”

Adnan pergi menuju bagian kantin dimana disana sudah ramai dengan orang-orang yang melewati jalur pantai saat siang tadi, dia berhati-hati menyelinap didalam keramaian disana agar dia tidak terlalu mencuri perhatian orang-orang disana.

Saat dia menuju ke sebuah dispenser dia melihat galon air disana sudah kosong. Suatu hal yang wajar bila melihat massa yang berada disana.

Adnan menghentikan langkah seorang panitia perempuan yang melewat didepannya, “maaf mba, ini galonnya kapan yah di refill lagi ?”

“Wah maaf yah mas, kita fokusnya lagi ngisi ulang makanan di prasmanannya aja nih. Gak nyangka juga soalnya yang bakal ada di checkpoint ini banyak juga.” jawab perempuan yang kelihatan sudah cukup kelelahan tersebut.

“Yaudah dimana tempat penyimpanan minumannya ? biar saya saja yang ngisi sendiri.”

“Wah, jangan mas. Gak enak juga sama peserta udah kelelahan sepedahan seharian malah jadi ngangkat galon sekarang. Nanti biar saya aja yang…”

“Sudah enggak apa-apa, kasian juga panitia pada kewalahan gara-gara kami. Tunjukin saja arahnya mba gak perlu diantar malah tambah ngerepotin nantinya.” Potong Adnan sambil tertawa kecil diakhir.

“Wah maaf merepotkan yah mas, terima kasih bantuannya,” lalu panitia perempuan itu menunjukan arah gudang penyimpanan galon.

Adnan sampai di gudang tempat yang diarahkan panitia tadi, sebenarnya dia bisa saja meminum langsung dari botol-botol suplai minuman yang tersedia disana yang memang disediakan buat peserta sepeda. Tapi dia bukan orang yang seperti itu, dia selalu memikirkan sesama sebelum memikirkan dirinya walau dia melakukan hal itu secra diam-diam. Mungkin kalau dia lebih terbuka atas perbuatannya itu dia bisa mendapat banyak teman di masa sekolahnya dulu.

Dia lalu membawa galon tersebut dan mengganti yang kosong pada dispenser di kantin, Adnan melakukannya dengan hati-hati biar tidak diperhatikan orang-orang yang masih banyak saja disana. Tanpa sadar sebenarnya orang yang disana memperhatikan kebaikannya itu diam-diam.

Setelah itu dia menghampiri 2 temannya yang masih asyik ngobrol disebuah sofa panjang.

“Woy, nan ayo disini aja kosong tuh.” Ucap Cikal sambil menunjuk sebuah kursi hitam kosong.

Adnan melihat kesegala arah memperhatikan tiap detail tempat istitrahat tersebut. Tapi tempat tersebut cukup sepi kalau dibanding kantin tadi, mungkin orang-orang memilih memulihkan diri melalui makanan dibanding beristirahat disini.

“Oh ya, tadi kalian sedang membicarakan apa ? Sepertinya seru sekali.” Tanya Adnan sambil duduk di kursi hitam yang tadi ditunjuk Cikal.

“Oh tadi, kita lagi ngomongin aja abis acara sepedahan ini seterusnya mau ngapain lagi.” Jawab Bapsa.

“Iya bro, gue mikirnya kita coba jalan-jalan barenglah ke kota atau bahkan ke Jakarta gitu sekalian agak jauhan keluar pulau nyobain cuci mata di ibu kota.”

“Itu juga kalau kita masuk finish barengan” gumam Adnan pelan.

“Apa, nan ? kayaknya tadi lu mau ngomong sesuatu ?”

“Enggak, tadi aku berpikir kira-kira kalau kita gak ikut lomba ini, kita ngelakuin apa yah ? Apa kita bakal ketemu juga kaya gini”

“Iya yah bener juga bro, kayaknya sih kemungkinan kecil kita ketemu kaya sekarang dah.”

“Bener tuh cuy.”

“Memangnya kalau gak ikutan lomba ini kalian kira-kira mau ngapain di luar sana ?”

“Hmmm… Gue sih kayaknya bakalan ikut bokap gue ke kota pusat buat jadi kru teknisi di stasiun TV disana”

“Wah, kamu hebat juga berarti yah, Sa. Masih muda udah paham hal teknis begitu.”

“Enggak kok, enggak begitu. Gue cuma ngikutin bokap gue aja.” Diakhir jawaban Bapsa ini seperti ada patahan kata yang tidak setuju terucap, namun dia tidak ingin mengungkapkannya.

“Nah, kalau kamu gimana tuh, Kal ?”

Cikal mengambil nafas panjang, riangnya seperti berganti dengan wajahnya yang tertekuk. “Gimana yah, palingan gue cuma masuk kuliah dimana bapak gue dulu kuliah aja terus ngikutin arus disana sampai lulus nanti.”

“Wah, keren dong jadi sarjana berarti.”

“Gak, sehebat yang lu bayangin kok, Nan.”

Adnan cukup bingung pada ekspresi kedua temannya itu. Seperti ada sesuatu yang berat dipikul oleh mereka untuk mengikuti langkah ayah mereka, Adnan sendiri sebenarnya cukup iri melihat keduanya yang memiliki tujuan di masa depan yang bahkan dia sendiri belum memilikinya.

Suasana hening yang mulai terjadi pun berusaha untuk Adnan redam, “Tapi kan setidaknya kalian sudah memiliki jejak untuk kalian ikuti kedepannya, sedangkan aku masih terus memikirkan mau jadi apa nanti.”

“Yang kaya gitu malah enaklah, gak ada dorongan mau jadi apa atau harus ngelakuin apa. Masa depan masih kerasa terbentang luas dihadapan lu.”

“Bener banget, kalau kaya gitu lu bebas mau jadi apa dan lu bisa jadi apapun yang lu inginkan.”

“Tapi malahan kalau kaya gitu bukannya cuma ada kekosongan didepan mata, masa depan juga kerasa lebih gak pasti tanpa adanya panduan kaya yang kalian dapatkan dari bapak kalian itu !”

Cekcok mulut pun terjadi diantara mereka bertiga yang mencoba berelaksasi disana.

“Hahahahaa… !!!” Cikal tiba-tiba tertawa terbahal-bahak.

Adnan dan Bapsa sontak ikutan tertawa mendengar tawa keras itu.

“Kita itu kadang suka mikir kalau jadi orang lain itu enak yah, padahal kalau kita merasakan keadaan yang sama belum tentu juga masih bilang enak.” Sela Bapsa ditengah tawa mereka bertiga.

“Ya memang begitulah.”

Malam pun semakin larut, mereka bertiga memutuskan untuk makan lalu mandi sebelum mereka tidur.

Pagi pun tiba, tidak seperti Adnan, Bapsa dan Cikal peserta yang lain masih tidur saat itu. Mereka bertiga langsung melanjutkan perjalanan mereka meninggalkan peserta lain karena sebisa mungkin mereka berusaha mengakhiri lomba ini secepat mungkin.

“Hei, Nan.” Ucap Bapsa.

“Iya, ada apa ?”

“Itu yang kemarin kan lu belum cerita kalau lu gak ikutan lomba ini apa yang lu lakuin diluar sana.”

“Oh iya bener tuh, cuy.”

“Mungkin ini terdengar agak konyol, tapi sebenarnya aku ingin membuat sebuah film bila tidak mengikuti lomba ini.”  Jawab Adnan ragu.

“Film ?”

“Mau buat film kaya gimana lu, Nan ?” Timpah Cikal.

“Film tentang mayat hidup gitu, jadi ceritanya ada wabah nyerang pulau yang…”

“Zombie maksudnya ?” timpal Bapsa.

“Yah setengah zombie gitu, terus setengah vampire penghisap darah. Jadi namanya Vambie.”

“Eh, bentar. Bukannya zombie gitu suka darah juga yah ?” sanggah Cikal.

“Ya… Anggap aja itu Vambie variasi nama doang. Kan kalau di film-film zombie kadang namanya dibedain jadi bukan zombie lagi.”

“Oh gitu, terus-terus coba lanjutin cerita lu.”

Setting tempatnya dipulau buatan yang agak jauh dari pulau utama. Disana muncul wabah yang entah muncul dari mana menyerang dan merubah semua mayat kembali hidup menjadi Vambie. Kehidupan normal di pulau itu pun berubah menjadi kematian. Terus karakter yang aku perankan…”

“Loh, lu entar main di film buatan lu sendiri ? nanti yang ngarahin filmnya siapa kalau lu ikutan main juga ?” Tanya Bapsa.

“Yah gak masalah semuanya bisa diatur. Peranku sendiri menjadi peran utama sebagai satu-satunya yang selamat dari kengerian yang terjadi di pulau tersebut, sebelum akhirnya pulau itu diledakan saat aku pergi menjauh meninggalkan pulau tersebut.”

Cikal dan Bapsa terdiam sejenak, saling menatap menyadari maksud sebenarnya cerita tersebut.

Keduanya pun terdiam sambil mendengarkan penjelasan cerita Adnan yang panjang lebar.

~@~

Kayuh sepeda mereka bertiga yang selaras dalam harmoni terhenti ketika melihat sebuah percabangan 3 jalan.

“Kita kayaknya harus mencar nih dari sini, kecuali kita maksain semuanya satu jalan.” Ucap Bapsa.

“Hah, memangnya kenapa harus mencar ?” tanya Adnan.

“Loh, lu lupa kalau jalan abis checkpoint kedua nanti dibagi 3 jalan, dimana keahlian masing-masing pesepeda diuji sampai akhir lomba. Gue sendiri bakal milih jalan paling kiri dimana jalannya cuma lurusan doang walau kalau diliat jarak tempuh paling jauh dibanding jalur lainnya. Cikal gue yakin pilih jalur tengah yang mainin teknik sepeda banget lewatin jalan tanjakan berbukit sama berkelok walau jalurnya paling pendek dibanding yang lain. Yang pasti diantara kita gak mungkin ada yang milih jalur ketiga tapinya.” Jelas Bapsa.

“Ah, bener juga yang lu bilang, Sa. Memang kita harus milih, tapinya tenang aja kan kita punya HT jadi masih bisa saling berhubungan lewat sana.”

Cukup berat sebenarnya untuk Adnan memilih jalur yang mana, namun secara logika jelas dia tidak memiliki kemampuan di jalur lurus yang jauh yang jelas-jelas menguras staminanya. Satu-satunya jalan yaitu bersama Cikal menempuh jalur berbukit walau hal itu pun sebenarnya sulit juga.

“Tenang Nan, lu gak perlu buru-buru milih. Gimana kalau kita berangkat lebih dulu, nanti ketemuan di checkpoint berikutnya. Kita kontek-kontekan aja lewat HT kalau ada apa-apa yah. Lu juga jangan lupa nyalain HT lu sekarang.”

Dengan hanya perkataan Cikal tadi, mereka berdua pun pergi meninggalkan Adnan disana memilih jalan.

Cikal sempat berpikir untuk memilih jalan ketiga, namun jika dia memilihnya dia tidak akan bertemu dengan Bapsa ataupun Cikal hingga akhir pertandingan. Pilihan menjadi sulit baginya sekarang.

Tetapi pada akhirnya Adnan memilih jalan yang dipilih Cikal tadi.

Belum lama Adnan mengayuh sepedanya memasuki jalan berbukit, dia merasakan keanehan pada sepedanya. Dia tidak mengetahui terdapat retakan kecil yang semakin membesar akibat jatuhnya kemarin pada bagian sambungan badan sepeda stang dan roda.

Saat bannya beradu dengan jalanan terjal menuju belokan di hadapan Adnan.

“KRAK !!!” Suara retakan keras terdengar.

Ketika itu firasat Adnan menyuruhnya melompat, dan ia mengikutinya.

Adnan melihat sepedanya sendiri patah dan terpelanting hingga hancur berkeping-keping beradu dengan aspal jalan. Jika Cikal ada disana dia bisa saja terkena potongan tajam dari sepeda Adnan yang hancur.

Adnan ingin menghubungi Cikal dan Bapsa, namun dia menahan dirinya. Karena dirinya sudah terlalu banyak bergantung pada mereka berdua selama pagelaran sepeda ini dimulai. kali ini dia harus menyelesaikan masalah ini sendirian. Tapi, bagaimana caranya ? pikir Adnan

“Kehancuran yang luar biasa sekali.” Ucap seseorang dari arah belakang Adnan.

Adnan terkaget melihat seorang pria memakai wearpack ala teknisi di bengkel serba hitam berdiri tepat dibelakangnya entah semenjak kapan, dia memakai tanda pengenal panitia dengan bertuliskan angka 3 saja pada bagian namanya. Pria tersebut memiliki tinggi kira-kira 175cm dengan badan yang tidak kurus maupun gemuk, dia memakai sebuah kacamata berwarna hitam agak kecoklatan, walau hal itu tidak terlalu terlihat kontras dengan rambut hitam pendek lurusnya maupun warna kulitnya yang sawo matang.

“Si-Siapa kau ?” tanya Adnan.

“Bisa kau lihat sendiri dari tanda pengenal ini kan, aku adalah bagian dari panitia.”

“Jadi apa yang harus kulakukan sekarang ? apakah aku harus keluar dari acara ini ?”

“Kalau kau mau yah silahkan saja, aku tidak melarangnya. Tetapi kalau kau menunggu beberapa jam lagi sepeda lain akan datang untuk kau pakai. Walau harus kurangkai dulu sih.”

“Tapi, bagaimana bisa aku mendapat sepeda pengganti ?”

“Seluruh kerusakan entah sepeda maupun manusia dalam lomba ini adalah tanggung jawab panitia. Lagipula tadi saat kau terpana melihat sepedamu sendiri hancur, aku menghubungi panitia lain untuk mengirimkan sepeda untukmu. Jadi hal tersebut sebenarannya mudah saja.”

Adnan merasa ada yang aneh dari cara berbicara panitia ini, atau mungkin dia merasa aneh karena melihat panitia itu memiliki tatapan kosong yang tidak berubah seraya dia diam maupun berbicara.

Keheningan pun muncul diantara mereka berdua. Adnan pun mengulas kembali alasan sepedanya itu bisa hancur.

Adnan tidak menyangka kalau kerusakan sepedanya begitu berat kemarin, dia tidak bisa menyalahkan teknisi yang kemarin sudah membantunya juga. Seharusnya dia mengecek kembali kondisi sepedanya lagi sebelum berangkat.

Dia pun menunggu bersama teknisi berkacamata yang memiliki pandangan kosong itu hingga frame sepeda barunya datang.

Lama menunggu hingga berjam-jam, namun akhirnya yang ditunggu pun datang juga.

Teknisi berkaca mata itu langsung merakit sepeda yang sampai dengan cekatan, wajar saja kalau dipikir-pikir karena itu adalah bidang yang biasanya dia geluti. Ketika itu Adnan berpikir tentang kekurangannya selama pertandingan ini.

“Jika saja aku memiliki kemampuan lebih pada bidang ini.” Sesal Adnan.

“Probabilitas kesalahan itu 50-50…” gumam teknisi sepeda berkacamata itu.

“Kau bilang apa ?”

Teknisi itu terdiam sejenak.

“Alasan kau tertinggal bukan hanya teman-temanmu yang hebat saja, itu hanyalah 50 persennya saja. Kau sendiri mengemban 50 persen alasan sisanya,” dia menghentikan tangannya yang sepertinya sudah selesai mengencangkan baut di sepeda Adnan. Tatapan serius menembus lensa kacamatanya menuju mata Adnan, menunjukan kalau dia serius mengatakan hal yang dia katakan dari tadi. “50 Persen sisanya adalah ketidakmampuan kamu sendiri untuk mengeluarkan segenap susah payah yang sama selama lomba ini, karena kau tidak memiliki skill dalam bidang ini bukan berarti kau tidak bisa mengejar mereka yang memiliki skill.”

“Kita bahkan tidak saling mengenal dan KAU menilai orang seenaknya saja.”

“Kau benar…” Dia berbalik merapikan peralatannya tidak lagi memperhatikan Adnan, “silahkan jika kau mau melanjutkan perjalananmu kembali, aku sudah selesai.”

Adnan pun melanjutkan perjalanannya dengan perasaan yang masih emosi, dia tidak pernah terpancing emosinya seperti itu sebelumnya entah hal itu karena perilaku aneh si teknisi atau dia memang tersulut oleh kata-katanya saja tadi.

HTnya yang telah berisik dari tadi oleh suara Bapsa dan juga Cikal akhirnya dia balas.

“Maaf baru membalas, tadi aku cukup bingung memilih jalur mana.”

“Elah, nan gitu aja pake minta maaf. woles aja sih. Tapi lu ngayuhnya agak buruan dikit yah udah sore soalnya sekarang. Bentar lagi gelap beres dah lu disuruh balik ke checkpoint sebelumnya.”

“Oh, betul tuh.”

Mendengar ucapan Cikal dan Bapsa tadi Adnan baru sadar akan langit yang sudah berubah jingga.

“Hmm… Kalau begitu kalian duluan saja. Ngeliat langit begini ngeri gak sempet nyampe sana. Kita ketemu nanti langsung di garis finish saja.”

“Maaf, Nan. Gue gak bisa ngejanjiin hal itu.”

“Eh, lu kenapa tiba-tiba gak bisa gitu, Sa ?”

“Pas gue bilang, kalian gak perlu balikin walkie talkie yang gue kasih gue serius akan hal itu. Karna sejujurnya gue gak bisa ngikutin lomba ini sampai hari kelima. Kalau lebih dari itu gue bakal nyerah tanpa nyelesain lomba ini.”

“Tapi, kenapa, Sa ? Kenapa tiba-tiba….”

Bapsa memotong pekataan Cikal, sedangkan Adnan cuma diam mendengarkan saja.

“Karena gue ngikutin lomba ini cuma buat lari, lari dari kehidupan yang udah kesegel kedepannya bakal gimana. Gue lari dari rumah buat ngikutin lomba ini, karena gue gak mau ngikut keluarga gue pindah dari pulau yang punya banyak kenangan dari gue kecil, dan pergi cuma buat ngikutin cita-cita ortu gue yang berharap gue jadi apa nanti.

Tapi sekarang semuanya beda.

Karena gue ketemu lu pada, gue akhirnya sadar kalau gue gak bisa cuma lari gitu aja. Masih ada orang lain yang punya kondisi gak sebaik kehidupan gue saat ini. Karena itu gue harus ngejar ortu gue sebelum kapal mereka berangkat di hari ke enam, dan satu-satunya cara gue harus keluar dari lomba ini di hari ke enam.”

Kondisi pun hening, walkie talkie yang berbunyi dari tadi berubah senyap sejenak.

“Maaf, karena aku telah menjadi beban.” Sesal Adnan.

“Kenapa jadi drama gini yah ucapan gue tadi. Enggak, bro lu bukan beban, karena cerita zombie lu tadi gue sadar. Kalau gak ada lu berdua pasti gue udah lari serabutan ninggalin tanggung jawab gue.”

“Betul, Nan. Woles aja, kalau ngitung-ngitung walau lu gak nyampe checkpoint di hari ini lu masih bisa nyampe finish di hari kelima jadi tenang aja, cuy.”

“Terima kasih atas kepercayaan kalian, aku bersyukur bisa berteman dengan kalian.” Ucap Adnan mengakhiri percakapan mereka.

Benar seperti dugaan mereka, Adnan pun terlambat hingga hari gelap dan dia akhirnya diangkut oleh panitia untuk kembali ke Check Point sebelumnya.

~@~

Adnan hanya sendirian ketika diantar oleh mobil pick-up untuk kembali ke checkpoint sebelumnya.

Ketika sampai disana pun terlihat kalau tempat itu berbeda dari malam kemarin dimana semua terlihat ramai dan sibuk, tempat itu kini terlihat sepi. Bahkan, tempat makan yang dipenuhi keramaian sebelumnya berubah menjadi tempat sepi dengan makanan tertumpuk berlebihan disana.

Tidak ada kesibukan dari para juri, tidak ada peserta lain, hanya ada Adnan sendirian.

“Kita bertemu lagi yah.”

“WAAA !” Adnan cukup kaget mendengar suara dibelakngnya yang tiba-tiba mengagetkannya, namun dia merasa familiar oleh suara tersebut. “Kau kan…”

“Ya, aku teknisi yang memberikan sepeda baru padamu. Oh iya, maaf soal tadi siang mungkin ucapanku keterlaluan.”

“Tidak apa-apa, perkataanmu itu malah ada benarnya juga. Selama pertandingan ini aku hanya menjadi beban teman-temanku saja, mungkin karena aku baru memiliki apa yang disebut dengan teman.”

“Oh, ayolah jangan buat suasana begini ini bukan cerita yang seperti itu. Bagaimana kalau sebagai ganti perkataan burukku tadi siang biar aku check keadaan sepedamu biar maksimal buat besok. Dan jelas kau jangan coba-coba menolaknya”

Dengan kata-katanya tadi Adnan jadi tidak bisa menolaknya, dia pun menunjukan sepedanya pada panitia aneh berkacamata itu.

Teknisi berkacamata itu langsung mengecek keadaan sepedanya, dia juga mengeluarkan peralatannya seperti obeng untuk mengecangkan baut-baut disana serta pelumas untuk rantai dan gigi sepedanya.

“Kau tahu alasan aku mengatakan hal yang kurang mengenakan siang tadi, itu semua karena aku percaya pada potensi manusia yang tidak terbatas. Jika mereka mau, manusia bisa melakukan apapun.”

Adnan hanya diam saja mendengarkan penjelasan teknisi tadi.

“Jadi apa rencanamu untuk besok, kau pasti ingin mengejar teman-temanmu kan ?”

“Aku berniat melewati semua checkpoint tanpa beristirahat atau mengambil perbekalan agar bisa mengejar mereka. Walau aku hanya tertinggal 1 checkpoint saja sekarang dengan salah satunya, namun aku tidak akan bisa mengejarnya dengan cara biasa. Mereka berdua adalah monster pesepeda yang bisa saja mencapai posisi terdepan jika mau, namun mereka menurunkan kemampuan mereka agar bisa bersepeda denganku.”

“Bukankah kau terlalu memaksakan dirimu kalau begitu, kau tetaplah harus beristirahat.”

Adnan merasa kata-kata itu jelas benar, namun kalau dia tidak melakukan hal itu dia tidak akan lagi bertemu mereka berdua di garis finish. Entah setelah berpisah di lomba ini, apakah Adnan bisa bertemu lagi dengan mereka atau tidak.

“Tapi, jika aku tidak melakukannya aku tidak bisa mengejar mereka. Cikal mengatakan kalau aku masih bisa sampai finish di hari kelima walau aku kembali ke checkpoint ini. Tapi dia hanya berusaha menghiburku saja. Dengan kemampuan seperti ini, aku tidak mungkin bisa melakukannya kecuali aku melewati semua checkpoint.

“Kau mengatakan kalau mereka berdua adalah temanmu, lalu kenapa kau tidak mempercayai ucapannya ?”

Percakapan mereka berdua berakhir dengan keheningan.

~@~

Adnan memulai kembali mengayuh sepedanya saat pagi menjelang, dengan membawa perbekalan secukupnya dan 2 buah botol minum dia pun melanjutkan perjalanan dari checkpoint dimana dia bermalam 2 kali disana.

Dia menggunakan teknik-teknik yang diserapnya dari Bapsa dan Cikal, hingga saat siang menjelang dia mencapai checkpoint yang seharusnya dicapainya kemarin. Tanpa mengurangi kecepatan dia melewati checkpoint tersebut membuat panitia terkaget dan meneriakinya untuk berhenti sejenak. Tetapi, Adnan tidak menghiraukannya sama seperti walkie talkie yang terus berbunyi di saku belakang baju sepedanya.

Entah, Adnan telah melewati pesepeda lain atau belum dia sendiri tidak mengetahuinya. Sekarang dia hanya terfokus oleh gowesan sepedanya dan aspal hitam tempatnya melaju. Dia telah memasuki keadaan mental yang disebut Zone, sehingga informasi yang masuk kedalam panca indera serta otaknya hanya informasi yang diperlukan untuk mencapai garis finish saja.

Checkpoint lain pun terlewati oleh Adnan, kakinya mulai merasa sakit akan paksaan yang dia lakukan, tenggorokan terasa panas dan kering karena minuman untuk mengisi dahaganya sudah habis semenjak tanjakan super ekstrim untuk mencapai chekpoint ini. Tetapi Adnan terus memaksa dirinya.

Adnan pun melewati checkpoint ketiganya hari ini dengan memaksanya melewati batas tubuhnya. Tetapi saat dia mulai memasuki jalur tanjakan kakinya bergetar hebat, setiap getarannya memberi denyutan rasa sakit pada otot-otot kakinya yang terasa akan tersobek kapan saja dan pandangannya kini mulai buram.

Bukan keburaman pandangan yang dirasakan Adnan sebenarnya, namun langit menurunkan air dari awan-awan yang berada diatas sana. Bukan hujan kecil seperti gerimis biasa namun itu adalah hujan yang sangat deras hingga mengaburkan pandangannya kedepan.

Hujan sebesar itu bahkan tidak bisa menyegarkan Adnan dari dahaga yang menyerang tenggorokannya sedari tadi. Dia pun keluar dari keadaan zone sehingga mulai merasakan keadaan sekitar dan menyadari kalau dia tidak akan sampai pada checkpoint keempat dihari ini, terlebih lagi kalau begini dia tidak bisa mencapai finish di hari kelima karena tubuhnya sudah benar-benar membutuhkan yang namanya istirahat sekarang.

“Adnan !” Ucap 2 orang melalui walkie talkie dibelakang saku baju Adnan.

Adnan sudah terlalu lelah sekarang walau dia tidak mau menyerah sebenarnya, namun dia harus menghadapi kenyataan kalau dia tidak bisa sampai di garis finish mengikuti batas waktu Bapsa.

“Maafkan aku Bapsa, namun sepertinya aku tidak bisa mengembalikan benda ini. Selamat Tinggal.”

“Tung-Tunggu, Na… BZZZT !”, Adnan mematikan walkie talkienya memasukannya kembali ke kantung belakang bajunya.

Adnan melanjutkan kayuhan sepedanya, membelah hujan deras yang menyirami tubuhnya walau pandangannya terhalang oleh tirai air di depan matanya, dia terus melanjutkannya sendirian.

Seperti pada kehidupannya sebelum mengikuti lomba ini, dia kembali lagi sendirian.

~Akhir Bagian Tengah~

Lanjut bagian akhir ~>

Ceritanya masih kurang dari 5000 kata yang berarti masih masuk ke cerpen ini cerita, agak susah juga ngelanjutin cerita ternyata apalagi sekarang selalu kepikiran skripsi. Apalagi mau kekampus buat ngurus skripsi tapi lagi masuk angin dengan “sesuatu” tidak tertahankan jadi mau naik kereta sulit juga.

Di bagian cerita ini juga gue masukin cerita pertama yang gue tulis jaman SD dengan ada perubahan untuk ngepasin ke ceritanya juga sih.

Okelah kalau begitu sekian dulu cerita kali ini, jangan lupa baca bagian akhirnya juga nanti kalau udah beres XD maaf kalau ada salah-salah kata didalam cerita kali ini. Sampai ketemu di postingan blog selanjutnya, terima kasih xDb

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s