Mendongeng

Mungkin kalau mendengar tentang cerita rakyat seperti dongeng kita jarang memperhatikan sejarah dimulainya cerita tersebut, atau bahkan siapakah yang mengarang cerita itu untuk pertama kali.

Tidak pernahkah kita bertanya-tanya bagaimana dizaman dahulu dimana belum ada media Internet atau buku, sebuah cerita asal Sumatera Barat seperti Malin Kundang bisa menyebar sampai ke tanah Jawa dimana hal itu cukup sulit dilakukan pada waktu itu.

Jawabannya adalah dari mulut ke mulut.

Entah itu dari pedagang asal Sumatera yang mengembara ke Jawa atau oleh orang lain.

Tapi yang pasti dongeng-dongeng tersebut menyebar pada saat prasejarah, atau zaman dimana belum tercatat kejadian-kejadian saat itu.

Penulis sendiri baru menyadari masalah sepele tapi cukup penting sebenarnya ketika mengambil mata kuliah Bahasa Indonesia dulu.

Ketika itu penulis ragu masuk ke sebuah ruangan kelas yang berada di lantai 5 bangunan di sebelah Masjid kampus, karena tempat itu seharusnya bukan tempat untuk mata kuliah umum seperti kelas Bahasa Indonesia. Lagipula kelasnya pun sudah dimulai, jadi agak malu juga memasuki ruangan yang sudah dipenuhi orang yang sedang menyaksikan dosennya mengajar.

Dengan mengisi percaya diri, penulis pun melaju dan memasuki ruangan tersebut.

Sebuah pertanyaan terucap dari mulut penulis, “Pak, apakah ini ruangan mata kuliah Bahasa Indonesia ?”

Senyuman dikeluarkan oleh dosen pria kurus yang kelihatan sudah berumur 50 tahunan itu. Hal itu mungkin dimaksudkan untuk memecahkan ketegangan yang terpancar pada air muka penulis.

“Ya benar, silahkan duduk” jawab bapak dosen itu ramah.

Penulis langsung melihat sekitar mencari tempat duduk yang kosong diruangan yang hampir terisi penuh oleh mahasiswi tersebut, di bagian paling belakang terlihat 3 mahasiswa dengan jejeran kursi kosong.

Penulis pun memilih duduk disana.

Bapak dosen itu lanjut menjelaskan mengenai mata kuliahnya panjang lebar, sayup-sayup terdengar mahasiswi yang mengobrol tidak memperhatikan yang dijelaskannya.

Penulis pun sedikit tidak memperhatikan karena penjelasannya memang cukup panjang. Tapi, ketika itu dosen tersebut masuk ke materi sejarah Bahasa Indonesia.

Hal itu cukup menarik perhatian penulis, karena walaupun dia berkuliah di jurusan elektro sekarang namun di dalam dirinya ada keinginan untuk masuk jurusan sastra yang tidak tercapai karena gagal masuk ke sana.

Saat itu sebuah pertanyaan diajukan oleh Bapak Dosen tersebut.

“Apakah disini ada yang tahu siapa pengarang dongeng yang pernah kalian dengar, seperti si kancil misalnya ?”

Kelas menjadi diam karena tidak ada satupun yang mengetahui siapa yang menulisnya, bahkan penulis pun demikian.

Dosen itu tersenyum, “baiklah saya ganti pertanyaan saya, coba angkat tangan buat yang disini yang pernah diceritakan dongeng oleh orang tuanya ?”

Penulis langsung mengingat momen ketika dia kecil dulu, dimana saat dia mau tidur dia diceritakan dongeng demi dongeng seperti timun mas, kancil dan buaya, sangkuriang, dan masih banyak lagi.

Penulis pun tanpa ragu mengangkat tangannya, namun ketika itu betapa kaget dirinya ketika melihat mayoritas dikelas tersebut tidak mengangkat tangannya, kecuali 2 orang lain dikelas tersebut.

Jumlahnya hanya 3 orang yang mendengarkan dongeng ketika masih kecil oleh orang tuanya termasuk penulis. Jumlah yang sangat sedikit untuk kelas seramai itu.

Bapak dosen itu pun menjelaskan bahwa asal dongeng-dongeng tersebut adalah dari era prasejarah, yang tidak lain adalah era dimana hal yang terjadi pada masa itu masih belum tercatat.

Dia pun melanjutkan penyebaran dongeng tersebut kebanyakan lewat menurun mulut ke mulut dari orang tua ke anak dan begitu pun siklusnya berlanjut.

Akan tetapi di era dimana media sudah sangat banyak seperti buku, tv, dan internet. Siklus itu terputus.

Beberapa orang tua kadang terlalu sibuk untuk melakukan hal seperti mendongeng yang memakan banyak waktu, dan memilih untuk memberikan buku bacaaan saja untuk anaknya membacanya sendiri.

Memang hal itu tetap membuat dongeng itu terjaga oleh roda waktu, namun ironis ketika mengetahui sebuah siklus terputus begitu saja.

Oke.

Kalau begitu sekian buat blog kali ini, cuma pengen sedikit berbagi pemikiran saja. Walau sebenarnya hal ini sepele juga sih, hehehe…

Maaf kalau ada kesalahan pada tulisan ini yang entah tersurat maupun tersirat, sampai bertemu di postingan selanjutnya. ( ^_^)b

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s