Minggu Emas

1462639511404Golden Week atau yang dapat diartikan minggu emas, itulah sebutan orang Jepang untuk libur panjang pada akhir minggu yah kira-kira seperti minggu kemarin.

Kali ini gue akan share tentang liburan gue dan bareng kawan-kawan REC minggu kemarin-kemarin yang kebetulan tanggal merah berderet dari hari Kamis XDb

Sebenernya berasa Deja Vu sih cerita beginian lagi, soalnya udah pernah tapi bukan di blog ini namun di Blognya REC yaitu randombogor.weebly.com tapi gak apa-apa deh sekalian belajar nulis dan ngisi blog ini juga hahahaha…

Kalau di blog yang satu lagi gue bilang liburan kita dadakan dan memang betul, hal itu baru direncanain h-2 sampai h-1 saat kita mau liburan. Merencanakan rencana seperti itu tentu berat, ada sedikit letupan-letupan kecil dalam diskusi layaknya Civil War dan BvS namun pada akhirnya kami menemukan “Martha” sehingga masalah panjang tidak terjadi.

Jujur aja, karena gue gak tahu gimana format blog liburan yang enak jadi wajar yah kalau dikit-dikit gambar XDb

Direncana dadakan itu, Alhamdulillah Sandi sebagai tuan rumah yang menaungi kami di CIdahu setuju akan hal itu walau karenanya dia harus tidak masuk kerja, tapi dia tidak masuk kerja karena sedang sakit juga sih.

Kru yang berangkat dari Bogor di hari itu gak berbeda denga blog satu lagi, yaitu Zulfi & Istri langsung dari Jakarta yang kita jemput di stasiun, Ruffi yang rumahnya jauh tapi nyampe duluan di meeting point, Gue yang dateng agak belakangan karena mikir mending pake sendal atau sepatu kalau main ke area gunung, dan Irfan selaku pemilik mobil yang mengendarai mobil itu sendiri juga.

Awalnya Alvian juga bilang disempatkan akan ikut saat main, namun dia juga memiliki acara keluarga dan acara lain bersama kawan-kawannya di CIgombong jadi berhalangan dia untuk ikut juga deh.

Sebenarnya rencana liburan 2 hari kami itu simple yaitu di hari pertama ke curug disana curug manapun namun berbeda dengan curug yang pernah anak REC lain kunjungi dan pada hari kedua ke kawah ratu karena sebelumnya anak REC gagal kesana karena perjalanan yang jauh.

Setelah beristirahat lalu makan dengan makanan yang disuguhkan oleh keluarga Sandi di Cidahu dan juga Sholat Jum’at, kami pun melaksanakan rencana hari pertama. Walaupun saat itu kami tidak tahu sama sekali arah menuju curug yang lain begitupun Sandi. Untung Sandi orang lokal disana, jadi dia mengenal banyak orang termasuk petugas ticketing menuju wilayah curug sehingga dia bisa bertanya-tanya tentang curug tersebut.

Perjalanan menuju kesana pun menurut tandanya sih cuma 300 meter dari camping area, namun ditengah perjalanan ada keluarga yang memiliki kesan wajah oriental yang memutar balik dengan alasan mereka melihat garis polisi saat menuju curug tersebut.

Saat itu juga pikiran berkecamuk di kepala gue mungkin berbeda dengan teman-teman yang lain yang terlihat santai melanjutkan perjalanannya. Saat itu gue berpikir apakah ada pembunuhan atau mungkin bunuh diri disana. Atau jangan-jangan itu hanya akal-akalan Conan saja ingin mengelabui orang-orang disaat dia proses berubah kembali jadi Shinichi setelah tidak sengaja menelan pil penawar APTX4869 dari Ai Haibara yang memiliki codename Sherry padahal nama aslinya mah Shiho Miyano.

Tapi, pemikiran tersebut sesaat kemudian menghilang ketika melihat apa yang disebut keluarga tersebut “garis polisi” ternyata hanya sebuah garis plastik berwarna kuning hitam pengganti pembatas jalan. Entah karena paranoid atau jalanan yang sedikit terjal membuat mereka melihat hal tersebut sebagai garis polisi.

Setelahnya kami langsung bertemu sungai yang dipenuhi bebatuan yang cukup bagus dan indah juga kalau diperhatikan oleh mata namun belum tentu bila dilihat dari hasil gambar yang dijepret.

Batu-BatuSetelah melihat jalan berbatu panjang dan tiada batas dan harus dibuang ketempat jauh dis… Loh kok malah nyanyi XD

Yah setelahnya, kami langsung bertemu curug pertama dari 3 curug yang dikatakan ada diareal ini, walau masih awal namun spot tersebut terlihat cocok untuk dijadikan tempat untuk kami berenang disana. Tapi kami melanjutkan untuk melihat-lihat curug selanjutnya dulu Toh masih terlalu awal kalau kami memulai langsung untuk tenggelam di kolam hasil curug tersebut.

Ngomong-ngomong curug itu bahasa sunda dari telunjuk dan juga Air Terjun, jelas yang gue maksud di tulisan ini air terjun bukan telunjuk Xd.

Curug 1.01Kami melanjutkan naik kejalan yang cukup licin, mungkin alasannya karena orang sekedar bercuci kaki dan masih basah lalu naik kembali sehingga jalan yang notabene terbuat dari batu dan tanah menjadi licin. Pada saat itu gue melihat sebuah pohon kayu panjang yang roboh yang entah kenapa buat gue tertarik untuk foto-foto disana.

Sepohon KayuSetelah melewati sepohon kayu daunnya rimbun tapi tidak lebat bunga serta buahnya. Kami langsung bertemu dua percabangan satu sebuah jembatan menuju ke curug ke tiga dan satu lagi tanjakan menuju curug ke 2.

Kami pun menuju curug ke-2 yang kurang lebih seperti pancuran air dengan kolam yang kecil layaknya kubangan yang besar tidak seperti dijalan.

Curug 2.02Setelah itu gue turun dan berbelok ke curug ke tiga yang harus melewati sebuah jembatan bambu, disana sudah dipenuhi oleh orang-orang yang berisik karena canda dan guraunya. Akan tetapi, Zulfi dan Ruffi terlihat masih disekitar Curug kedua melihat-lihat akan tumbuhan air disana.

Sesaat setelah mereka selesai memperhatikan tumbuhan-tumbuhan air disana tiba-tiba saja kumpulan orang di Curug ketiga bubar dan pergi, saat itu mereka mengatakan kalau mereka melihat ular beberapa orang dari kami yang penasaran langsung turun kebawah untuk melihat kebenarannya namun hasilnya nihil.

Curug 3.03Tapi untuk berjaga-jaga kami memutuskan untuk berendam di Curug kesatu saja. Tapi sebelum itu kami mendapati informasi kalau jalan lanjutan dari curug ketiga itu menuju arah balik kearea balik jadi tidak perlu melewatkan kembali jalur yang dilalui dan jalurnya lebih landai juga.

Anak SD kesasarSebenarnya dari awal kami pun memang sudah mengiyakan kalau curug 1 itu tempat yang tepat untuk menenggelamkan diri di dalam kolam inspirasinya, apalagi ada batu besar yang sangat cocok untuk momen “dorong batu”.

Tanpa kita sadari, kami cukup lama disana walaupun air disana sangatlah dingin ala ala puncak untung saja Sandi membawa setermos air hangat yang akhirnya kami pakai untung menyeduh teh tarik yang benar-benar menyeimbangkan kembali suhu tubuh yang turun akibat dinginnya air disana.

PohonSetelahnya kami pun kembali melewati jalur yang dekat curug ketiga yang memang seperti yang dikatakan dimana lebih dekat dan landai. Baru sebentar saja kami berjalan kembali sudah membuat kami kembali keareal Camping. Jujur gue pengen buru-buru balik keareal itu soalnya udah kebelet buang air kecil juga gara-gara dinginnya kolam.

Areal kempingKami pun pulang dan bermalam di rumah Sandi, malamnya kami membakar jagung sebagai snack dimalam hari. Tapi ketika itu kami melihat keadaan Sandi yang memburuk gara-gara flunya berubah menjadi demam kemungkinan dia untuk mengantar kami ke Kawah Ratu pun semakin kecil, namun yang penting kami tidur lebih sore agar bangun lebih pagi memastikan keberangkatan kami ke Kawah Ratu.

TAPI….

Salah satu dari kami bangun kesiangan, bukan salah dia juga sih mungkin kelelahan akibat jalan-jalan kemarin ditambah dia juga mengatur komposisi bayangan dari hasil karyanya entah sampai jam berapa. Apalagi kondisi Sandi yang terlihat kelelahan karena sedang sakit juga membuat kami memutuskan untuk tidak menuju ke Kawah Ratu.

Ditengah kemelut untuk langsung pulang saja atau adakah ide baru untuk mengisi liburan ini. lalu sebuah ide dadakan terpikir dikepala yang diberikan oleh teman SMA saat pulang hari rabu sebelumnya yang tidak sengaja sekereta, yaitu menuju ke Suaka Elang di Cigombong.

Dengan meninggalkan Sandi untuk beristirahat serta tidak lupa berterimakasih padanya karena memberi tumpangan rumah selama disana, kami pun menuju ke Cigombong.

Sebelum ke Suaka Elang kami terlebih dahulu mengunjungi sang baginda maharaja penguasa kerajaan CIgombong, yang ngomong-ngomong tentang perumahan tempat ia tinggal diselimuti pohon-pohon tinggi layaknya ada dinosaurus yang disembunyikan disana, itulah rumah Alvian.

Tahu bulat yang digoreng dadakan lima ratus Rupiah yang rasanya gurih-gurih enyoy disajikan disana, tentu sebagai pengunjung yang baik kami memberi persembahan kepada sang baginda maharaja yaitu Snack-snack yang agak memenuhi mobil Irfan sebelumnya, intinya bukan kami memberikan itu buat melonggarkan ruang mobil namun tulus sebagai persembahan XDb

Kami pun tidak mau berlama-lama juga merepotkan Alvian sebagai tuan rumah dan terlalu sore untuk ke Suaka Elang yang membuat kami segera kesana karena jujur saja kami tidak tahu dimanakah sebenarnya tempat itu. Dengan berbekal lokasi desa Loji dari google map secara ajaib kami sampai disana.

Kabut Suaka ElangKeadaan jalan yang terlihat rusak membuat kami menghentikan mobil disebuah sekolah yang terlihat seperti SD dan melanjutkan berjalan disana. Benar saja setelah jalan yang rusak terdapat turunan yang begitu rusak dan terjal jalannya, bahkan kami melihat sebuah motor mundur kembali ketika menanjak sehingga menyuruh teman si pengendara untuk bersusah payah mendorong motornya.

Kami terus jalan melewati sebuah desa lalu kedalam persawahan sebelum bertemu hutan yang begitu banyak dipenuhi nuansa dan bunyi hutan hingga akhirnya bertemu checkpoint dimana kami harus membayar untuk di areal tersebut sebesar 10 ribu rupiah setelahnya kami bebas mau berjalan ke Suaka Elang ataupun naik terus menuju ke Curug Cibadak. Saat itu kami sampai disana bersamaan dengan kabut yang turun dari puncak.

SawahahahahSebuah jembatan gantung mengarahkan kami menuju Suaka Elang namun sayang tempat itu sendiri terlihat tidak terurus entah karena alasan apa, kandangnya yang hanya dipenuhi oleh seekor elang Jawa yang tidak dikunci kandangnya membuat siapapun bisa menyelinap masuk kesana.

Pengen dapetin gambar Elang Jawanya namun sulit karena dia terus bertengger diatas pinggir kandang, gue pun gak bisa memaksa.

Jembatan GantungKami melanjutkan perjalanan menuju Curug Cibadak setelah melihat kabut menipis akibat hujan yang terjadi, seperti yang gue bilang di Blog REC itulah kenyataannya jalannya sangat terjal dan gue berkali-kali berpikir untuk menyerah dan memutar balik namun kepercayaan akan usaha keras itu tidak menghianati terus menghantui sepanjang perjalanan. Mungkin hal itu yang mendorong gue untuk sampai kesana.

Curug CibadakSetelahnya kita pun kembali menuju mobil dan dikagetkan akan keadaan desa disekitar sekolah itu yang gelap gulita, bahkan penerangan jalan pun tak ada. Hal itu dikarenakan mati lampu bergilir didaerah Cigombong menurut pengakuan warga sekitar.

Lalu kami pun pulang setelah memakan indomie basah hangat dari warung disana. Selama perjalanan pulang Alhamdulillah cukup lancar, kecuali saat sampai Kota Bogor dimana kemacetan cukup parah disana. Tapi akhirnya semuanya sampai rumah dengan selamat dan beristirahat malam itu.

Curug Cibadak melihat JuniardiKeesokan harinya sebenarnya cukup melelahkan namun gue berpikir untuk menuju Big Bad Wolf (BBW) yang diadakan di ICE saat itu, BBW sendiri merupakan ajang pameran buku terbesar yang terjadi saat itu. Gue yang memang hobi baca yah tidak mungkin melewatkan event besar seperti itu.

Yang hebat adalah gue beli sekitar 7 bukuan dengah hanya mengeluarkan uang 130rban sebuah harga fantastis yang tidak pernah didapat di toko buku. Isu buku disana hanyalah buku impor itu hanya isu belaka, buktinya cuma 1 buku gue doang yang impor dan sisanya itu masih lokal dengan terjemahan Bahasa Indonesia.

Satu lagi itu ICE Bintaro yang deket Aeon Mall kok kalau dilihat-lihat kaya didalam bandara yah bentuk interior dalamnya, bukan didalam hallnya juga atau mungkin guenya aja yang norak hahahah… XD

Big Bad Wolf Books 2016Sebelum pulang sempet mampir dulu ke Kampus Vienny untuk makan sih, sayang sang empunya kampus tidak bertemu.

Yah mungkin segitu cerita liburan gue pas libur panjang kemarin itu, maaf kalau ada salah-salah kata yang mengena dihati para pembaca secara langsung ataupun tidak langsung juga.

Oh iya pas di blog yang kemarin yang ngomongin E-Passport yang INI loh, E-passportnya sudah jadi dan hanya begitu saja setelah membayar tinggal menunggu tanggal jadi ditambah dengan tanda pembayaran dari banknya juga jadi gue secara resmi sudah memiliki E-Passport walau tanpa sidik jari telunjuk dan jempol disana.

Kayaknya sekian dulu blog dari gue makasih banget buat yang mau baca sampai ketemu kapan-kapan di blog selanjutnya, hahahah XDb

Welfie Curug Cibadak

Advertisements

2 thoughts on “Minggu Emas

  1. Liburan yang paling enak adalah ke air terjun. Aku seneng banget kalo baca-baca artikel liburan seperti ini. Selain bisa nambah pengetahuan tempat wisata, sekalian juga menikmati foto-foto alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s