Cerita Pendek Berkait “3 Pesepeda” Bagian Awal

sepedaNgeshare cerita pendek yang saling sambung menyambung menjadi satu, tapi entah apa bakal bersambung besok atau kapan lagi XD

Intinya sih ini sebuah kisah awal tentang seorang pesepeda yang mengayuh diatas aspal, cita-cita dan persahabatan.


3 PESEPEDA

“Sebuah lomba touring sepeda non-profesional yang memiliki jalur yang membelah Pulau Parariangan. Lomba ini memiliki beberapa checkpoint di tiap jalur perharinya yang akan menjadi rest area serta tempat penyuplaian kebutuhan pesepeda.

Dimana bila batas waktu perharinya yaitu jam 6 Sore terlewati, maka pesepeda akan dijemput oleh panitia dengan mobil dan diangkut ke checkpoint sebelumnya untuk beristirahat dan memulai balapan kembali dititik tersebut jam 6 pagi keesokan harinya.

Berbeda dengan lomba touring sepeda biasa dimana pesepeda memiliki 1 jalur yang sudah fix, disini pesepeda dapat mengeksplor jalur-jalur lain yang telah disediakan agar dapat mengeksplor Pulau Parariangan mulai dari utara sampai ke selatan. Oleh karena itu selain dibekali minuman serta makanan, pesepeda juga dibekali peta jalur untuk perjalanan tiap harinya. Panitia pun berjaga disetiap jalurnya yang membuat para pesepeda dapat mendapat pertolongan  bila terjadi suatu hal di jalan.

Secara normal lomba berjalan selama 4 hari. Tetapi, panitia memberi kelonggaran hingga hari ke 7 untuk menunggu pesepeda yang belum mencapai ke garis finish.”

Kira-kira itulah penjelasan panitia mengenai “Tour de Padjadjaran” yang didengar oleh Adnan seorang pesepeda asal Kota Pakuan, kota tetangga dari kota dimana garis start lomba ini berada.

Adnan sendiri bukan seorang pesepeda handal, hanya seorang pemuda beruntung yang 2 minggu sebelum lomba ini diadakan mendapatkan hadiah quiz TV sebuah road bike. Dia sendiri tidak ada persiapan khusus untuk sepedanya, hanya dia lap bersih agar kerangka dan kedua roda pipih sepedanya tetap terlihat bersih.

Banyak pemuda lulusan baru dari SMA seperti Adnan, yang berbondong-bondong mengikuti pelatihan dan job fair yang diselenggarakan bertepatan dengan hari lomba. Tapi Adnan tidak begitu.

Dia merasa kalau dia mengikuti semuanya sesuai kebanyakan orang, maka tidak ada bedanya dia dengan robot yang hidupnya terprogram. Mungkin itu alasannya dia menjadi anak yang penyendiri, walau begitu dia tidak pernah merasa kesepian.

Adnan menghentikan lamunannya dan menghampiri kearah panitia sambil menggendong sepedanya.

“Mas, ini garis startnya dibedakan per daerah asal gak ?”

“Oh, enggak mas. Ini semua startnya disesuaikan per nomor urut yang dikasih di baju buat nanti sepedahan saat daftar ulang tadi pagi”, jawab panitia bertubuh tambun dengan rambut cepak itu. “Memangnya mas datang dari mana ?”

“Oh, saya dari kota Pakuan, okelah terima kasih informasinya yah mas.”

Adnan berjalan menuju toilet, untuk mengenakan baju sepedahannya.

Akan tetapi, Adnan tak sadar sepasang mata dan telinga yang memperhatikannya dengan seksama saat dia mengobrol dengan panitia tadi.

Lomba pun segera dimulai, Adnan sudah bersiap di garis startnya dengan mengenakan baju bernomor 15 yang dia dapatkan saat daftar ulang pagi tadi, yang ternyata tidak hanya menulis nomor saja tapi juga kota asal pembalap. Dimana Adnan melihat sekitarnya dipenuhi oleh pesepeda yang berasal dari kota ini.

Terlihat di paling belakang iringan mobil bak dan ambulans yang akan mengikuti di belakang rombongan pesepeda nanti. Di sebelah kanan dan kiri pesepeda terdapat pagar pendek yang memisahkan para penonton yang cukup mengagetkan Adnan akan keramaiannya.

“Ayolah kapan lomba ini dimulai.” Gumam Adnan pelan, dia merasa tidak nyaman berada dikumpulan banyak orang, apalagi dia tidak suka menjadi pusat perhatian seperti sekarang ini.

Beberapa orang dengan pakaian panitia membagikan suplai makanan dan minuman untuk pesepeda dalam perjalanan panjangnya nanti.

Tidak lama setelah pembagian suplai selesai. “DORR”, suara letusan tanda lomba dimulai berbunyi.

Adnan mengayuh sepedanya sekuat tenaga. Tetapi banyaknya pesepeda disana membuat dia harus menurunkan kecepatannya, kalau tidak dia akan menyenggol dan menabrak pesepeda lain.

Hal tadi tidak berlangsung lama hingga masuk ke jalan besar dimana kemampuan para pesepeda terlihat jelas, dimana pesepeda handal langsung melesat jauh kedepan meninggalkan rombongan pesepeda lainnya.

Adnan yang tidak ingin berada didalam keramaian, berusaha mengayuh untuk menjadi yang terdepan. Tetapi, usahanya sia-sia dia tidak memiliki bakat seperti mereka yang didepan. Setidaknya dia sekarang sudah terpisah dari rombongan.

Akan tetapi, hal itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba 2 orang yang melaju layaknya sedang berbaris, menyusul Adnan. Tetapi, pesepeda dibelakangnya melihat Adnan dan mulai menurunkan kecepatannya sehingga sejajar dengannya.

Bro duluan aja bro, kasian lunya takut capek.” Ujar orang yang bersepeda sejajar dengan Adnan.

“Oh oke kalau begitu, sampai ketemu di checkpoint.” Jawab pesepeda didepannya yang langsung melaju kebut layaknya sepeda motor yang di gas maksimal.

Pesepeda yang sejajar dengan Adnan menoleh kearahnya, lalu menyodorkan tangan kanannya. “Kenalin nama gue Bapsa.”

Adnan memperhatikan pesepeda yang memakai baju dengan tulisan angka 7 dengan seksama, dan menyadari alasan kenapa orang itu menghampiri Adnan. Di bajunya terdapat tulisan Pakuan sama persis seperti Adnan yang berarti dia berasal dari kota yang sama dengannya.

“Adnan” jawabnya singkat sambil menjabat tangannya, dia cukup terpukau dengan Bapsa yang bisa menjulurkan tangannya sambil bersepeda. Dia saja langsung menarik tangannya kembali saat sudah berjabat untuk menyeimbangkan sepedanya kembali. Tapi yang paling memukau adalah Bapsa dapat mengejarnya, padahal Adnan sendiri mengayuh kepayahan sampai sejauh ini.

“Salam kenal yah bro, gak nyangka gue ketemu orang dari Kota Pakuan juga disini. Sebenernya kalau ikut lomba turing sepeda gini jangan ngebut diawal, abisin energi bro. Apalagi checkpoint masih jauh juga, kalau minuman sama makanan abis disini udah deh repot gak bisa jajan juga lagi”

Adnan mengangguk mendengar sarannya. “Thanks buat sarannya. Tapi, tadi… Ah, enggak jadi.”

“Pasti lu mau nanya kenapa gue bisa ngejar kalau gak ngebut juga kaya lu, kan ?” Adnan mengangguk membenarkan perkataan Bapsa, “jadi gini kalau sepedahan kita bikin barisan kaya gue tadi itu orang depannya jadi semacam windshield. Ah, mending gue langsung praktekin aja dah. Lu coba sejajarin sama sepeda gue yah, jangan lupa ritme gowesannya juga kalau bisa samain.”

“O-Oke.” Adnan menyejajarkan sepedanya dengan sepeda Bapsa yang melaju didepannya sekarang, dan dia mendapatkan jawaban dari pertanyaannya.

Adnan merasakan kalau angin sudah tak terasa dari arah depannya, hanya dari arah samping saja. Gowesannya pun terasa makin cepat, namun kakinya tidak terasa kepayahan malah terasa sangatlah ringan layak ditarik oleh sepeda didepannya.

“Paham sekarangkan ?” Kata Bapsa sambil nyengir.

“Sip”, Adnan tidak biasanya merasa ingin mengobrol dengan seseorang secara panjang lebar, namun Bapsa membuat perbedaan. Dia sekarang malah selalu tergelitik untuk bertanya dan mengetahui Bapsa lebih jauh.

“Kamu, udah biasa ikut lomba sepeda gini ?”

“Enggak juga, ini malah baru ikut. Tapi, kalau sepedahan sih emang sering dari dulu juga. Oh iya, lu Pakuannya daerah mana ?”

“Daerah kotanya, kamu sendiri dari daerah mana ?”

“Kalau gue dari daerah perbatasan kota sama kabupatennya, yah Pakuan coretlah, hahaha…”

Candaan Bapsa menarik gelak tawa dari Adnan yang biasanya memasang poker face pada candaan yang sama.

Mereka berdua pun terus bersepeda mengikuti jalan di sisi rel kereta dengan Adnan “ditarik” Bapsa tanpa sadar 2 mata yang sama yang memperhatikan Adnan saat sebelum lomba, sekarang memperhatikan mereka berdua.

~@~

Matahari bahkan belum sampai tepat diatas kepala. Tetapi panasnya suasana dekat checkpoint pertama sudah terasa sangat menusuk, bukan karena cuaca yang membuat tempat itu terasa panas, namun beberapa ratus meter dari tempat itu terjadi kecelakaan kereta yang mengakibatkan panas api dari sana terbawa angin hingga membuat panas checkpoint tersebut. Walau sebenarnya checkpoint pertama juga berada ditempat lain yang bahkan tidak terpengaruh dari kecelakaan, namun tempat itulah yang terdekat dari garis start bila diambil jarak tempuhnya.

Adnan dan Bapsa yang tidak mengetahui hal tersebut terus mengikuti sisi rel ketika melihat persimpangan dimana mereka bisa melewati jalur lain yang biasanya dikhususkan untuk, pemilik mata yang memperhatikan Adnan dan Bapsa pun terus mengikuti mereka juga dari belakang.

Tapi, betapa terkejutnya mereka ketika jalan dipenuhi dengan kendaraan merah besar milik Pemadam kebakaran serta orang-orang mengerumuninya melihat kebakaran yang terjadi, sebenarnya bisa saja mereka menghindarinya kalau mereka memperhatikan langit yang berkepul asap, namun asyiknya pembicaraan mereka membuat mereka lupa akan sekitar. Dengan cepat mereka memutar dengan posisi Adnan yang kali ini sebagai “penarik” walau dia sebenarnya sudah kelelahan hingga menghabiskan 2 botol air bekal yang diberikan oleh panitia.

Saat mereka kembali ke persimpangan, mereka bertemu dengan para rombongan pesepeda lainnya yang  bingung melihat mereka yang memutar arah.

“Hoy, kenapa dengan jalan disana ? kok kalian malah muter balik ?” Ucap salah satu pesepeda didalam rombongan yang bertubuh gemuk.

“Ada kecelakaan disana, jalan benar-benar tertutup jadi kami berputar mau lewat jalur bis.” Jawab Adnan spontan.

“Iya tuh, disana tadi ada kecelakaan kereta yang bikin jalan ke block gitu.” tambah seseorang dari arah belakang Adnan. Saat itu Adnan mengira itu adalah Bapsa namun suaranya berbeda, yang sebenarnya berada disana adalah seseorang dengan dengan pakaian bertuliskan Pakuan sama seperti Adnan dan Bapsa.

Adnan ingin saja bertanya semenjak kapan dia ada dibelakangnya, namun banyaknya orang bersamanya sekarang disana membuat dia sedikit tertekan dan tidak fokus.

“Oh begitu, yaudeh kalau gitu kite sekarang sepedahan barengan ajalah. Toh, tujuan nanti juga sama saja kan, gimana ?” Ajak sorang bertubu gemuk lain dari dalam rombongan.

Adnan sebenarnya tidak mau bersepeda ramai-ramai, namun dia merasa tidak enak karena sudah diajak yang menimbulkan perang batin di dalam dirinya.

“Ah, kayaknya kami mau ke checkpoint duluan. Kebetulan perbekalan kami sudah habis jadi harus disupply ulang gitu. Sorry yah, Bro.” Potong Bapsa sebelum Adnan memutuskan apa yang perlu dia lakukan selanjutnya.

Mereka berdua pun meninggalkan rombongan tersebut dengan cepat menggunakan teknik “menarik” yang mereka gunakan sebelumnya untuk meregangkan jarak. Tapi, tanpa mereka sadari seseorang mengikuti mereka dari dalam rombongan.

Berbeda dengan jalan disamping rel kereta yang landai dan lurus. Tetapi, jalan di jalur bis lebih menanjak dan berkelok sehingga jarak tempuh lebih jauh dibanding jalan disamping rel kereta, namun secara aneh Adnan malah lebih nyaman  memacu sepedanya disini walau dari segi kecepatan  jelas lebih lambat di jalur ini.

“Nan, kayaknya lu tipe pendaki alami deh.”

“Pendaki ? Aku gak pernah ngedaki sama sekali padahal.”

“Bukan pendaki itu maksudnya, tapi pendaki dalam hal sepeda yang berarti lu lebih baik bersepeda di area yang ada tanjakan sama turunannya. Pasti lu ngerasa energi yang lu keluarin dari jalan lurus doang kaya jalur kita tadi lebih nguras energi dibanding sekarang…”

Adnan medengarkan dengan seksama penjelasan panjang lebar dari Bapsa, dan dari sana Bapsa menjelaskan kalau dia tipe sprinter yang malah lemah pada tanjakan seperti ini. Obrolan mereka berujung pada percakapan yang mereka dengar saat masih didalam rombongan.

“Kau mendengarnya juga, sa ?”

“Denger apaan, bro ?”

“Kalau mereka semua mau menyusuri sisi pulau untuk ke checkpoint dekat pantai.”

“Oh, yang itu. Iya gue denger mereka pas ngomong gitu dan yang agak gak enakin sih pas mereka ngomong kalau yang gak ikut malah dibilang apatis atau apalah, kan harusnya…”

“Iya benar, mengesalkan sekali memang mereka itu. Bukankah itu malah membuat kita semakin jauh untuk mencapai target sampai ke finish di hari ke empat, mereka malah mengatakan orang lain apatis karena hal itu !”

Bapsa terkaget melihat Adnan yang bisa menjadi sewot seperti itu, padahal dia pikir Adnan adalah anak yang pendiam dan tidak bisa mengungkapkan perasaan seperti ini. Adnan sendiri pun kaget karena selama ini biasanya dia bisa menahan amarahnya dan tidak menumpahkannya ke orang lain.

Seseorang tiba-tiba menanggapi percakapan mereka. “Yah, orang kota sini semua emang udah keliatan kok kalau gitu orangnya. “

Adnan dan Bapsa terkaget hingga mengerem dan mengecot kesamping mendadak karenanya hingga Adnan hampir jatuh, kehilangan keseimbangannya dari sepeda namun Bapsa menahan roda belakangnya dengan keras sehingga Adnan dapat kembali seimbang.

Dia kan orang yang dari Kota Pakuan yang sebelumnya berada dibelakangku tiba-tiba. Ucap Adnan didalam hati.

“L-Lu dari kapan ada dibelakang kita ?” Tanya Bapsa bercampur sewot.

Sorry yeh… Gue sebenernya udah ngejar lu pada pas kalian misah dari rombongan. Nah, pas lu lagi jelasan tipe pendaki sama tipe sprinter, gue udah dibelakang lu ngedengerin. Tapi, karena lu berdua kaya asyik banget ngobrol jadi gak enak gue motongnya juga. Jadi yah gitu dong.’

“Terus kamu ngapain ngejar kita juga ?”

“Lah, gak liat ini baju kita. Kan kita dari kota yang sama, masa gue gak ikut gabung.”

“Oh.” Tanggap Bapsa dan Adnan datar.

“Ayolah, ada apa dengan ekspreksi kalian berdua. Kalian harusnya senang ada orang yang dari Kota Pakuan juga kan ?” Ucap orang yang memakai baju bertuliskan nomor 25 besar dekat tulisan Pakuannya itu, sambil tersenyum bodoh didepan Adnan dan Bapsa. “Maaf juga yah udah ngagetin lu pada yah, nih sebagai permintaan maaf gue terima yah.”

Orang itu melemparkan kedua botol minumannya kepada Adnan dan Bapsa. kedua botol itu secara mengejutkan masihlah penuh seperti belum diminum setetes pun. Mereka berdua pun langsung meminumnya dengan lahap rasanya seperti seharian di gurun dan menemukan oasis secara tiba-tiba.

Thank you bro airnya. Lu kok bisa masih penuh gini sih airnya ? Oh iya nih kayaknya kita kurang sopan maen minum minuman aja padahal belum kenalan. Kenalin nama gue Bapsa dan yang didepan itu Adnan.”

“Wah gak apa-apa kok, woles aja. Gue emang punya stamina yang kata orang luar biasa, hahaha…Oh iya, nama gue Cikal, salam kenal juga yah Bapsa dan juga Adnan.”

Tidak lama mereka bertiga berhenti dipersimpangan untuk melihat peta dan juga mengembalikan botol minuman Cikal yang hampir habis isinya oleh Adnan dan Bapsa.

“Wah yang kiri ini arah yang dituju rombongan dibelakang yah ? Sebenernya sih gak ada salahnya ngajakin ke pantainya buat ngeliat pemandangan sisi pulau. Tapi, yah gitu ngajaknya aja gak enakin hati apalagi yang ngaku-ngaku nunjuk dirinya ketua regu itu tuh. kata-katanya bener-bener dah.” Ungkap Cikal panjang.

Adnan dan bapsa mengiyakan hal tersebut.

“Siplah tinggal 500 meter lagi sampe checkpoint, sekarang biar gue aja yang narik kalian dah.”

“Tapi, jalan didepan kan jalurnya tanjakan semua, Cik.”

“Iya, apalagi lu belum minum sama sekali. Bisa pingsan lu narik kita berdua, Kal.”

“Kalian ini kalau manggil pilih satu aja, maunya Cik atau Kal. Tapi, tenang aja gue kuat kok. Gue yang dari Kabupaten Pakuan yang jalannya berbukit dan berlembah, udah biasa sama tanjakan kecil gini sih.”

Benar saja kata-kata Cikal, dia dapat menarik kami berdua  ditanjakan ini dengan kecepatan yang cukup cepat dibanding Adnan tadi. Mungkin ini alasannya kenapa dia yang sendiri dapat mengejar Adnan dan Bapsa saat dia tertinggal di rombongan.

Secara sekejap mereka sampai di checkpoint mereka yang pertama sebelum pertengahan hari menjelang. Mereka bertiga langsung beristirahat sebentar sambil mengelap keringat serta menyuplai perbekalan mereka kembali.

“Nah abis ini ada 3 jalur nih didepan, yang satu lewat jalur bis lagi yang jelas agak jauh, yang tengah ngikutin jalur samping kereta yang kalau dari jarak tempuh sih lebih pendek terus jalannya juga landai gak nanjak, kalau yang ujung kita masuk ke dalam kota. jadi mau lewat yang mana nih kita ?” tanya Bapsa kepada Adnan dan Cikal yang terus minum dan mengisi ulang minumannya.

“Menurut gue sih cepetan jalur bis kaya tadi, yah lu berdua tau sendiri gue tipe pendaki yang ada malah lebih cape lewat jalan landai gitu. Tapi, kalau mau masuk kedalem kota boleh juga tuh. Soalnya gue seumur-umur gak pernah kesini kalau bukan buat karyawisata, nah kan lumayan tuh jalan-jalan juga.”

“Tapi gue sendiri juga belum pernah kesini sendiri, paling sama keluarga kalau enggak yah sama kaya lu karyawisata juga. Butuh guide nih kalau mau…”

“Aku sering kok ke kota ini.”

“Eh, serius lu Nan ?”

“Lu beneran tau tempat-tempat asyik disini ? kalau beneran tau mah mantaplah.”

“Ya, dulu aku suka penasaran sama kota tetangga tuh kaya gimana jadi sering main kesini jalan-jalan gitu.”

“Sip, udah ditentuin sekarang kita lewat kota aja.” Tanggap Cikal penuh semangat, Bapsa pun setuju dengan semangat juga, hanya Adnan yang merasa sepertinya dia salah berkomentar.

Mereka bertiga pun bersiap-siap kembali untuk mengayuh sepedanya, namun sebelum itu Bapsa menahan Adnan dan Cikal yang mau melaju.

“Eh, tunggu dulu,” Bapsa menahan Adnan dan Cikall sebelum memulai mengayuh sepedanya, dia memberikan walkie talkie dari kantung belakang di baju sepedanya. “Ini buat lu pada, frekuensinya udah gue samain. Yah sebenernya gak perlu inian sih, tapi yah siapa tau kita kepisahkan jadi kita masih bisa kontek-kontekan. Tapi, gak usah kalian balikin juga gak masalah kok.”

Adnan mengambil walkie talkie itu duluan dari tangan Bapsa, “gak, pasti akan aku balikin walkie talkie ini. Dan, bener banget kalau ini barang berguna karena kita gak bisa nebak kalau kedepannya kita barengan terus. Makanya, aku katakan sekarang walau nanti kita kepisah-pisah atau ketinggalan, aku akan ngejar terus dan balikin ini walkie talkie setelah melewati garis finish ini kita bertiga.”

“Yoi, bener kata si Adnan. Gue juga bakal balikin inian jadi tungguin aja di garis finish, Sa.” Timpah Cikal sambil mengambil walkie talkie dari tangan Bapsa.

“Okelah kalau begitu, Yoklah kita berangkat sekarang !”

Cikal lalu langsung maju kedepan untuk menarik Adnan dan Bapsa sampai nanti di kota dimana dia akan bertukar dengan Adnan yang akan menjadi guide jalan-jalan di kota tersebut.

Tanpa lupa mengatur nafasnya, mereka bertiga terus mengobrol sepanjang perjalan. Hal tersebut membuat Adnan menjadi pribadi yang lebih terbuka dari sebelumnya, Cikal yang pintar menyesuaikan diri pun membuat pertemanan mereka bertiga yang masih singkat menjadi semakin erat.

Saat di dalam kota pun, Adnan tanpa sungkan menceritakan cerita memalukannya yang dahulu saat itu dia memasuki pusat perbelanjaan yang besar disana, setelah memutari tempat itu untuk melihat-lihat cukup lama dia malah langsung kehilangan arah dan tidak tahu jalan keluar, hingga akhirnya dia bertanya ke satpam untuk menunjukan jalan keluar dari pusat perbelanjaan tersebut, yang membuat satpamnya mengantarkan dia keluar dari sana.

Tawa Bapsa dan Cikal pun pecah mendengar hal tersebut, mereka berdua tidak menyangka kalau Adnan yang pendiam bisa melakuakn hal konyol bahkan sejauh itu. Adnan sebenarnya merasa malu ditertawai seperti itu, namun dia senang dapat membagi kisah hidupnya kepada orang lain.

“Kocak lu, Nan. Gue gak nyangka sampai gak bisa nafas gini.” Bapsa menarik nafasnya dalam-dalam agar menghentikan tawanya dan  memberikan paru-parunya waktu untuk bernafas dengan benar. “Oh iya, kita kan udah nih muterin kota dan gak nyangka banget tempat rekomendasinya Adnan juga ternyata asyik juga. Nah, jadi abis ini kita mau lewat mana ke checkpoint selanjutnya, kalau menurut gue sih lebih cepet lewat jalursamping rel kereta sih, gimana ?”

“Wah, kalau lebih cepet gue kaga tau juga dah. Kan itu deketnya keliatan di petanya doang, kalau menurut gue sih mending cari aman lewat jalur bis kaya tadi lagi kan kita gak tau juga kecelakaan kereta tadi juga efeknya sejauh mana.”

“Yah, lu mikirlah gak mungkin sejauh ini juga, Kal. Lagian jalur bis udah lebih jauh berkelok pula kalau dilurusin jalurnya makin jauh juga itu jalur.”

“Kan, gue cuma ngasih pendapat doang, kaga perlu ngegas jugalah.” Cikal mulai menaikan nada bicaranya terlihat amarah memenuhi raut wajahnya. “Kalau gitu gue ngikut suara terbanyak aja dah, jadi menurut lu gimana Nan, mending mana lewat jalur sebelah rel kereta atau jalur bis ?”

Matahari sebenarnya sudah tergelincir dari atas kepala Adnan, namun dia merasakan panasnya suasana disini. Dia tidak menyangka kalau pertemanan mereka yang singkat ini akan cepat terkena cekcok. Apalagi sekarang harus dia yang menentukan inti dari cekcok ini, dan dia pun sadar pilihan manapun yang dia pilih tidak akan mengakhiri suasana panas disana.

Adnan pun melihat mata Bapsa dan Cikal yang terlihat sangat serius tajam menyayat menunggu kata-kata jawaban pilihan Adnan, dia pun berusaha merangkai kata-katanya dengan baik.

“Hmmm… Yah aku kan sebenernya tipe pendaki yang malah kerasa lebih capek kalau dijalan lurus, tadi juga pas Cikal narik dijalan nanjak sebelumnya aku merhatiin gimana dia ganti gigi main rem dan lainnya. Biar aku bisa ngayuh sepeda ini lebih baik lagi dan mengasah kemampuanku bersepeda menanjak juga.

Tapi, menurutku bener kalau jalur di sisi rel kereta itu jauh lebih dekat dan jalur sedekat ini jelas gak bikin stamina tipe pendaki kaya aku juga capek. Jadi kalau disuruh milih menurutku mending lewat jalur di sisi rel kereta saja.”

Adnan melihat ekspresi wajah Bapsa dan Cikal, namun tidak ada satupun dari mereka yang terlihat puas maupun kesal, mereka hanya terdiam sesunyi malam. Kesunyian itu tidak berubah bahkan saat Adnan bergantian dengan Bapsa menarik rombongan mereka.

Mereka bertiga jadi mengayuh sepeda sambil terdiam, Adnan pun tidak berani berpendapat untuk memecahkan kesunyian ini. Sekarang mereka bertiga seperti layaknya orang-orang asing yang dirapatkan mulutnya yang hanya bertugas menarik rombongan mereka secara bergantian.

Adnan terdiam dibelakang rombongan itu sambil berpikir keras agar keheningan ini berakhir, padahal sebelumnya dia tidak pernah peduli bila terjadi suatu perpecahan yang terjadi didepannya. Hal itu membuat Adnan tidak sadar akan lubang besar yang dihindari Cikal dan Bapsa didepannya.

“Brukk !!!” Roda pipih hitam sepeda Adnan terselip lubang tersebut, badannya terpelanting pelan kedepan namun hal itu membuatnya terbaring sebentar diatas aspal hingga matanya memandang langit yang mulai meredup menunjukan sore telah menjelang. Sesaat setelahnya dia baru merasakan cairan merah hangat mengalir dari lutut kanan dan betis kirinya, perih dari luka disana pun mulai terasa.

Dia membangunkan punggungnya untuk melihat seberapa parah luka di kakinya, namun pemandangan menyedihkanlah yang dia lihat selanjutnya yang bahkan membuat luka kecil di kakinya menjadi tidak terasa sama sekali, luka lain menjalar dari pandangan matanya yang menjalar membuat luka menyakitkan di hatinya.

Adnan melihat Cikal dan Bapsa beranjak pergi mengayuh sepeda mereka meninggalkannya.

Bukanlah hal yang aneh kalau mereka berdua pergi, toh kalau mau mengejar checkpoint ketiga sebelum waktu bersepeda hari ini habis mereka memang tidak boleh berhenti mengayuh dan istirahat terlalu lama di checkpoint kedua, jadi hal yang mereka lakukan itu tidaklah salah. Karena, tujuan awal mengikuti ajang ini adalah mencapai garis finish di hari keempat atau lebih cepat, itulah yang dipikirkan Adnan.

Pertemuan mereka bertiga masihlah singkat, apalagi dengan Cikal dia masih belum lama ini datang dan bercakap dengan mereka. Bagi Adnan mereka berdua adalah 2 orang dari banyak orang yang dijumpainya yang bisa disebut teman. Tapi, mungkin hal itu hanya dirasakan Adnan saja namun mereka tidak.

Adnan dengan kepayahan menarik sepedanya ke sisi sebuah toko kelontong yang terlihat tutup dengan kursi kayu memanjang berada didepannya. Dia lalu bersandar di pintu besi toko itu melihat jalan aspal sisi rel kereta menuju checkpoint yang tidaklah jauh, dan bertanya kepada dirinya akan tujuannya mengikuti ajang ini.

“Bukankah, lebih baik kamu mengikuti pelatihan saja sehingga dirimu lebih mudah untuk mendapat pekerjaan nanti, Nan ?

Bukankah, lebih baik kamu langsung mencari pekerjaan melalui jobfair saja kalau kamu tidak ada niatan untuk melanjutkan kuliah, NAN ?

BUKANKAH, BANYAK HAL YANG LEBIH BAIK DILUAR SANA YANG BISA KAMU LAKUKAN DARIPADA SEPEDAHAN SEPERTI INI, NAN ?”

Jalan disana sangatlah sepi seperti sudah dikondisikan oleh panitia agar tidak mengganggu berlangsungnya ajang ini, sehingga teriakan Adnan tadi hanya tersapu angin kesunyian disana.

Adnan melihat sepedanya yang terlihat tidak patah ataupun bengkok, hanya saja rantainya lepas dari gearnya hingga terputus yang membuat sepedanya tidak mungkin lagi untuk dikayuh, selain itu luka dikakinya akan melebar bila dia paksa mengayuh kembali.

Dia lalu melangkah ke kursi kayu panjang disana untuk duduk, mengistirahatkan kakinya.

“Dukkk !!!” Adnan merasakan ada yang menonjol di saku belakang bajunya yang menahan duduknya. Itu adalah walkie talkie pemberian Bapsa.

Walkie talkie itu memang digunakan bila mereka terpencar-pencar layaknya keadaan saat ini, namun Adnan rasa dengan keadaan terpecah belah seperti ini walkie talkienya terasa menjadi tidak berguna untuk digunakan. Adnan menjadi bertanya-tanya alasan Bapsa memberikan benda ini kepada orang asing yang baru dia  temui sebentar seperti mereka.

Dia melanjutkan duduknya memandangi dengan pandangan kosong benda hitam berantena ditangannya cukup lama hingga tidak terasa langit sudah berubah jingga, menunjukan hari yang semakin sore.

“NAN !!!” Terdengar sayup teriakan dari jauh dengan suara familiar masuk ke telinga Adnan, namun ia mengabaikannya mengira itu hanya delusi semata.

” Woyyy… ADNAN !!!”

Suara teriakan itu terdengar dari kejauhan dengan arah berbeda dari teriakan sebelumnya, namun pemilik suaranya pun berbeda walaupun sama-sama familiar. Adnan pun menyadari bahwa suara itu nyata.

Itu adalah suara Cikal. Bukan hanya itu, suara sebelumnya adalah suara Bapsa.

Mereka datang dari arah yang berlawanan, berbeda dengan yang Adnan ingat saat mereka berdua melaju kearah checkpoint selanjutnya. Tapi, hal itu sudah tidak masalah lagi karena mereka kembali. Terlihat ada orang mengikuti mereka berdua menaiki sepeda motor dengan kotak besar dibagian belakang motornya.

Adnan pun lalu membalas panggilan mereka dengan ayunan tangannya keatas, wajahnya pun tak bisa menyembunyikan kegembiraan bertemu mereka kembali. Mereka yang Adnan anggap sebagai teman.

Saat mereka menghampiri Adnan, orang yang dibelakang Bapsa mengeluarkan kotak P3K dari belakang motornya sedangkan yang dibelakang Cikal mengeluarkan rantai sepeda serta peralatan mekanik lainnya, saat melihatnya dari dekat baru Adnan sadar kalau mereka yang mengikuti Bapsa dan Cikal adalah bagian dari panitia.

“Syukur yeh akhirnya lu udah sadar, Nan” ucap Cikal penuh kelegaan.

“Sadar ?”

“Wah, lu seriusan gak nyadar tadi lu…”

Sebelum Bapsa menyelesaikan kata-katanya, Adnan langsung nyamber memotong. “Memangnya aku gak sadar akan apa ?”

Sebelum mereka mulai menjelaskan, panitia yang membawa kotak P3K memeriksa keadaan Adnan, orang itu memakai senter kecil lalu menayunkannya didepan mata Adnan. Setelahnya baru menutup luka Adnan dengan perban.

“Kayaknya gak ada apa-apa selain luka di kakinya, nanti kalau kerasa ada yang aneh di bagian tubuh mana dateng aja ke posko kesehatan di checkpoint nanti.” Kata panitia pagi yang segera pergi setelah memasukan kotak P3Knya ke kotak dibelakang motornya, begitu pun panitia yang satunya lagi tanpa sadar dia sudah selesai mengganti rantai sepeda Adnan yang putus.

Lalu, Adnan melanjutkan rasa penasarannya yang tadi tertahan karena kedua panitia tadi, “jadi, apa yang aku gak sadar ?”

“Yok, kita jelasin sambil jalan aja.”

“Yoi, nanti keburu gelap kalau ngejelasinnya disini. Bisa disuruh balik dah kite ke checkpoint kedua nanti.”

Adnan pun mengiyakan pendapat mereka berdua, walaupun dia merasa aneh melihat Bapsa dan Cikal yang tiba-tiba sudah berbaikan sekarang. Seperti ada waktu yang menghilang darinya.

Bapsa mengayuh duluan menjadi penarik didepan barisan lalu Cikal mengikuti dilanjut oleh Adnan paling belakang mengayuh mengikuti ritme kayuhan mereka berdua. Lalu dia pun tak bisa menahan rasa penasaran. “Jadi ?”

Cikal pun tertawa melihat Adnan yang begitu penasaran, “hahaha… Beneran gak sadar yah lu. Okelah gue jelasin, tapi gue tanya dulu nih yang lu inget terakhir apaan ?”

“Aku ingat ngeliat kalian berdua melaju pergi, lal…”

Bapsa memotong, “berarti lu inget pas kita usaha ngebangunin lu, dong ?”

“E-Enggak.”

“Si Cikal parah masa lu digampar-gamparin gitu, Bro.”

“Heheh… Yah soalnya mana bangun orang kalau cuma digoyang-goyangin gitu badannya.”

“Sebentar, maksudnya ngebangunin itu memangnya aku tidak sadarkan diri gitu ?”

“IYA” serentak Bapsa dan Cikal menjawab.

Cikal lalu menyambung, “Lu tuh pas nabrak lobang langsung pingsan pas jatoh, nah kita kan panik terus berusaha nyadarin lu dah. Sampe kita siram air muka lu tapi gak sadar ju…”

“Kita, itu mah lu aja kali yang nyiram.”

“Hahaha… Yah jadi gitu, terus karena lu gak bereaksi apa-apa yaudah kita nyari panitia terdekat yang ternyata jauh banget di checkpoint selanjutnya. Yah, terus kita mencar, gue balik lagi liat keadaan lu dah, dan lu masih gak sadar juga. Makanya aneh pas lu bilang lu liat kita berdua pergi bareng, tapi gak tau pas gue balik lagi.”

“Bisa jadi aku sadar dikit terus pingsan lagi, kan ?”

“Yah, bener sih bisa jadi.” Respon Cikal.

“Nah, habis itu gue ngehubungin Cikal dah lewat HT. Nanya didepan sana selain ada petugas medis, ada mekanik juga gak.

Eh, ternyata adanya di belakang kita. Yaudah, akhirnya gue balik masuk kota nyari panitia yang bawa peralatan mekanik dimana. Gue ninggalin lu lagi, soalnya mikir kan lu bawa HT ini kalau lu sadar pasti lu ngehubungin.”

“Bentar, HT itu apaan yah ?”

Walkie-Talkie, Nan. Kan nama lainnya Handy Talkie jadi HT.”

“Tapi, si Cikal nekat juga ngomongnya. Masa dia bilang, kalau gak ada panitia yang bisa betulin sepeda lu, dia bakal ngegendong lu sama sepeda ke checkpoint selanjutnya. Makanya, langsung gue suruh jangan konyol terus nyari panitia yang bawa suplai mekanik di kota.”

“Yah gimana, masa gue tinggalin dia kering diatas jalan sendirian aja. Hahaha…”

“Eh, tapi sorry nih ngomong-ngomong HTnya belum aku nyalain. Makanya, aku gak ngabarin apa-apa. Lagian aku ngiranya juga aku cuma jatoh doang, pantes aja pas aku ngeliat kalian pergi tiba-tiba pas bangunin badan kalian hilang gak tau kemana.”

“Wah, pantes aja yah. Gue berisik di HT cuma si Bapsa yang ngerespon, hahaha…”

“Bentar, yang terakhir aku ingat juga kalian berdua bukannya berantem ?”

“BERANTEM ?” Mereka berdua merespon serentak.

Bapsa lalu melepas tawa, “hahaha… Kita bertiga kan temen, masa cuma gara-gara cekcok dikit doang kita berantem.”

“Yoi.”

Adnan bahagia mendengarnya, ternyata bukan hanya dia yang merasa kalau mereka bertiga berteman.

“Nan, nyalain HT lu jangan lupa. Tenang itu Batrenya awet, bisa tahan seminggu.”

Adnan langsung buru-buru menyalakan HT dari saku belakang sepedanya.

Mereka bertiga berlanjut mengayuh sepedanya diatas aspal hitam dilatari oleh langit yang makin menjingga oleh matahari yang mulai terbenam. Kayuhan mereka pun tidak hanya diisi oleh suara rantai yang terputar gear, namun oleh perbincangan 3 sahabat itu dengan mereka yang saling menukar tawa dan kesenangan menuju checkpoint selanjutnya.

~Akhir Bagian Awal~

Lanjut bagian selanjutnya ~>

Akhirnya cerita yang dari 7 Desember lalu udah beres bisa gue share juga gara-gara nunggu sisa cerita tengah sama akhirnya beres. Ini ceritanya terinspirasi pas gue lagi sepedahan gue ngeliat jauh ke arah horizon terus kepikiran aja XD

Oke sekian aja cerita pendek karena kurang dari 5000 kata tapi panjang karena bersambung jadinya diatas 5000 kata, hahaha…. Terima kasih banyak sekali buat yang sudah baca cerita buatan gue ini. Sampai bertemu di Postingan blog gue selanjutnya XDb

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s