Cerita Pendek Horror “Mabuk”

Yah untuk sesekali gue mau berbagi cerita pendek hasil karangan gue sendiri, oleh karena itu gue posting ceritanya kali ini.

Genre yang gue angkat kali ini adalah horror yang kebetulan gue buat pas malam minggu kemarin, karena ada segelintir orang yang bilang malam minggu itu malam yang lebih horror daripada malam jum’at XD jadi, silahkan nikmati ceritanya.

Mabuk

“Lin, udah Lin jangan minum lagi.” Ucap seorang pria paruh baya dengan rambut klimis dengan paras elegan kepada rekan kerjanya yang memakai kemeja kerja dengan berantakan seperti rambut panjangnya sekarang, wajahnya yang putih nan menawan pun terlihat kucel dengan mulut yang bau alkohol.

“Ayolah Kodi, tungguin gue tinggal sebotol lagi nih.”

“Ah lo, dari tadi sebotol lagi…sebotol lagi… Yaudah gue pulang duluan.” Ujar Kodi ngeloyor pergi meninggalkan temannya, Lina dari bar tempat kantornya berpesta malam tadi

“Woy Kodi, mau kemana malam masih panjang nih, hahaha…”

Lina sudah tenggelam dalam cairan alkohol nan memabukan, memang sudah jadi kebiasaan dia saat proyeknya berhasil dia akan mengajak berpesta rekan sekantornya dan pulang terakhir, karena dia pantang pulang sebelum mabuk.

~H~

Subuh itu, Lina terbangun di apartemennya setelah teler semalaman. Dia benar-benar lupa kejadian setelah Kodi pulang, walau dia selalu sampai di apartemennya dengan selamat namun kadang hal itu membuatnya dalam masalah, seperti saat dia entah bagaimana mematahkan kepala macan kumbang di Polsek lalu membawanya pulang.

Tapi, hal yang dia lakukan sekarang sudah kelewatan…

Dia menyadari kalau saat dia bangun yang dia peluk bukanlah guling putih nan empuk yang biasa dia peluk saat tidur, melainkan sebuah papan kayu yang biasa dipakai sebelum batu nisan terpasang yang masih berlumuran tanah merah.

Tentu dia kaget dan melihat sepatu hak serta kemeja yang dia pakai berlumur lumpur, bahkan kasurnya pun penuh lumpur. Dia benar-benar tidak ingat dimana dia mencabut papan kayu yang tulisan namanya seperti dikorek hinga terhapus tersebut dan tidak mau benda tersebut berlama-lama di apartemennya.

Dia mengendap-ngendap lewat tangga darurat apartemennya yang jarang dilalui penghuni lainnya karena adanya lift disana, lalu membuang papan tersebut di tempat sampah utama apartemen itu di lantai 1.

Dia sebenarnya tidak percaya mitos seperti hantu atau hal lainnya, malah dia lebih takut ada isu berseliweran karena papan nisan yang dibawanya. Oleh, karena itu dia membuangnya dengan cepat.

Dia pun langsung kembali kekamarnya.

Baru sedetik dia menutup pintu ruangan apartemennya, “TOK TOK TOK” pintu diketuk secara liar dari luar. Tapi, ketika Lina membukanya…

Tidak ada siapapun disana hanya papan kayu nisan yang tadi dia buang ke tempat sampah di lantai 1. Dia pun kaget melihat benda tersebut kembali ke depan ruangannya.

“Siapa ?” Lina berteriak sambil melihat sekitar ingin mengetahui siapa gerangan yang mengembalikan itu kedepan ruangannya, namun tidak ada siapapun disana hanya ada papan nisan tersebut dan pintunya yang berbercak tanah layaknya orang yang tadi mengetuk itu tanahnya berlumur lumpur.

Lina pun berusaha tenang, lalu kembali kelantai 1 dengan cara yang sama dan membuangnya ketempat sampah di bawah, namun sekarang dia lebih berhati-hati memastikan tidak ada siapapun yang melihatnya karena mungkin saja yang tadi adalah tetangganya yang diam-diam mengembalikannya.

Dia pun menghela nafasnya tenang dan berusaha kembali kekamarnya melalui tangga darurat yang sama saat…

Sebuah tangan pucat berbercak tanah nan dingin seperti es menarik kakinya hingga dia terjatuh dari tangga tersebut. Dia pun menengok ke sekitar namun tidak ada tangan itu ataupun seseorang disekitarnya, Lina pun lalu menghiraukannya menganggap dia hanya terperosok jatuh hingga dia melihat ada memar berbentuk telapak tangan di betisnya.

Tapi pagi itu semua berjalan normal seperti biasanya, selain dia harus membersihkan ruangan apartemennya yang dipenuhi lumpur sisanya semua berjalan normal seperti biasanya bahkan dia mengendari mobilnya sama bahayanya seperti biasa pagi itu. Dia pun tak bisa menahan untuk menceritakan pengalamannya tadi ke rekan kerja yang diam-diam dia sukai, Kodi.

Tapi, Kodi malah mentertawai cerita Lina, “hahaha… Lin Lin, lo jaman modern gini masih aja percaya sama yang begituan.”

“Gue juga awalnya gak mau percaya, Di. Tapi, liat nih di kaki gue ada bekasnya kan !” Cerocos Lina sambil menunjukan memar yang berbentuk seperti telapak tangan di betisnya.

“Lin, tapi kan tadi lo jatoh di tangga jadi wajarlah kalau ada memar, kan ? Nah, sekarang masalah bentuknya gimana kan bisa aja kebetulan.”

“Ta―Tapi…”

“Udah deh Lin, mendingan sekarang lo ambil aja deh jatah laptop lo di gudang. Udah berdebu tuh, gak lo ambil-ambil gara-gara ditinggal lo proyekan di luar kemarin.”

“Oke deh, Di.”

Lina pun segera menuju ke gudang yang berada di ujung belakang gedung kantornya tersebut. Tempat tersebut begitu gelap dan sepi, dia merasakan hawa dingin yang membuat lubang pori-porinya menegang hingga bulu romannya berdiri karenanya. Dia pun berusaha untuk tidak takut ketika…

Dia melihat sesosok bayangan hitam berada didepan jendela ujung gudang tersebut.

“Siapa disana ?” tanya Lina sambil menyalakan saklar lampu pada dinding gudang tersebut, namun saat lampu menyala tidak ada siapapun disana selain dirinya.

Lina pun jadi bergegas segera mencari laptop jatah bonus dari kantornya tersebut, agar dia segera pergi dari tempat yang dia rasa mencekam tersebut. Tapi, ketika menemukannya laptop tersebut bukan dipenuhi debu namun sebuah guratan-guratan dari bercak tanah yang bertuliskan “KEMBALIKAN”.

Sontak dia kaget dan mundur keluar dari gudang tersebut ketika lampu gudang tiba-tiba saja mati, dan sesosok wanita serba putih pucat berlumur lumpur dan darah dengan rambut panjang menjuntai berada tepat didepan pintu gudangnya.

Dia pun langsung berlari sambil berteriak histeris, namun saat melihat kebelakang bukannya menghilang sosok tersebut malah mengejarnya disepanjang lorong. Lina berlari sekuat tenaga berusaha agar sosok tersebut tidak dapat mencapainya sama sekali, hingga…

“BRUKKK!” Lina menabrak sesuatu, sesuatu yang dia tabrak itu menangkapnya dengan kedua tangan. Takut itu adalah mahkluk yang mengejarnya tadi dia pun berusaha melepaskan dirinya, namun tangan yang menangkapnya itu menengkram terlalu kuat.

“Lin…Lin… Hey, lo kenapa ?” Suara itu menyadarkan Lina, kalau bukan sesuatu yang aneh yang menangkapnya namun Kodi.

“Ta―Tadi gue liat cewe, Di. Dia pucet putih pakai pakaian serba putih tapi serem banget, dianya.” Lina menjelaskan dengan penuh ketakutan, tubuhnya merinding ketakutan.

“Yaudah Lin, lo mending balik ke ruangan terus minum kopi deh buat nenangin pikiran lo sekarang, biar gue yang ambilin laptop lo.” Kodi melepaskan tangannya dari Lina.

Lina lalu meraih kain di kemeja Kodi lalu menggelengkan kepalanya, menahannya untuk melakukan hal yang dia anggap nekat. Tapi, Kodi malah tersenyum, “Tenang aja, Lin. Percaya sama gue.”

Lina pun kembali keruangannya dan mengikuti saran Kodi untuk minum kopi untuk menenangkan dirinya, lalu dia melanjutkan pekerjaannya yang tertinggal karena proyekannya kemarin hingga berkas-berkas pekerjaan bertumpuk di mejanya.

Di tengah pengerjaannya dia baru sadar ada kesalahan pada berkas tersebut, Lina biasanya mengkoreksi dengan menstabilonya dan memberi koreksi dibalik kertasnya lalu menunjukannya kepada bawahannya. Tapi, dia tidak menemukan stabilo serta penanya di mejanya bahkan tempat perkakas tulisnya sama sekali tidak ada disana.

Dia lalu mengingatnya kembali sebelum dia memulai proyek dia memasukan semuanya ke laci, mungkin hari ini dia memang terlalu panik hingga melupakan semuanya seperti ini. Dia pun langsung membuka lacinya untuk mengambil alat tulisnya. Tapi…

Laci itu malah dipenuhi guratan-guratan bercak tanah bercampur darah yang bertuliskan “KEMBALIKAN” sama seperti laptopnya yang tadi dia lihat digudang. Tentu saja dia langsung berteriak histeris membuat semua rekan kerjanya memperhatikan apa gerangan yang terjadi padanya.

Kodi yang baru saja kembali dari gudang langsung menghampiri Lina dan menenangkannya.

“Lin, lo hari ini kenapa sih ?”

“I―Itu di laci.” Tunjuk Lina kearah laci yang setengah terbuka.

Kodi lalu memeriksa laci tersebut, “lacinya kenapa ? lo liat baik-baik cuma ada peralatan tulis lo disana.”

Lina pun kembali melihat lacinya tersebut dan benar kalau tidak ada apapun disana, terlebih lagi laptop yang dibawa oleh Kodi dari gudang pun bersih tidak ada apapun disana. Semua yang dilihatnya tadi tidak ada disana seperti semuanya telah dibersihkan oleh seseorang atau mungkin hanya halusinasi di benaknya saja.

“Lin gini, tadi pas gue liat lo histeris dari gudang gue searching artikel tentang hantu atau apapun itu dan gue nemu kalau sebenernya kalau kita lihat hantu itu semua hanya halusinasi yang dibuat alam bawah sadar kita untuk menutupi sebuah kesalahan yang kita buat, atau trauma yang pernah kita derita.

Tapi, yang pasti gue baca kalau penyebab salah satu halusinasinya itu karena kebiasaan sering mabuk. Itu juga yang nyebabin kenapa kalau orang ngerasa lihat hantu mereka pasti berbentuk figur manusia, gak berbentuk sesuatu yang lebih abstrak.”

“I―Iya, tapi…”

“Gak ada tapi-tapi, lo sekarang hanya perlu tenang dan relax aja yah. Dan, yang pasti tolong lo berhenti kebiasaan minum lo itu juga yah, demi gue.”

Lina tersenyum bahagia mendengarnya, pipinya memerah karena kata-katanya tadi. “Iya Di, makasih udah semangatin gue.”

“Sekarang kalau ada apa-apa di apartemen lo silahkan hubungi gue aja kan tempat tinggal kita juga gak terlalu jauh.”

Lina menjadi tenang mendengarnya dan benar setelah dia mengatakan hal itu tidak ada hal yang terjadi selama jam kerjanya berlangsung, sehingga dia menyimpulkan kalau pengalaman gaibnya selama ini terjadi karena dia merasa bersalah sudah mencabut papan nisan yang dia ambil kemarin malam.

Jam kerjanya pun berakhir, Lina menuju ke basement tempat kerjanya untuk mengambil mobil yang ia parkir disana. Ketika ia masuk kedalam mobilnya.

Dia terkaget melihat sesosok wanita yang sama yang ia lihat di gudang tadi pagi berada dikursi belakang mobilnya.

“Ayolah Lin, itu semua cuma halusinasi.” Lina mensugesti dirinya sambil pelan-pelan melihat kursi belakang mobilnya dan benar saja tidak ada apapun disana.

Lina lalu melaju mobilnya dari tempat tersebut menuju apartemennya, namun sepanjang perjalanan setiap dia melihat pohon ataupun celah diantara 2 bangunan wanita berambut panjang menggantung dengan pakaian serba putih pucat berbercak tanah dan darah selalu ada disana.

DIa langsung melaju mobilnya kencang dan tergesa-gesa sambil mengulangi kata-kata, “Semua itu gak ada, semua itu cuma halusinasi !”

Saat Lina sudah tenang karena sebentar lagi sampai apartemennya “BRAKKK !” Sesosok wanita serba putih pucat berlumuran lumpur dan darah jatuh diatas kap mobilnya, sebelum Lina sempat bereaksi wanita itu menghilang namun mesin mobilnya malah mati. Yang terburuk adalah mobil itu berhenti di atas rel kereta.

Lampu kereta terlihat dari jauh menuju arah Lina, dia pun panik dan berusaha menyalakan mobilnya namun hasilnya nihil. Saat dia berusaha membuka pintu mobilnya, tiba-tiba saja pintu itu terkunci sendiri. Dia pun tak habis pikir lalu membuka jendela mobilnya berusaha keluar dari sana, namun ketika setengah badannya sudah keluar…

Sebuah tangan putih pucat sedingin es menahannya dari dalam mobil, Lina tidak berani melihat sosok pemilik tangan yang ada di dalam mobilnya tersebut. Dia pun memaksa dengan sekuat tenaga dengan menendang tangan tersebut dengan haknya untuk keluar, karena kereta sudah semakin dekat dengan mobilnya.

“LU TUH GAK NYATA, LU ITU CUMA BENTUK HALUSINASI DOANG, LU GAK NYATA !!!” Teriak Lina menjerit-jerit berusaha agar pikirannya tersugesti bahwa yang menahannya itu tidak nyata.

“BRAKKK !!!” Kereta itu pun menabrak mobil milik Lina hingga hancur berantakan, menimbulkan ledakan dari tangki bensinnya yang tentu membuat kehebohan dari warga sekitar.

Beruntung bagi Lina disaat-saat terakhir dia selamat dari mobilnya itu, dia pun menghindari orang-orang yang ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dan melesat langsung menuju apartemennya.

Dia pun langsung merasa tenang dan menghela nafasnya ketika sudah memasuki apartemennya yang gelap saat itu. Tapi, tiba-tiba lampu apartemennya menyala sendiri lalu meredup layaknya lampu remang-remang.

Pintu dibelakang Lina menutup dan mengunci sendiri.

Dia pun panik dan berusaha mendobrak pintu tersebut, namun tiada hasil. Dia lalu memiliki pemikiran bodoh dengan keluar lewat jendela toh kalau jatuh dari 2 lantai tidak akan membuatmu mati pikirnya.

Tapi betapa kagetnya dia ketika melihat sebuah papan kayu tertancap di ruang tengahnya, papan tersebut adalah papan nisan yang dia tentu sudah familiar karena sudah “diganggu” oleh papan tersebut beberapa waktu belakangan ini.

Lampunya menyala dan mati secara liar, seluruh perabotannya bergetar hebat layaknya seseorang mengguncangnya hingga peralatan kaca seperti gelas dan piring pecah karenannya. Dari ubinnya yang sekarang sudah berubah jadi tanah merah, keluar tangan-tangan pucat berbercak tanah menarik kaki Lina.

Lina pun jongkok dan menutup mata serta telinganya dengan tangan. Tangan-tangan pucat nan dingin itu pun menggerayangi tubuh Kodi menariknya masuk kedalam tanah merah dibawahnya.

“LU ITU GAK NYATA, HANTU ITU GAK ADA ITU SEMUA HALUSINASI MAKANYA SEMUA HANTU BENTUKNYA ORANG !!!” Lina teriak histeris dan mengulang kata-kata itu terus menerus.

Lina semakin masuk ditarik kedalam tanah merah dibawahnya oleh tangan-tangan itu, keadaan disekitarnya pun semakin liar dengan lemari jatuh dan meja yang terlempar terbalik, saat itulah dia berteriak sekeras-kerasnya bersamaan dengan itu lampu yang menyala-mati liar tadi pecah lalu mati.

Keadaan tiba-tiba terasa tenang, Lina pun memberanikan diri membuka matanya dan melihat sekitar yang semuanya terlihat normal. Lampu menyala dengan terang seperti biasa, ubinnya bukan tanah, tak ada perabotannya yang rusak ataupun pecah. Papan yang tadi menancap ditengah ubinnya pun tidak ada.

Ternyata benar itu semua hanya ilusi yang dibuat oleh rasa takut saja, pikir Lina.

“TOK TOK TOK” pintu diketuk secara liar dari luar, mengagetkan Lina yang mulai tenang.

Dia pun berhati-hati melihat dari lubang pintunya siapa tamu yang mendatanginya tersebut, atau malah seperti malam lalu yang mengetuknya secara gaib hanya sebuah papan kayu saja. Beruntung, saat melihatnya orang tersebut adalah Kodi dengan wajah khawatir.

Lina membuka pintunya, Kodi langsung menyerbunya dengan pertanyaan. ” Lin, lo gak apa-apa kan ? Gue denger katanya ada ribut-ribut kecelakaan kereta dari deket apartemen lo.”

“Udah gak apa-apa sekarang kok, Di. Ceritanya panjang.”

” Oke kalau gitu silahkan tuan putri mandi dan gue akan masakin sesuatu buat lu, buat temen cerita nanti.”

“Wah terima kasih banyak, Di.”

Seperti yang disuruh Kodi, Lina pun dengan perasaan lega ke kamar mandi untuk mandi namun ketika itu…

“KRIIING…KRIIING…KRIIING !!!”

Lina mau menyuruh agar Kodi mengangkat saja teleponnya, namun dia baru saja membasuh wajahnya dengan sabun sehingga untuk berbicara agak sulit sehingga membuat mesin penjawab telepon aktif dan mengagetkan Lina saat mendengar pesan di dalamnya.

“Lin, gue denger katanya ada ribut-ribut kecelakaan kereta dari deket apartemen lo. Tapi, lonya gak apa-apa kan ?” Ucap suara dari arah mesin telepon yang tak lain adalah Kodi.

Saat itu Lina menyadari kalau Kodi yang ada di dapurnya bukanlah dia, namun semua terlambat ketika tangan pucat dengan bercak tanah menariknya kebelakang….

Go-Go-Ghosto~TAMAT ?~

Jujur ini cerita horror pertama gue, jadi gimana cukup kentangkah ceritanya ? XD

Yah kalau suka boleh kok dishare, komentar, atau di like Hehehe…

Kayaknya sekian dulu postingan blog buat ngisi malem minggu ini, sampe jumpa lagi di postingan blog selanjutnya XDb

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s