Mentari Mimpi

Mentari mimpiPernahkah anda mencubit bahkan menampar pipi anda sendiri untuk membuktikan yang anda lakukan sekarang bukanlah mimpi ?

Pada dasarnya hal itu tidak efektif, karena . . .

~@~

Entah bagaimana tiba-tiba saja aku berada ditempat ini. Tempat ini cukup aneh, dari dalam tempat ini seperti bangunan bertingkat dengan eskalator dimana-mana layaknya sebuah mall. Akan tetapi, tidak ada eskalator menuju kelantai dasar kecuali sebuah perosotan raksasa dari lantai teratas yang melewati luar gedung lalu berputar menuju kebawah sepertinya dari lantai 4. Ada juga elevator yang menuju kebawah dan keatas, namun selalu penuh sesak dengan orang-orang.

Disini ramai dengan anak muda mau laki-laki atau pun perempuan, ada yang terlihat bercakap-cakap dan ada juga yang ngampar dan terlihat belajar bersama dilantai dasar.

Ngomong-ngomong aku sedang dilantai 2 atau lantai 1 terserah ini versi bangunan mana, intinya aku berada 1 lantai diatas lantai dasar. Alasan aku mengetahui detil gedung ini karena aku mencari cara menuju kebawah dan berjalan kesana kemari mencari cara turun.

Tapi, tiba-tiba seperti ada informasi masuk kedalam kepalaku. Dan aku menyadari ini adalah kampusku.

Bagaimana mungkin aku lupa ?

Aku pun melanjutkan niat awalku untuk turun, namun daripada naik kelantai 4 dan turun lewat perosotan atau memaksa naik elevator penuh, aku malahan mencari elevator yang kosong.

Dan ketemu.

Tapi, elevator itu turun langsung ketengah lanta dasar dan jelas akan membuat perhatian sekali kalau aku turun lewat eskalator naik ditengah lantai dasar dimana banyak orang nongkrong dibawah.

Tanpa berpikir panjang akupun turun dengan kedua kakiku menempeli 2 sisiĀ  eskalatornya membuat eskalator itu layaknya seluncur menuju kebawah. Dan jelas karena hal tersebut semua orang melihatku dan kagum dengan caraku seperti itu. Hingga seseorang menghampiriku.

Dia perempuan.

Dia siapa apa aku mengenalnya ? atau mungkinkah dia MaBa(Mahasiswa Baru) ?

“Wah, tadi asyik banget yah turunnya gitu, aku bener-bener gak kepikiran bisa turun dengan cara kaya gitu.” Ucap seorang perempuan berkulit putih didepanku, yang memakai kaos putih dengan tulisan yang samar tertutup, dia memakai jeans hitam yang sama seperti teman-teman perempuan dibelakangnya yang masih terlihat kagum dan tertawa kecil di belakang. Akan tetapi perempuan yang sedang berbicara denganku terlihat berbeda dengan yang lain dia memakai pengikat rambut dan mengikat rambutnya kuncir satu dan entah kenapa dia terlihat cantik sekali.

“O-ooh enggak juga, ini tadi sih mikirnya daripada cape-cape harus kelantai 4 cuma buat turun makanya begitu.”

“Hmmm gitu. Oh iya sorry, kenali namaku…”

Waktu langsung terasa terpotong lalu mengisi kembali. Aku sudah berada didepan gedung kampusku tadi yang berbentuk kotak persegi panjang tinggi menjulang seperti kubus. Wajahku masih berseri-seri mengingat diajak kenalan oleh sekumpulan perempuan yang jarang sekali terjadi diumurku yang segini.

Aku berjalan terus menuju ke gedung kumuh yang langsung aku masuki, ternyata didalmnya bersih. Terdapat jajaran kelas disana yang terlihat dari luar karena dindingnya terbuat dari kaca. Aku masuki kelas yang ketiga dari tempatku masuk.

Tanpa sadar kelas itu sudah habis dan saat berjalan keluar gedung perempuan dengan rambut dikuncir tadi menungguku disana.

Aku pun menyapanya, “eh…”

Waktu kembali terpotong dan mengisi kembali. Aku tengah mengobrol dengannya sambil berjalan dijalan besar beraspal. Dan disana aku mengetahui karakternya yang ceria dan enerjik, tapi kadang terlihat seperti anak-anak mungkin karena badannya yang lebih kecil dariku.

Tiba-tiba dia menarik tanganku menuju gang kecil disana. “Kita pulangnya bukannya mau kearah sini yah ?”

“Oh iya yah, sorry aku kenapa jadi lupa gini hehehe…”

Saat dia mau melepas tangannya entah kenapa aku malah memegang lebih erat tangannya. Dan dia terlihat tidak masalah dengan hal itu. Apa yang terjadi sebenarnya kenapa aku berani melakukan hal ini ke perempuan yang bahkan aku baru mengenalnya hari ini.

Kami pun masih berjalan menyusuri gang sambil berbincang diselingi canda-candaan garing yang biasa kulakukan. Tapi dia tertawa oleh hal itu.

“Wah ditutup.” Kata perempuan itu sambil menunjuk sebuah gerbang menuju gang lain. Dia terlihat berpikir lalu berucap “oke Tri tunggu sebentar yah.”

Dia lalu melepas tanganku dan berlari menuju dinding disebelah kiri gang lalu melompat ditiang sebelah kirinya hingga dia melewati gerbang tadi dan membukanya dari dalam. Aku yang melihatnya berdecak kagum melihat aksinya tadi.

“Ta-tadi kok bisa gitu.”

“Ah, biasa itu mah. Masih hebatan kamu yang beraksi dieskalator kampus.”

“Itu malah yang lebih biasa.”

Kami lanjut berjalan lagi sambil mengobrol kembali. Hingga akhirnya kami sampai didepan rumah dengan pintu dengan 2 daun pintu, dan satu pintu samping yang terlihat disana. Cat dinding utamanya berwarna kehijauan. Tapi untuk pintu sampingnya cat dindingnya masih berwarna semen.

Kami masuk lewat pintu samping, dimana banyak orang didalam.

Mereka adalah teman-teman kampusku. Tapi bagaimana bisa ? Bahkan aku baru saja mengenal perempuan ini. Selain teman-teman kampusku disana juga ada satu orang yang tidak aku kenal, yang langsung dipanggil “kakak” oleh perempuan itu. Oh itu adalah kakaknya.

Waktu tiba-tiba saja memotong kembali, dan sekarang aku sedang duduk-duduk bersama teman teman kampusku ditempat biasa kami berkumpul. Didepan lambang bertuliskan kampus kami yang terdapat tangga disekitarnya tempat kami biasa duduk-duduk.

“Eh, lu pada kenal sama si dia ?”

” Oh iyalah, masa cewe cakepĀ  kaya gitu kita gak kenal.” Sahut salah satu temanku.

“Cakep sih sayang dia tomboy parah.” Sambung salah satu temanku yang lain.

“Iya tuh dia tomboy.” Sahut temanku yang lain.

Benarkah dia tomboy, rasa-rasanya dia tidak terlalu menunjukannya kepadaku kecuali aksinya melewati gerbang itu. Dan entah kenapa rasanya aku suka dengannya. Dan tentu saja sambil bercanda dengan teman-temanku aku tidak menutupi hal tersebut.

Waktu kembali terpotong lalu mengisi kembali. Aku kembali berjalan di gang itu sambil bersama temanku yang menyahut terakhir tadi.

“Mau kemana nih kita ?” Tanyaku.

“Arah sini mah kekosan lu lah.”

Dan betapa kagetnya saat kami sampai ke depan rumah perempuan itu sambil berkata bahwa inilah kosanku. Kami pun langsung masuk, dan temanku langsung bertemu kakak dari perempuan tadi.

“Oh iya Tri tuh ditungguin diatas.” kata kakak perempuan tadi.

Aku pun menaiki tangga kayu menuju keatas. Diatas sebuah sofa merah terdapat perempuan itu yang sedang menunggu.

Kami pun berbincang panjang lebar hingga topik pembicaraan menuju kearah kakaknya yang merupakan cosplayer terkenal.

“Oh iya kakakmu populer loh sampai ke Jakarta, bahkan dikotaku Bogor dia juga terkenal.” Ungkapku mengenai kakak perempuan itu.

“O-oooh kamu itu orang Bogor yah, aku pikir kamu orang asli sini, orang Jogja.” Katanya sambil terlihat tertunduk sedih.

Saat aku mau membuat dia senang kembali. Sku tiba-tiba saja terbangun dari tidurku.

Ternyata itu semua mimpi. Tapi bagaimana bisa ? pada awal mimpi bahkan aku coba menyadarkan kalau ini mimpi, namun semuanya terasa nyata saat mencubit bahkan menampar terasa sakit. Walau kejadian waktu yang terlewat tiba-tiba terasa aneh. Tapi, saat itu semuanya terasa nyata.

Dan yang aneh adalah siapa perempuan itu dan kakaknya bahkan aku tidak pernah mengenal atau menjumpainya sama sekali.

Tapi wajahnya masih bisa diingat walau sedikit samar mungkin kalau minggu ini atau bulan ini ketemu orang dengan wajah yang sama pasti langsung ingat kembali dengan jelas wajahnya.

Tapi dalam tulisan ini beberapa detail banyak yang terlewat bahkan namanya saja lupa. Karena saat menulis ini tanggal 03 November 2015 sudah satu hari berlalu semenjak mimpi ini terjadi. Yang bener-bener ingat hanya kejadian bersama teman kampus sebenernya sisannya beneran lupa yang paling parah temen kampusnya siapa aja yang disana juga bahkan lupa.

  • Cerita Tambahan :

Do you ever met a person that you just know that person name and face, but the person actually doesn’t know you ?

You see the person about 20 meters in front of you. You and that person at the middle some masses of people that shouting each other very loud, that make you to call that person almost impossible.

But…

When you wave your hand, you realize that person eyes suddenly meet yours and wave back to you. Is that really for you or it just your imagination only ?

Untuk cerita tambahan itu kebetulan kejadian nyata, dan kenapa pake bahasa inggris sekalian mau latihan saja itu mah udah lama gak pakai bahasa inggris dengan baik yang berkemungkinan tulisan diatas banyak yang salah XD

Inti blog ini mah iseng nulis.

Oke sekian blog dari dari gue, kalau ada salah-salah mohon maaf semoga kedepannya lebih baik lagi. Sampai jumpa di blog selanjutnya secepatnya. ( ^_^)/~~>>>

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s