Insting

Mungkin sebagian orang mengetahui gambar apakah yang ada diatas ini, itu adalah SS dari game mobile asal negeri matahari terbit Jepang yaitu Neko Atsume. Tapi, bukan ini yang akan dibicarakan pada blog kali ini~

Blog kali ini akan membicarakan tentang kejadian beberapa saat lalu saat masih bulan Ramadhan, mengenai kucing yang ada dirumah. Penjelasannya dibuat dengan penjabaran orang pertama dalam cerita.

Karena alasan ingin mengganti kata “saya” di blog ini, maka untuk sementara di post kali ini menggunakan kata “aku” XD~


Pada hari itu tidak biasanya aku terbangun cukup siang, dimana matahari sudah cukup terang hingga menyelinap masuk melalui celah-celah gorden dikamar. Mataku pun tak kuat menerima sinar mentari yang ikut masuk melalui sela-sela kelopak mataku yang tertutup, seperti tanda alam untuk membangunkanku.

Aku pun bangun.

Sebelum ke kamar mandi aku terlebih dahulu ke halaman belakang, mengambil handuk yang pastinya sudah dijemur disana kalau sudah jam segini.

Di pojok tembok halaman yang memsiahkan antara halaman belakang rumahku dan jurang menuju sungai, di balik bayangan seekor hewan berbulu hitam kemerahan meringkuk melingkar, matanya yang berwarna kehijauan dengan pupil hitam vertikal tidak terlihat. Matanya menutup, dia tertidur sambil menghindari matahari.

Itu memang hal yang selalu dilakukannya sepanjang matahari masih terlihat, mungkin memang kucing berekor tebal ini memiliki sifat sedikit malas seperti ini. Bahkan, aku kadang berpikir kalau tembok dibelakang rumahku ngejeblag seperti kejadian yang pernah terjadi dahulu sebelum kucing ini masuk kedalam keluarga ini, dia sepertinya tidak akan lari dan hanya diam mencari bayangan lain untuk berteduh.

Tak terasa memikirkan hal seperti tadi membuatku tersita beberapa menit dari tujuan awalku mengambil handuk untuk mandi.

Setelah mandi saat aku mau menjemur handuk pun kucing itu tidak bergerak semili pun dari tempatnya tadi, seperti tidak akan ada gangguan apa pun yang dapat membuatnya bergerak dari tempat itu.

Jujur aku sendiri sebenarnya salah satu yang jarang berinteraksi dengan kucing ini, karena kalau aku mencoba bermain dengannya kucing itu selalu mencoba menggigit kakiku. Walaupun rasanya tidak sakit, tetapi aku takut kalau saat dia sedang mencoba menggigit dan kakiku bergerak menginjaknya.

Lagi-lagi pikiranku terjebak beberapa memikirkan kucing hitam yang tidurnya seperti orang mati itu.

Padahal aku juga harus mencuci bajuku sekarang, karena kalau sudah jam segini pakaian kotorku tidak akan masuk kedalam daftar cuci ibuku. Lagipula mencuci baju menggunakan mesin itu bukan hal sulit.

Akan tetapi, disanalah keanehan dimulai.

tempat cuciku itu terdapat diujung lain dari halaman belakangku, berada tepat disamping gudang dan kamar mandi kedua dirumahku. Gudang itu sendiri dulunya adalah kamar mandi, alasan kenapa tempat itu dijadikan gudang sendiri orang tuaku tidak pernah menceritakannya.

Terlebih lagi dibalik tembok belakang ruang cuciku adalah barisan pohon bambu yang cukup lebat, dimana hal itu memberikan sentuhan mencekam tambahan ditempat cuci itu.

Aku pun teringat kejadian aneh sekitar setahun lalu, dimana satu hari pernah lebah membuat sarang dan bergerumul banyak sekali disana. Akan tetapi, keesokan harinya semua lebah itu menghilang tanpa jejak bahkan sarangnya pun hilang begitu saja.

Hal aneh apa sih yang bakal kejadian siang-siang gini ? ucapku memberanikan diri.

Aku pun menghampiri tempat cucian dan memasukan pakaianku kedalam mesin, lalu menyalakannya.

“SRAKK !” suara aneh muncul dari belakang mesin cuci.

Bersamaan dengan itu entah kenapa angin berhembus menggoyangkan pohon bambu membuatnya berayun dan memunculkan suara seperti sapu ijuk yang diseret. Hawa dingin dari angin pun menyibak membuat suasana menjadi tidak nyaman.

Karena masih siang hari aku berusaha memberanikan diri dan menggeser mesin cuciku, memacu rasa penasaranku yang menutup rasa tidak nyamanku saat itu.

Dari balik mesin cuciku yang tergeser, tiba-tiba sesosok hitam muncul dengan cepat bergerak maju lalu memutar kembali kebalik mesin cuci.

.

..

….

…..

Mahkluk itu tidak lain adalah TIKUS

seekor tikus hitam besar sebesar anak kucing.

Hal itu meredakan romanku. Setidaknya itu adalah mahkluk normal bukan mahkluk yang tidak aku inginkan berada disini.

Lalu sebuah gumpalan bulu hitam tiba-tiba muncul disebelah mesin cuci dari arah halaman belakang.

Bukan—Bukan sebuah gumpalan bulu, dia berdiri dengan keempat kakinya yang tertempel kuku-kuku tajam. Matanya membara layaknya ada matahari kecil terbakar panas disana, pupil matanya menipis hingga menjadi garis tipis seperti jarum. Pada mulutnya yang terbuka lebar terdapat taring runcing yang berjajar rapi. Terpancar nafsu memburu pada gerak-geriknya

I—Itu adalah kucing hitam pemalas yang selama ini berada dirumahku. Tapi, bagaimana bisa dia bisa jadi seperti itu ?

Maksudku, dia biasanya hanya bergerak kalau mangkuk makanannya diisi. Mahkluk yang sekarang ada didepanku ini bukanlah kucing yang kukenal, ada unsur liar dan berbahaya menyebar keluar dari dirinya. Apakah selama ini sebenarnya dia selalu memiliki hal itu dan tertidur didalamnya hingga musuh alaminya keluar.

Tanpa menunggu aku selesai berpikir, kucing hitam itu bergerak cepat menuju kearah tikus itu berada hingga mendorong mesin cuci maju hingga mengenaiku. Sebuah tenaga yang seharusnya tidak dimiliki kucing dengan kebiasaan seperti itu.

Dia keluar dari belakang mesin cuci dengan tikus tadi terkait oleh barisan taring dimulutnya, walaupun tidak ada darah keluar dari tikus itu. Tapi, dapat aku pastikan kalau mahkluk itu telah mati, tubuhnya terkulai lemas tidak berdaya dari mata hitamnya terlihat api kehidupan yang telah padam.

Seketika kucing hitam itu berubah kembali menjadi kucing hitam yang kukenal, menjadi jinak dan terlihat tidak berbahaya. Dia bahkan membuat mayat tikus tadi seperti mainan dan memainkannya dengan kakinya.

Aku yang tidak tega melihat mayat tikus tadi yang berakhir menjadi hanya mainan saja akhirnya memutuskan untuk mengambil tikus tadi dan menguburnya di dekat jurang belakang. Saat aku kembali kucing hitam tadi kembali keposisinya di ujung tembok halaman belakangku dan mulai meringkuk dan beristirahat kembali disana.

Kejadian yang barusan kulihat itu mungkin contoh bagaimana sebuah insting muncul.

Setelahnya aku menceritakan kejadian tadi ke keluargaku yang lain, dan mereka tidak heran karena kucing itu memang kadang suka melakukan hal itu bila ada hewan lain masuk ke teritorinya yaitu halaman belakang. Adikku pun bercerita bahwa pernah ada ular jatuh dari pohon rambutan dibelakang rumahku dan kucing itu langsung memburunya dan membunuhnya. Setelah itu dia kembali seperti semula dan memainkan mayat ular itu bagai mainan.

Insting itu selalu tertanam pada tiap mahkluk, bahkan untuk seekor kucing jinak layaknya kucing hitam jinak dan pemalas dirumahku.

Semenjak saat itu aku tidak pernah lagi memandang sebelah mata kucing itu.

Nama kucing hitam itu pun jadi kuingat sekarang, ya namanya adalah… BLACKY


Oke sekian cerita yang sangat datar tanpa klimaks cerita pada blog ini. Maaf kalau ada salah-salah kata tertulis terketik pada postingan kali ini. Sampai jumpa dipost berikutnya kemungkinan minggu depan XDb

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s