Cerita Pendek Tapi Panjang “Perlahan”

Jadi awalnya sih pengen buat cerita pendek tapi malah jadi panjang, wkwkwk…, dan juga kebetulan cerita ini juga mengambil inspirasi dari sebuah lagu jepang juga yang berjudul “Dan Dan Kokoro Hikareteku” yang dinyanyikan oleh band “The Field of View”. Mungkin lagu ini lebih dikenal sebagai lagu pembuka di serial animasi Jepang “Dragon Ball GT”. Tapi ada tujuan lain sebenarnya, yaitu pengen nyoba juga delay post di blog kaya gimana. Seharusnya blog ini ke post nanti di jam 04:30 hari Kamis, 09 April 2015.
Silahkan Menikmati Ceritanya….


Perlahan

“Mengapa kamu menyukai orang itu ?”

Aku masih ingat momen saat pertama kali aku bertemu denganmu. Kamu pindah kesekolahku saat kita kelas 2 SD, saat itu kau begitu gugup berhadapan dengan 30 orang asing di dalam kelasku. Hingga kamu salah menyebutkan namamu sendiri menjadi “Reita”.

Akan tetapi, sepanjang kelas berlangsung kamu bahkan tidak berani membetulkannya dan menjadi terdiam selama kelas berlangsung.

Saat istirahat tiba orang-orang yang tadi begitu asing, dengan baik dan ramah menghampirimu, kamu yang awalnya merasa canggung menjadi lebih merasa nyaman untuk berbincang dengan mereka. Akan tetapi, saat itu aku sangat acuh akan kehadiranmu. Bahkan disaat teman sekelas kita begitu penasaran dan menyambutmu, aku malah tidak peduli dan langsung pergi ke perpustakaan, tempat dimana aku selalu menghabiskan waktuku selama beristirahat.

Ketika waktu istirahat berakhir, seperti biasanya aku kembali ke kelas dimenit-menit terakhir. Saat aku keluar dari perpustakaan, dari kaca jendela kulihat dirimu sedang didalam sana seperti mencari-cari sesuatu. Awalnya aku melangkah acuh kembali ke kelas. Tetapi, langkahku terasa berat saat mengingat kamu adalah anak pindahan yang belum tahu apa-apa, membuatku kembali menghampirimu dan memberitahumu.

Belum sempat kuberitahu apa-apa. Kau langsung berbicara duluan dengan nafas terengah-engah.

“Ta—Tadi aku salah.”

Dia menghirup nafasnya dalam-dalam agar bicaranya tidak terengah-engah lagi. Saat itu aku tidak tahu kesalahan apa yang dilakukan oleh perempuan berambut sebahu dengan kuncir 2 yang ada dihadapanku itu, aku pun jadi diam menanggapinya.

“Na—Namaku sebenarnya adalah Raina, bukan Reita !” Setelah mengatakan itu, dia mengusap wajahnya yang dipenuhi keringat.

Aku masih terdiam mendengar pernyataannya tadi, saat itu aku hanya memperhatikan wajahnya yang manis tadi terlihat begitu khawatir tadi berubah menjadi lebih tenang sekarang.

“Aku tadi terlalu gugup hingga salah menyebutkan namaku. Tadi yang lainnya sudah kuberi tahu masalah itu, tapi aku tidak melihat kamu sama sekali. Saat aku bertanya pada yang lain mereka bilang kamu biasanya ada diperpustakaan.” Ungkapmu tanpa memberi jeda.

“Kamu aneh.” Ucapku saat itu.

Wajahmu menjadi merah layaknya kepiting rebus, entah kenapa setelah mengatakan hal tadi aku langsung tertawa dan kau juga ikut tertawa saat itu.

Setelahnya, kita berdua kembali kekelas dan terlambat. Kita berdua dihukum berdiri didepan kelas oleh guru Matematika karena terlambat. Semenjak saat itu kita menjadi bersahabat baik, dan selalu bersama-sama.

Entah kenapa tiap kali melihatmu aku menjadi selalu mengingat kejadian itu. Dan perlahan-lahan tanpa kusadari aku mulai menyukai kejadian tersebut.

“Raina, mengapa kamu menyukai orang itu ?”

Perubahanmu dari perempuan kecil yang pemalu menjadi seorang gadis remaja penuh semangat benar-benar mengejutkanku. Semakin sering aku melihatmu, semakin aku menyadari bahwa senyumanmu yang cemerlang perlahan menawan hatiku.

Saat pertama kali aku merasa suka kepadamu, saat itu pula aku berpura-pura tidak memiliki perasaan apapun padamu. Akan tetapi, kedua mataku ini tak bisa membohongi. Karena hanya kamulah satu-satunya gadis yang aku perhatikan.

Kita yang selalu bersama-sama hingga SMA tidak pernah berpikir bahwa ada satupun dari kita yang menyukai satu sama lain. Tapi, karena itulah kau makanya menyukai orang itu. Darian.

Bukankah orang itu terlalu biasa untukmu, Raina ? Dia hanyalah lelaki populer dari sekolah kita yang kebetulan adalah ace tim basket sekolah dan vokalis dari band remaja yang terkenal saat ini, The Field. Tapi, bukankah itu hanyalah yang disukai oleh gadis-gadis biasa saja. Aku yakin Raina kau lebih dari seorang gadis biasa saja.

“Raina, mengapa kamu menyukai orang seperti Darian ?”

Kadang aku memimpikan tentang kamu yang meraih tanganku, dan mengajaku terbang bersama mengarungi lautan kegelapan yang tak ada habisnya didunia ini sambil terus bergandengan tangan. Saat itu kamu bagaikan sepotong harapan di dunia ini yang akan membawa kebahagiaan abadi pada hidupku.

Saat terbangun aku selalu bertanya, apakah tidak terlalu cepat bila aku berpikir kalau hanya kamulah satu-satunya orang yang kuingin berada disisiku seumur hidup. Apalagi bila alasannya sangat sepele, seperti menyukai semua hal tentangmu walaupun saat kau marah ataupun bersedih.

Akan tetapi, saat kau menyatakan bahwa kau menyukai Darian dengan santai kepadaku. Saat itu pula rasanya aku ingin menyerah, perasaanku terasa seperti terombang-ambing oleh ombak yang bergulung di pantai biru. Tetapi, aku mengingat kembali keberanian yang kau berikan saat di perpustakaan dulu. Membuatku ingin terus berjuang mempertahankanmu dengan memegang kebanggaan cintaku kepadamu.

Walaupun sebenarnya ini semua rasanya aneh, dari sekian banyak gadis di SMA kita mengapa kamulah yang aku sukai. Terlebih lagi, mengapa aku menyadari perasaan ini perlahan-lahan ?

“Raina, Mengapa kau malah menyukai Darian, bukan aku ?”

Saat ini tidak seperti biasanya aku pulang sendirian, jok belakang motor yang biasa terisi olehmu sejak pertama kali aku punya motor sekarang kosong. Kamu menyuruhku untuk pulang duluan, karena kau bilang ingin menyatakan perasaanmu kepada Darian saat pulang sekolah.

Tetapi, tanpa sadar laju motorku malah mengarah kerumahmu. Padahal arah rumah kita saling bertolakan satu sama lainnya. Bodohnya lagi, aku baru menyadari hal itu saat sudah berada didepan rumahmu.

Tanpa berpikir panjang aku memutar balik motor kembali ke jalan raya.

Baru beberapa meter motorku berjalan melaju dijalan raya, aku melihat seorang gadis memakai seragam putih-abu berlinang air mata dengan derasnya. Itu kamu, Raina.

Aku langsung menghentikan motorku tepat disebelahmu, walaupun hal tersebut membuat sebuah mobil dan motor dibelakangnya harus berhenti mendadak lalu memarahiku. Tapi, aku tak peduli.

Raina hanya terdiam bengong awalnya, lalu tertawa meliatku yang dimarahi oleh para pengguna jalan dibelakangku. Walau rasanya memalukan, tapi aku senang setidaknya dia berhenti menangis dan senyuman kembali kewajahnya.

Setelah kemarahan mereka reda, akhirnya aku menghampiri Raina yang sudah terlihat ceria sekarang. Tapi, tanpa kusadari mulutku malah menceletukan kata-kata yang tidak ingin kuucapkan saat itu. Walau sebenarnya jauh dilubuk harti kata-kata itu ingin kuucapkan semenjak dulu.

“Raina, apakah kamu menyukaiku ?”, ucapku pelan.

Apa yang barusan aku katakan ? Seruku didalam hati. Aku bahkan tak mengerti lagi kenapa diriku mengatakan hal tadi. Apakah perasaan ini sudah sampai tingkat dimana aku tidak dapat lagi mengontrolnya lagi.

“Maaf, tadi kamu ngomong apa ?” Tanya Raina. Entah aku harus senang ataupun bersedih, mengetahui kalau ucapanku tadi terganggu oleh suara kendaraan yang melintas dan suara klakson yang bersahutan dari jalan raya.

Agar Raina tidak curiga, aku pun langsung menanggapinya dengan suara yang keras agar terdengar. “Enggak, tadi cuma nanya gini doang. Raina, kamu gak malu udah jalan kaki terus sambil nangis juga lagi ?”

“Ih, kamu mah jahat.”

“Terus, tadi jadinya gimana ?”

Raina awalnya diam mendengar pertanyaanku tadi, mungkin aku kurang sensitif melihat keadaan sehingga bertanya seperti itu. Tapi, Raina kemudian senyum sambil menggelengkan kepala.

“Intinya sekarang, kamu masih jadi ojek aku. Yuklah anter aku pulang, hehehe…”, dia mengatakan itu sambil tertawa riang seperti Raina yang biasanya. Melihat Raina seperti itu sentah kenapa sudah menjadi kebahagiaan sederhana tersendiri bagiku.

“Yaudah non silahkan naik, anter ketempat biasa kan ?” candaku ke Raina mengajaknya pulang.

“Iya bang biasa, nyampe rumah”, ujarnya sambil naik kebagian belakang jok motorku yang akhirnya terisi lagi olehnya.

Sepanjang perjalanan kami berbincang panjang lebar dengan riang gembira. Akan tetapi, sebenarnya saat itu aku merasa seperti mengenakan topeng didepannya. Hal itu pertama kali kurasakan saat bersamanya. Banyak hal yang ingin kusampaikan padanya mengenai perasaanku terhadapnya, namun sebuah dinding tebal yang bernama hubungan pertemanan menghalangiku.

—Δ—

Sesampainya dirumahnya pun aku cuma bisa langsung pamit pulang tanpa bisa berbasa-basi apa-apa lagi, aku malah menjadi semakin takut ada kata-kata lain yang terucap tanpa aku inginkan.

Raina pun seperti enggan membiarkanku langsung pergi. Tapi, dia juga seperti enggan menahanku. Mungkin hanya perasaanku saja.

Aku pun langsung pergi menuju kermuahku.

Tapi, perasaanku ini terasa semakin berat. Aku ingin memberitahukanmu tentang perasaanku itu sekarang. Mungkin aku terlalu egois dan tidak melihat situasimu, namun aku pun tak tahu lagi apakah aku dapat terus menjadi “teman” bila perasaan ini belum tersampaikan.

Aku langsung membanting stir motorku untuk berbalik arah.

Sebelum kulaju motorku lagi, aku menghubungi Raina terlebih dahulu.

“Halo Raina, sorry nih ganggu bisa kamu keluar rumahmu lagi sekarang ?”

“Aku juga ini belum sempet masuk kerumah, udah kamu suruh keluar…”

“Yaudah, kalau masih diluar bagus. Tetep disitu yah jangan kemana-mana.”

Aku langsung melaju bersama motorku secepatnya, kurasakan angin dengan kuat terbelah pada kaca helmku. Suara klakson dan laju kendaraan bagaikan musik latar pengiring aku menuju rumahnya.

Seketika aku sampai kedepan rumahnya, aku lihat dia menungguku disana dengan masih menggunakan seragam putih-abu yang dikenakannya tadi hanya saja tasnya sudah tidak ia kenakan. Air mukanya dipenuhi oleh tanya.

Aku memarkirkan motorku tak jauh darinya.

Sebelum dia menghampiriku dan bertanya, aku buru-buru memotongnya.

“Sekarang tolong kau dengarkan aku baik-baik, aku tidak akan mengulanginya lagi.” Ucapku sangat keras.

Raina terkaget mendengarkan ucapanku dengan nada kencang tadi, aku sendiri kaget mendengarkan perkataanku tadi. Mungkin inilah yang disebut ungkapan hati. Sebuah teriakan keras yang semurni berlian langsung dari dalam hati tanpa ditutupi apa-apa

Aku menatap jauh kedalam matanya dan mengambil nafas panjang sebelum berucap, “Raina, aku sebenarnya suka sama kamu. Mungkin ini agak berlebihan… Tapi, mau gak kamu jadi pendamping hidupku sampai kedepannya nanti.”

Setelah mengucapkannya aku merasa seperti habis melepas beban yang sangat berat dipunggungku, dan topeng diwajahku juga seperti dirobek lepas saat itu.

“Kamu aneh.” Ucapmu saat ini.

Wajah kita serentak menjadi merah layaknya tomat, entah kenapa setelah mengatakan hal tadi kamu malah langsung tertawa dan aku pun jadi ikut tertawa pula.

Kejadian indah ini rasanya seperti putaran ulang dari kejadian indah sebelumnya dalam hidupku, layaknya sebuah Déjà vu.

Advertisements

4 thoughts on “Cerita Pendek Tapi Panjang “Perlahan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s