C-P

Saya ingin menceritakan sedikit pengalaman saya hari Kamis tanggal 23 Oktober 2014, kemarin.

Pada saat itu hampir saja saya terkena aksi pencopetan bergerombol, dimana saya bersyukur dapat terhindar dari aksi tersebut.

Jadi pada blog kali ini saya akan membagi pengalaman saya tersebut, selamat membaca.


 Hampir 2 jam lamanya aku menunggu di trotoar dekat stasiun Cawang, sebuah bis hijau bernomor 57 yang akan mengantarku menuju kampusku yang berada di daerah Rawamangun.

Huh, sepertinya aku tak akan sempat untuk mengikuti kuis mata kuliah hari ini. Gerutuku dalam hati.

Tak lama setelahnya, kendaraan hijau yang kutunggu pun muncul. Dengan langkah seribu langsunglah aku masuk menuju pintu belakang kendaraan bernomor 57 itu. Saat itu keadaan dibagian dalamnya cukup ramai hingga tak ada tempat duduk kosong, yang memaksaku berdiri disisi belakang kendaraan massal itu.

Jujur dari pertama aku menaiki kendaraan umum di ibu kota entah mengapa rasa aman terasa hilang, mata-mata mengancam seperti muncul dari mana saja. Hal itu membuatku selalu merasa terancam oleh aksi kejahatan, termasuk pada hari itu juga walaupun pikiranku saat itu cukup terpecah oleh kuis mata kuliah pagi yang tiba-tiba diadakan.

Belum lama kendaraan 57 itu berjalan, saat melintasi daerah UKI kurasakan terjadi getaran pada tasku. Awalnya kupikir itu adalah HPku yang bergetar karena menerima pesan masuk, akan tetapi aku dapat memastikan bukan itu yang terjadi. Kulihat tasku yang mulai mengeluarkan bunyi-bunyian aneh, dan benar saja sebuah tangan berkulit kuning langsat menyelinap masuk kedalam bagian depan tasku tersebut. Awalnya kudiamkan saja orang berjaket kulit hitam dengan rambut keatas bagaikan jarum itu mengorek tasku yang tak ada barang berharga apa-apa didalamnya, tapi lama-lama  jengkel juga dan kutarik mundur tasku lalu menutupnya kembali.

Setelah itu, saat melewati daerah Jatinegara jantungku terasa semakin berdebar mengingat waktu terus bergulir yang berarti waktuku untuk mengerjakan kuis semakin berkurang saja. Kebiasaan burukku pun kulakukan tanpa sadar, yaitu menggerakan kakiku keatas-bawah secara cepat layaknya orang tidak sabaran. Tepat saat itu juga kurasakan ada “beban berlebih” pada celanaku.

Kutengokan kepalaku dan kufokuskan mataku dengan cepat kearah sumber beban tersebut.

Kulihat tangan berkulit sawo matang mencoba menarik dompet berwarna loreng tentara disaku belakangku yang awalnya terkancing dengan rapi, sekarang terbuka dengan dompetku menyembul keluar.

Orang berbadan tambun yang memakai kemeja batik berkancing terbuka dengan kaos berwarna putih itupun, langsung menarik tangannya dan meletakan diatas perutnya seolah tak ada yang terjadi.

“WEISH !” Ucapku spntan dengan tatapan penuh emosi keorang tersebut.

Saat itu juga aku tahu ini adalah aksi pencopetan bergerombol yang sering kudengar berita, dan aku tak percaya aku sekarang berada pada salah satunya. Aku pun berusaha pindah kebagian depan tapi entah mengapa seperti orang-orang menyumbat ditengah yang membuatku hanya bisa mencapai daerah tengah kendaraan itu saja.

Gawat, aku sedang menjadi target aksi pencopetan disini sepertinya. Orang berkulit kuning langsat yang memakai jaket kulit hitam dengan rambut seperti tumpukan jarum, sepertinya berniat mengambil barang berharga di tasku akan tetapi hasilnya nihil. Orang berkulit sawo matang berbadan tambun yang memakai kemeja batik terbuka dengan kaos putih didalamnya, berusaha mencopet dompetku disaat aku lengah akan menjaga tasku tapi berakhir gagal karena kebiasaan burukku. Orang yang menyumbat dibagian tengah itu kemungkinan besar komplotan 2 orang tadi. Ucapku panik didalam hati.

Pada saat itu kulihat langit-langit kendaraan ini dan berusaha tenang. Kupikir yang kubutuhkan sekarang bukan panik dan was-was, dompet sekarang sudah aman karena aku berdiri dengan menempelkan bagian belakang tubuhku ke kursi penumpang agar tak ada celah orang bisa menyusupinya. Kulihat 2 orang yang berniat buruk tadi berkumpul dipintu keluar layaknya orang yang siap turun disekitar daerah hutan kayu. Kenek kendaraan itu pun menanyakan apakah dia akan turun didaerah tersebut, bagai kode tak terlihat kenek itu langsung diam dan mundur. Orang berambut runcing tiba-tiba langsung berubah menjadi kenek yang memberi tahu lokasi turun, sambil berdiri dipenghujung pintu keluar belakang bus tersebut.

Aku pun merasa bahwa mereka siap untuk melancarkan aksi terakhir mereka pada targetnya, yaitu aku. Aku yang mulai tenang berusaha menebak apa target mereka selanjutnya, dengan begitu aku dapat mengantisipasi aksi mereka apapun itu.

Dompet sudah mereka coba, tapi gagal. Dengan waktu yang sedikit seperti turun kendaraan, mengambil dompet yang tertutup kancing cukup sulit bagiku.

Tas mereka coba rogoh untuk menapat barang berharga tapi gagal juga―Eh, tapi bila mereka berniat mengambil barang berharga bukankah biasanya ditaruh di bagian tas utama, bukan bagian tas depan.

Lalu, apa yang mereka coba cari dibagian depan tas ? Benda berharga apa yang tanpa sadarbiasanya orang taruh kebagian depan tas dimasa kini ?

Aku mencoba menyusun semuanya, tapi rasa was-was yang cukup menyita pemikiranku saat itu membuatku sulit berpikir. Seolah-olah jawaban sudah didepan mata, akan tetapi tembok besar menghalangiku untuk mengetahuinya. Yasudahlah, sebentar lagi juga aku akan turun dan akan mengetahuinya segera. Pikirku.

Langkahku terasa berat menuju pintu keluar yang telah dikerubungi para gerombolan pencopet yang tersaru dikumpulan orang biasa, entah ada berapa mereka disana ataukah hanya 2 orang itu saja akupun tak tahu. Tapi apa boleh buat aku harus cepat turun, mengingat kuis yang sudah berjalan 30 menit menungguku disana.

Kulewati orang bertubuh tambun yang seperti sengaja membiarkanku melewatinya. Aku yang cukup berhati-hati langsung menempelkan bagian belakang tubuhku pada pintu belakang disisi jalan belakang kendaraan hijau yang kunaiki tersebut. Tangannya berusaha agar terlihat terjepit oleh badanku.

“Bos, majuan tangan gue kejepit nih !” Ucap pria tambun itu dengan nada memaksa.

Si rambut jarum pun mulai berisik meneriaki tempat turun berikutnya sambil seperti mendorongku kebelakang agar tak jadi turun.

Kejadin menjadi kacau yang membuat perhatianku terpecah. Akan tetapi, waktu tiba-tiba terasa melambat seperti menyuruhku untuk berpikir jernih lagi untuk mencari jawaban. Benda apa yang menjadi target dari mereka saat ini ?

Jika kuingat kembali pertanyaanku tentang benda apa yang mungkin mereka incar pada bagian depan tas tapi tidak mereka temukan saat itu, apakah itu dompet―Bukan, jelas bukan bila dompet buat apa si pria tambun berada dibelakangku dan melancarkan aksinya. Benda berharga seperti dompet, tapi tidak besar seperti laptop. Ukurannya mungkin sebesar dompet entah lebih kecil atau lebih besar sedikit.

Benar, benda itu tak kulindungi semenjak awal, karena posisinya yang paling terasa melekat dan terasa paling terlindungi diantara semua benda yang cukup berharga yang kubawa.

HANDPHONE!

HandPhone (HP) adalah benda yang terasa paling aman diantara benda lain yang kuletakan, karena posisinya yang berada disaku depan kemeja. Apalagi benda itu tak pernah kukeluarkan dari saku bila dalam keadaan penuh didalam kendaraan massal. Ditambah terdapat jaket dan tas yang menutupinya juga. Benda yang kurasakan paling aman sebenarnya adalah benda paling rentan diantara yang lainnya.

Dengan terus berdoa agar benda itu aman, dan berusaha meraih HPku itu adalah hal sulit ditengah kekacauan ini. Sambil terus mendorong keluar dari kendaraan itu, aku mengencangkan peganganku pada tas dengan cara memeluknya. Hal itu kulakukan agar HPku terus terjepit didalam saku kemejaku tersebut.

Saat sampai dipijakan terakhir menuju keluar kendaraan bernomor 57 itu, aku dapat melihat sebuah tangan hitam legam menjulur masuk kedalam jaket hitam yang kupakai saat itu. Tangan itu terlihat terjepit karena peganganku yang cukup kuat pada tas, aku pun melepaskan tangan itu setelah memastikan HP dan dompetku aman sambil sontak berbicara, “pada ribet banget, saya cuma mau keluar !”

Kulihat orang bertubuh tambun berusaha memukul kepalaku dengan usaha terakhirnya sebelum aku keluar dari kendaraan itu, tapi kebiasaan burukku yang lain yaitu agak bungkuk saat berjalan. Mebuatku terhindar dari pukulan terakhir tersebut.

Aku langsung berlari dari tempat itu, mengingat pada saat itu aku sedang mengejar waktu untuk mengikuti kuis di kelas. Sambil berlari aku berpikir, sayang sekali aku tak bisa melihat wajah komplotan satu lagi dari geromboloan pencopet tadi. Yang kulihat hanya tangan hitam legam memakai jaket kulit lengan panjang ditutupi jaket kusam keecoklatan untuk menutupi aksinya tersebut. Akan tetapi, yang terpenting semua barang berharga yang kubawa aman dan dapat turun dengan selamat dari sana.


Sekian blog dari saya, cerita ini saya tulis seotentik mungkin dengan kejadian yang saya alami sebenarnya pada hari tersebut.

Maaf bila ada salah-salah kata pada blog ini, Terima kasih telah membaca blog saya ini. ^_^b

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s