Tak tampak

Sekitar seminggu yang lalu, tepatnya dimalam penghubung jum’at dan sabtu.

Seperti malam biasanya muncul bunga tidur didalam tidurku. Akan tetapi, mimpi yang saya rasakan malam itu terasa berbeda dari biasanya. Ingatan yang saya tidak ingat muncul lagi ke permukaan setelah mimpi itu, bukan maksud saya sengaja melupakan ingatan-ingatan tersebut. Tetapi, ingatan itu memang terlupa begitu saja.

Karena sudah seminggu kejadian tersebut berlangsung, mungkin banyak detil dari mimpi itu yang saya tidak ingat. Tapi pada blog ini saya akan berusaha keras menuliskan bagian terakhir mimpi tersebut seotentik mungkin.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Aroma pernis tercium menyengat menusuk hidungku, kucari-cari asal bau itu diruangan berbentuk persegi panjang dimana banyak barang diletakan begitu saja dipojok-pojok ruangan. Pada ruangan tersebut, banyak orang berkostum layaknya Halloween lalu lalang melewati tanpa menghiraukanku yang memperhatikan mereka.

Kutemukan asal bau tersebut dari sebuah kursi kayu berwarna hitam yang kududuki saat itu.

Dua orang tinggi tiba-tiba saja menghampiriku dari kerumunan orang yang lalu lalang, melihat mereka sekilas saja sudah membuatku mengetahui siapakah mereka itu. Yang tinggi, kurus, berambut tipis mengenakan kaos putih dan celana jeans biru adalah Baim. Dan orang tinggi yang berkacamata, menjambul rambutnya serta mengenakan kaos hitam dan celana jeans biru juga adalah Harris.

Mereka berdua adalah teman sekomunitasku. Kedua orang itu terlihat penasaran, ekspresi mukanya jelas menunjukan hal tersebut. Baim saking semangatnya menepuk-nepuk bahuku dengan wajah penasaran bercampur sumringah.

“Tri, jadi gak ?”

Aku bertanya-tanya apa maksud Baim, “jadi ngapain, Im ?”

“Jadi nembaklah, tuh orangnya udah dateng, ” sela Harris. Wajahnya menunjuk seorang cewek berambut pendek lurus sebahu ditengah kerumunan orang yang lalu lalang. Cewek itu terdiam berdiri sambil menengok kanan-kiri mencari sesuatu ditengah kerumunan orang-orang berkostum. Jaket kulit hitam yang tak diresleting memperlihatkan kaos putih didalamnya, membuatnya mudah dilihat ditengah orang berkostum warna-warni.

Akupun berdiri dari kursi hitam tempat duduku tadi, sambil mengangguk. “Ya, gue bakal tembak itu orang hari ini.”

“Mau dimana ?”

“Disini ajahlah. Tapi jangan pada ganggu yah, anak-anak yang lain juga suruh jangan ganggu.”

“Oke sip!” mereka menjawab serentak.

Langkah kaki penuh pasti mengadu dengan lantai keramik putih diruangan itu. Jarak kami berdua semakin mendekat, tapi waktu terasa makin lambat. Mata kami akhirnya bertemu.  Akan tetapi, mataku otomatis berpaling tak bisa melihat wajah yang dihiasi senyum lebar yang manis miliknya. Senyum manisnya bagaikan bunga yang sangat indah ditengah tanah tandus.

“Hai, Tri.” Sapanya menghampiriku kepinggir kerumunan. “Tadi nelpon katanya mau ngomongin sesuatu penting disini, memangnya ada apaan sih Tri ?”

Aku gelagapan mendengar hal itu yang terucap pertama olehnya. Mataku semakin rendah, hingga memandangi celana jeans dan sepatu ketsnya yang berwarna monoton hitam.

“Err, ada yang aneh yah dengan jeans dan sepatuku ?”

“E―Enggak kok, ini leherku cuma pegel ajah jadi maunya nunduk gini. Hehehe…” Tawaku datar. Cewek ini adalah satu-satunya orang dimana aku berbicara dengan kata-kata aku-kamu didalamnya, alasannya karena kupendam suatu rasa kepadanya.

Aku mencoba memberanikan diri, tak ingin kubuang waktunya dengan sifat pengecutku. Kuangkat wajahku untuk mengarahkan mataku ke matanya. “Aku, sebenernya―”

“Iya, kamu kenapa ?”

Mataku langsung mengguling kearah lain lagi, karena melihat wajah penasarannya sekilas. Tapi keberanian yang kukumpulkan masih tersisa, tak bisa kubiarkan terbuang percuma.

“Sebenernya, aku cuma mau ngungkapin bahwa aku suka sama kamu. Kamu mau gak jadi―” Lidahku rasanya kaku tak bisa melanjutkan kata-kataku. Akan tetapi, ini semua sudah terlanjur harus kulanjutkan apapun yang terjadi. “Kamu mau gak jadi TAULAH MAKSUDKU !”

Tanpa sadar kutinggikan suaraku, membuat orang yang lalu lalang sempat menengok sesaat melihatku dan melanjutkan langkah mereka kembali. Cewek itu pun langsung tertawa kecil mendengar pengakuan cintaku yang terasa aneh. “Kamu lucu yah Tri. Aku jawabnya nanti yah abis teater dilapangan beres.”

Aku hanya bisa mengangguk dengan wajahku yang merah bagai udang rebus. Kucoba melihatnya yang masuk kedalam kerumunan sambil melambaikan tangan, lalu dia membalas lambaianku dan menghilang didalamnya beserta senyuman indahnya tersebut.

“Tri, gimana lu sukses gak ?” kata Baim menghampiriku, menyadarkanku yang sedang menatap kosong kearah kerumunan orang yang lalu lalang.

“Kata dia baru bisa jawab abis teater beres nanti.”

“Terus lu gak temenin dia nonton ?”

“Enggak.”

“Elah Tri, udah samperinlah dia sekarang. Anak-anak juga lagi pada nonton itu teater terbuka diluar juga sekarang.” lanjut Harris.

Kami bertiga pun masuk kedalam kerumunan orang-orang dan melangkah keluar ruangan tersebut.

Diluar ruangan tadi, terhampar sebuah lapangan berlapis aspal layaknya tempat parkir. Dimana terlihat panggung berlatar hitam besar ditengah lapangan tersebut, dan ditiap sisinya terdapat berbagai macam booth makanan.

Kami bertiga berjalan menghampiri panggung tersebut, menuju sebuah kerumunan besar yang memenuhi bagian depan panggung dan booth-booth makanan.

“Oi, Tri sombong siah tadi gue mau liat kata si Harris gak boleh sama lunya.” Kata seseorang bertubuh gemuk dengan jaket kuning mencoloknya, yang ditemani oleh 9 orang dibelakangnya.

Orang gemuk tadi dan 9 orang itu adalah teman komunitasku juga. Aku sadar mengapa mereka sangat penasaran, oleh karena itu kujelaskan mereka semua sejelas-jelasnya hingga tak menyisakan satupun pertanyaan dibenak mereka.

Setelah penjelasanku yang panjang lebar, tanpa sadar pertunjukan teater yang entah menceritakan sandiwara apa itu telah berakhir. Dengan cepat, aku langsung meninggalkan teman-temanku dan mencari keberadaan cewek itu ditengah kerumunan yang mulai bubar.

Dia dimana, kok dicari didepan ataupun dibelakang gak ada yah. Apa jangan-jangan dia udah balik ? Tanyaku didalam hati.

HPku berbunyi dengan nada petokan ayam yang khas. Kulihat HPku tersebut, dan kulihat terdapat sebuah pesan didalamnya dari cewek itu.

“Tunggu, aku ganti baju dulu yah

Tadi aku keringetan banget

Soalnya didepan sumpek gitu”

Mendapat pesan tersebut, hatiku terasa lebih tenang. Akupun menjawabnya agar dia memberitahukan keberadaannya bila dia sudah selesai berganti pakaian nanti, lalu kembali ke teman-temanku untuk menceritakannya. Mereka pun dengan seru mendengarkan hal tersebut.

Sesuai saran teman-temanku, aku menunggunya di pintu masuk bersama mereka. hal tersebut kulakukan agar memudahkanku kemana-mana bila dia ternyata berganti pakaian jauh dari panggung tadi.

Bunyi patokan ayam yang khas terdengar dari genggamanku. Aku yang sudah fokus menunggu pesan masuk, langsung membuka pesan yang baru saja masuk tadi. Pesan tersebut jelas dari cewek itu, yang pastinya sekarang sudah selesai berganti baju.

Aku ada dibooth sekitar panggung

lagi liat-liat yang dijuak disitu.”

Sedetik setelah kubaca pesan tersebut, hujan tiba-tiba turun dengan cukup deras. Hal tersebut membuat aku dan temanku berteduh dibawah gapura pintu masuk yang sangat besar. Dan saat ingin kumasukan HPku kedalam saku, pesan lain muncul darinya.

“Hujan yah ? Daripada nanti kamu jemput aku terus sakit

Mending kamu pulang duluan  ajah deh”

Aku yang melihat hal itu agak sedikit kecewa sih, ditambah lagi rasa penasaran akan jawaban yang ingin sekali dijawab saat itu. Aku pun meminta saran tentang masalah ini keteman-temanku.

“Lah memangnya kenapa Tri, kan lu bawa payung jadi gak masalah. Jemput aja dia.” Jawab Harris membantu.

Benar saja saat kuperiksa tasku yang tidak sadar kubawa sejak awal, terdapat payung didalamnya. Sebuah payung berwarna putih, dengan ukuran yang cukup besar untuk menampung 2 orang. Tanpa ragu kuterobos hujan menuju tempat dimana cewek itu berada.

Dibawah payung putih, ditengah hujan yang mengguyur bagian depan panggung kutengokan kepalaku kekanan dan kekiri, mencarinya. Sebuah yukata biru bercorak bunga kuning, entah mengapa menarik perhatianku. Seorang wanita berambut pendek bergelombang sebahu memakainya sambil berteduh dibawah booth Takoyaki. Orang itu entah mengapa membuatku terlupa dengan apa yang harus kulakukan saat itu, dan secara otomatis tubuhku menghampirinya.

Saat jarak kami semakin dekat, dia berbalik dari posisinya yang memunggungiku semenjak tadi. Saat kusadari orang tersebut adalah cewek itu.

“Tri―” Dia memanggilku dengan senyuman yang ramah. Senyumnya entah bagaimana terasa bersinar laksana cahaya ditengah mendung hujan ini. “Makasih yah kamu malah jemput aku, padahal hujan kaya gini.”

Pada momen itu entah mengapa aku berani melihat seluruh wajahnya yang bersinar berseri. Sebuah ingatan terangkai didalam otaku, mendorong sebuah nama untuk terucap. Akan tetapi, saat nama itu sudah berada diujung lidahku sesuatu membatalkannya dan membuatku berkata hal lain.

“Enggak, masalah kok. Ini, kebetulan aja aku bawa payung. Daripada kepake sendirian mending dipake berduakan, hehehe…” Tawaku dengan nada aneh. “Yaudah hayu, daripada kehujanan disini mending kita kedepan aja biar lebih dekat dari jalan.”

“Sekali lagi makasih yah, Tri.” Kata cewek itu sambil melangkah masuk kebawah payungku.

Baru beberapa langkah dari booth tadi. Sebuah ingatan tiba-tiba terangkai kembali dan membuatku membatin, Kenapa yah setiap pedekate sama cewe selalu saja hujan.

Sedetik kemudian, aku sadar hal ini tidak pernah terjadi disini. Tapi daripada memikirkan hal itu bukankah lebih baik aku pikirkan sesuatu yang penting, seperti jawaban yang kutunggu.

 “Sorry yah, kalau momentnya kurang pas. Tapi aku penasaran nih sama jawaban kamu.”

Cewek itu diam, lalu tangan kanannya menggenggam tangan kananku yang memegang payung. Sambil tersenyum dengan wajah merah, dia mengangguk malu.

Aku tak bisa ungkapkan kebahagianku saat itu, rasanya seperti ada kembang api kecil yang meledak-ledak dengan meriah dihatiku ini. Dan jantungku rasanya seperti bisa berdetak hingga menembus batas waktu.

Bunyi petokan ayam bernada khas terdengar ditelingaku, akan tetapi sekarang sangatlah keras.

ITU ADALAH ALARM YANG MEMBANGUNKAN SAYA DARI MIMPI

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sebangunnya saya, entah kenapa ingatan 4 tahun yang lalu mengalir deras masuk kedalam otak. Dan saya tahu cewek yang dimimpi itu siapa.

Akan tetapi terdapat satu pertanyaan yang terus mengganggu saya dari minggu kemarin, “4 tahun lalu kenapa aku dan dia nonton Inception dikursi terdepan bioskop ?”

Selain hal itu banyak hal lain yang tidak berhubungan, yang awalnya tak tampak menjadi muncul, seperti beberapa ingatan kecil dijaman SMA yang saya lupa.

tiket bioskop

Entah orang yang memiliki belahan dari tiket itu masih mengingatnya atau tidak, yang jelas entah bagaimana saya sudah tidak mengingatnya lagi. Sama seperti saya tidak mengingat alasan kenapa saya berpisah dengan semua orang yang putus hubungan dengan saya.

Jibun Rashishatte nanda ?~♫

Sekian dulu blog dari saya, maaf bila ada salah-salah kata didalam blog ini. Saampai bertemu di blog selanjutnya XD

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s