Pulau Helheim Part 01

Awalnya dulu pernah iseng bikin cerita sci-fi survival gitu, tapi karena baru kerangkanya doang dan itu pun gak pernah rampung.

Nah, kebetulan kan minggu lalu serial Kamen Rider Gaim baru tamat. Itulah yang menjadi awal pencerahan dari kisah ini.

Yasudah akhirnya dicampurlah unsur lockseed didalamnya, walaupun bukan plot utamanya tapi tetaplah berperan penting didalam cerita ini

Inilah kira-kira kisahnya dibagian pertama.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Menaiki pesawat untuk bertransportasi mungkin sudah lumrah bagi sebagian orang, tapi untukku yang sudah hidup selama 30 tahun itu adalah hal baru.

Ya, tepat sekali aku baru pertama kali menaiki pesawat dan itu adalah pengalaman terburuk dalam hidupku. Dan semenjak saat itu aku berjanji tidak akan menaiki pesawat lagi ataupun transportasi udara lainnya.

Mungkin kalian menganggapku adalah orang dewasa yang penakut, tapi aku jamin bila kalian mengalami hal yang sama denganku kalian pun pasti akan berpikir 2 kali untuk menaiki pesawat lagi.

‒Δ‒

Namaku Jardi Rituni

Apakah aku mengalami Acrophobia ?

Jujur saja, sebenarnya aku tidak takut terhadap ketinggian tapi setelah pertama kali menaiki pesawat, aku menyadari kengerian dari ketinggian itu sendiri.

Aku pun dapat memastikan rekan-rekan kerjaku pasti akan mentertawakan, jika mengetahui pria 30 tahun seperti aku ini takut pada hal klise seperti ketinggian. Apalagi para Supervisor dan Manager yang suka mencemooh pegawai-senior-tapi-tidak-pernah-naik-jabatan sepertiku. Tapi, ayolah setiap orang memiliki rasa takutnya masing-masing.

Baiklah, daripada aku dikira berlebihan, lebih baik kuceritakan semuanya secara berurutan mengenai alasanku tidak mau naik pesawat lagi.

Sebulan, sebelum aku menaiki pesawat untuk pertama kalinya. Aku berangkat seperti biasa kekantorku yang dipenuhi oleh pegawai-pegawai yang jelas bukanlah manusia, bagaimana bisa disebut manusia lihat saja karyawan yang setingkatku semuanya adalah maniak kerja, yang rela bekerja lembur selama seminggu penuh tanpa libur dihari sabtu dan minggu. Awalnya jelas aku mengacungi jempol pada mereka, tapi lama-kelamaan aku merasa seperti hanya satu-satunya manusia normal yang bekerja disana.

Untuk perusahaan  IT yang sudah sangat besar seperti perusahaan tempatku bekerja ini, tentu semangat kerja sangatlah diperlukan untuk terus mengembangkan perusahaan ketempat yang lebih tinggi. Tapi bila melihat Managerku yang begitu pemalas yang kerjaannya hanyalah makan disaat kerja, dan selalu mencemoohku di pagi hari dengan bercandaannya yang sarkasme, mungkin dia pikir hal tersebut tak apa karena kami berdua memasuki perusahaan ini disaat yang sama. Akan tetapi bila dia berpikir kita berdua adalah teman dia harus berpikir dua kali dan mulai menyaring kata-katanya.

Apa yang kubicarakan dari tadi ? Bukankah seharusnya aku mulai bercerita kenapa aku tidak mau naik pesawat.

Oke, aku akan memulainya.

Tepatnya seminggu lalu, aku mendapatkan telpon di pagi buta dimana bahkan jam wekerku belum berbunyi saat itu, nomor yang meneleponku pun tak kukenal sama sekali. Tapi kupikir lebih baik kuangkat saja karena tidak mungkin ini telepon jahil di pagi buta seperti ini.

Belum sempat aku bertanya siapa yang menelepon, aku langsung mengetahuinya dari suara nafas yang menggebu-gebu dari speaker HPku.

Pak Manager―Aku langsung menghela nafasku, bila tahu bahwa dia yang menelepon lebih baik kubiarkan saja HPku berdering hingga pagi.

“Halo, Jar,” katanya, “maaf nih tiba-tiba nelfon, kan gue lagi meeting di Amrik sampai minggu depan, tapi ternyata berkas gue ada yang ketinggalan di kantor. Kan gak mungkinlah gue balik Indonesia buat ngambil itu doang, tapi lu pasti bisalah anterin itu berkas ke gue. Masalah visa sama tiket udah diurus sama orang kantor, lagian lu juga sih yah ninggalin passport di laci kantor mana kosong gitu lagi. Jadi karena kasian liat lu yang gak pernah ke luar negeri, akhirnya gue suruhnya orang kantor ngurusin. Gue tunggu yah, itu tiket sama berkasnya udah disiapin di atas meja lu. Oh iya, nanti kalau udah sampai airport San Fransisco langsung hubungin gue ajah yah.” Tanpa memberi kesempatanku berbicara, dia langsung menutup teleponnya.

“Manager brengsek !” Teriakku geram ke HPku yang telah terputus dari telepon.

Ayolah, tidak bisakah dia tidak semena-mena seperti itu. Bila dia pikir balik ke Indonesia buat ngambil berkas itu bikin cape, apa bedanya sama aku yang harus nganterin berkasnya ke Amerika tiba-tiba gini.

Tapi kupikir hal ini menyenangkan. Bagaimana tidak, aku belum pernah sama sekali ke luar negeri dan sekarang kesempatanku melakukan perjalanan kesana dan tentunya gratis. Tapi bila mengingat bagaimana perjalanan ini dimulai, hatiku rasanya terbakar.

Pagi itu kuhabiskan hanya untuk mengepak barang bawaanku kedalam koper, tidak lupa memberi ruang didalam koper untuk berkas nanti yang entah setebal apa.

Mandi pagiku pun dipercepat, karena aku harus buru-buru kekantor untuk memastikan kapan keberangkatan pesawatku nanti, gara-gara si manager yang semena-mena tidak memberi tahukan jadwal pesawatnya sama sekali. Bahkan saking buru-burunya aku memakai kemeja putih dan celana bahan hitam layaknya pekerja yang sedang magang, yang membedakan hanyalah terdapat dasi hitam melingkari leherku.

Dengan cepat kunyalakan mobilku, dan melaju cepat kearah kantor untuk membereskan berkas-berkas disana, lalu dilanjut dengan perjalanan langsung ke bandara.

 

Sesampainya di bandara dengan cepat kuparkirkan mobilku, lalu berlari menuju bandara tanpa mengetahui arah hingga aku sadar bahwa aku tidak tahu dimana tempat untuk melakukan check-in. Tetapi untung seorang satpam melihat gelagatku yang kebingungan dan mengantarkanku ke tempat tersebut.

Akhirnya setelah melewati tahapan-tahapan “ribet” di bandara, aku bisa menaruh barang bawaanku dan duduk santai di kursi pesawat yang berada disisi jendela, sehingga aku dapat melihat pemandangan diluar pesawat melaluinya.

Mataku menengok kesegala arah untuk lebih memperhatikan interior pesawat, tapi seseorang dengan jaket bertudung kepala hitam tiba-tiba saja duduk disebelahku sambil menengok kearahku, dengan senyuman merendahkan terlihat dibalik tudung kepalanya yang panjang, dan entah mengapa aura misterius keluar dari dalam dirinya.

Sebelum kutanya maksud senyumannya itu, dia langsung mengenakan seatbelt dan terlihat menunduk, lalu terdengar dengkuran dari balik tudung kepalanya tersebut.

Ingin rasanya kubuka tudung kepalanya dengan paksa dan membangunkan orang tersebut. Tapi ayolah, ini kan perjalanan ke luar negeri pertamaku jadi jangan sampai karena masalah sekecil ini membuatku naik pitam.

Kuperhatikan orang itu dengan seksama dan makin terlihat janggal penampilannya. Orang itu memakai benda serba hitam dari mantel hitam berkerah panjang dengan jaket hitam tebal bertudung kepala didalamnya, lalu sarung tangan kulit berwarna hitam pun membalut tangannya, tidak lupa jeans dan sepatu hitam juga dia kenakan. Yang aneh adalah dia mengenakan sabuk yang sangat mencolok dengan warna kuning, yang memiliki mata sabuk hitam sangat besar dengan lubang ditengahnya dan pisau kecil tertempel disebelahnya. Seluruh kulit bagian tubuhnya tertutup pakaian kecuali bagian hidung kebawah yang terlihat dari balik sela-sela tudung yang dia pakai.

Pengumuman dari pramugari memecahkan perhatianku, pramugari tersebut menyuruh seluruh penumpang untuk mengenakan seatbeltnya karena pesawat akan segera diberangkatkan.

Setelah kukenakan seatbelt, aku pun memilih untuk langsung tidur seperti orang disebelahku apalagi bila kuingat tujuanku masih sangat jauh dari sini, dan  dengan cepat diriku masuk kedalam alam mimpi—.

“Kyaaa!” Teriak seorang wanita membangunkan tidurku.

Aku membuka mata.

Orang aneh disebelahku sudah tidak ada.

Tunggu―dia sedang berdiri dilorong pesawat sambil menodongkan PISTOL kearah pramugari, yang dia dekap ditangannya.

Apa yang sedang terjadi disini ?

Sudah kuduga orang itu aneh, tapi bagaimana bisa dia membawa pistol padahal harus melalui pendeteksi logam. Penumpang yang lain terlihat ketakutan dan perlahan mundur menjauh.

Orang aneh itu mendorong pramugari tersebut. Butiran peluru keluar berkali-kali dari pistol yang dia arahkan ke pramugari yang baru dia dorong. Tiba-tiba saja, dia menengok kearahku sambil membuka tudung kepalanya.

Walaupun takut tapi rasa penasaran mendorongku untuk melihat wajah orang itu. Dia memiliki rambut pirang yang membuat dia terkesan seperti bule tapi jelas wajahnya sangat “lokal” sekali. Matanya aneh, sebelah warna matanya merah dan sebelah lagi coklat. Tatapan pria itu terlihat sangat serius, seperti ada sesuatu yang dia perlu katakan kepadaku.

Ingin rasanya aku menoleh kearah lain, tapi jujur saja aku takut bernasib sama dengan pramugari tadi. Tangan kirinya bergerak merogoh saku mantelnya. Tetapi matanya tidak bergerak sedikit pun dari sana, bahkan tidak mengedip sama sekali. Sesuatu yang hitam seperti gembok ditarik keluar dari dalam saku mantelnya.

Tiba-tiba saja tangan kanannya yang memegang pistol, diarahkan kepadaku. Saat itu yang dipikirkan olehku adalah lari, tapi bagaimana caranya. Aku terhimpit oleh kursi penumpang dan posisiku mentok dengan jendela pesawat, dan tidak mungkin untukku menorobos kedepan karena itu sama saja aku menjemput ajalku sendiri.

Tanpa berkata apa-apa, dia mengangkat tangan kirinya yang memegang benda yang semakin kuyakini sebagai gembok, hingga setinggi wajahnya.

“Henshin, “ Kata-kata itu tiba-tiba saja terucap dari mulutnya yang tertutup dari tadi.

Disusul suara pria muncul dari dalam gembok hitam yang terbuka seiring suara itu muncul. “Kusatta Kudamono !”

“Dooor !” Suara tersebut muncul dari pistol yang ditembak oleh tangan kanan pria itu. Sebutir peluru yang keluar dari pistol tersebut tidak mengenaiku, tetapi melubangi kaca jendela pesawat. Sedotan udara besar muncul dari lubang tersebut. Tiba-tiba saja dinding pesawat tersebut hancur sehingga membuat lubang besar yang langsung menarik diriku keluar dari pesawat.

Mungkin kalian mulai mendapat pencerahan mengapa aku takut akan pesawat, bukan ?

Saat itu, baru terpikirkan olehku tentang sudah sejauh mana pesawat ini terbang. Aku terjatuh dari ketinggian yang entah berapa ribu meter dan saat kulihat kebawah tak ada barisan pulau sama sekali. Semuanya hanya bentangan lautan biru. Ini adalah pemandangan asing bagiku, karena jelas ini bukanlah ketinggian diatas Indonesia yang memiliki banyak pulau.

Deburan angin mengacak-acak rambutku, mengeringkan mata dan bibirku. Pemandangan biru pun kurasakan semakin mendekat. Jelas hal ini lebih mengerikan dari wahana ekstrim apapun yang dikatakan menakutkan, karena hal ini tidak seperti bungee jumping yang akan menarik pemainnya sebelum menyentuh permukaan. Ini adalah terjun bebas dan hal ini nyata bukan wahana.

Tepat sebelum menyentuh asinnya air laut, tubuhku terasa seperti ditarik keatas.

Sedikit demi sedikit tubuhku terkoyak hancur menjadi titik-titik partikel cahaya. Aku mulai tidak dapat merasakan tubuhku sama sekali dan kesadaranku pun mulai memudar saat itu.

Cukup untuk hal yang aneh, apa yang sebenarnya terjadi sih ?

“Jika saja sebelum berangkat aku sarapan terlebih dahulu, pasti aku akan mati dengan perut terisi.” Sesalku didalam kesadaran miliku yang mengambang.

Apakah ini yang namanya kematian ? Mengapa begitu gelap ?

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Terima kasih telah membacanya, kisah ini akan bersambung ke bagian ke dua yang akan segera dipublikasikan di blog ini mungkin besok.

Maaf jika ada salah-salah kata yah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s