April Preview or Review (?)

Akhirnya setelah sekian lama saya mendapat kesempatan menulis Blog lagi, ditengah kesibukan akan tugas kuliah dan diri saya sendiri yang sulit membagi waktu tapi akhirnya kesempatan menulis Blog pun tiba, April sendiri sudah berjalan lebih dari separuhnya walau masih belum mencapai akhir bulan tapi tidak ada salahnya saya membuat ulasan Bulan ini.

APTB

Awal bulan April saya awali dengan mencoba angkutan massal baru untuk mencapai tempat kuliah saya yang berada diJakarta, saya yang biasa memakai kereta mencoba menggunakan APTB yang memiliki jalur Bubulak-Rawamangun yang tidak lain jalurnya melewati kampus saya.

Perjalanan saya awali dengan menunggu bus tersebut dihalte pada perempatan Jalan Baru Bogor yang berada tidak jauh dari rumah saya, dan bus tersebut pun datang pada jam 05:50 WIB, dan ketika bertanya-tanya ke penumpang lain katanya bus berangkat 30 menit sekali jadi kemungkinan ketika jam 05:20 bus tersebut pun melewati halte yang kunaiki tersebut.

Seperempat perjalanan kupakai untuk tidur karena perjalanan yang cukup pagi membuat saya kurang istirahat, lalu saat terbangun tepat saat bus tersebut terjebak kemacetan di daerah Cibubur yang sangat panjang dan padat, akan tetapi karena kebetulan ACnya yang dingin dan perjalanan yang macet membuat mataku lelah dan terlelap kembali.

Saat terbangun lagi saya sudah berada dipintu masuk tol Cawang yang ternyata macet juga, dan saat melihat jam waktu telah menunjukan jam 07:50, tepat 10 menit sebelum waktu saya masuk kuliah dan saya menyadari akan hal ini karena kebetulan hari ini adalah senin pagi jadi wajarlah saya terjebak kemacetan yang menimbulkan keterlambatan. Pada akhirnya saya pun mencapai kampus saya pada jam 08:20 WIB.

Beberapa hari setelah kejadian terlambat tersebut saya pun menjadi penasaran bagaimana kalau saya pulang menaiki bus tersebut dan walhasil saya mencobanya, dan ternyata waktu tempuhnya lebih cepat beberapa menit kerumah saya dibanding kereta, karena kebetulan rumah saya memang dekat dari halte tempat naiknya bus tersebut.

Mimpi 

Entah karena alasan apa tapi akhir-akhir ini pada bulan April saya sering sekali mengalami mimpi-mimpi buruk dan mimpi buruk tersebut entah mengapa membuat saya takut sendiri, karena pada mimpi buruk saya tersebut terjadi hal buruk yang menimpa orang-orang didekat saya.

Salah satu mimpi terburuk dibulan ini ketika selama beberapa hari berturut-turut saya memimpikan anggota keluarga saya meninggal akan tetapi pada tengah mimpi mereka ternyata tidak meninggal, entah mengapa mimpi tersebut membingungkan sekaligus membuat saya takut juga pada waktu saya bangun, dan membuat saya entah mengapa makin takut kehilangan keluarga saya.

Tidur

Mungkin karena rutinitas yang padat kuliah pulang pergi Bogor-Jakarta membuat badan saya terasa cepat letih, terlebh lagi akhir-akhir ini kadang saya jadi malas makan, dan sudah banyak orang-orang yang memperhatikan bahwa saya mengurus, akan tetapi saya sendiri tidak mengetahui apakah berat badan saya menyusut karenanya atau tidak. Berat badan bukanlah masalah utama sebenarnya akan tetapi kebiasaan saya tidurlah yang jadi masalah utama, sudah terhitung semenjak bulan April saya sering sekali tidur dimana saja, seperti dikampus ketika tidak ada dosen tentunya, atau dikereta akan tetapi dengan intensitas lebih lama, bahkan saat mencapai rumah ketika sore hari biasanya saya terlelap hingga maghrib tiba, dan tertidur lagi ketika sehabis isya.

Akan tetapi walau sepulang kuliah saya tidur dan sehabis isya saya tidur kembali, saya tidak pernah tidur hingga pagi menjelang, atau malah terjaga ketika tengah malam. Saya tidur tetap pada waktu-waktu biasa akan tetapi dalam sehari saya jadi lebih sering tidur, entah karena saya jarang berolah raga atau memang badan saya sudah mulai letih dan cepat lelah, saya sendiri tidak tahu tapi saya harap kebiasaan seperti ini tidak terjadi lagi bulan depan.

Jabat Tangan

Beberapa hari yang lalu tepatnya pada hari minggu tanggal 14 April 2013 kemarin, saya dan teman-teman saya menghadiri sebuah acara jabat tangan, acara tersebut diadakan sebagai rasa terimakasih si pembuat acara untuk para pembeli CD yang waktu itu mereka jual, dan diacara jabat tangan tersebut kita dapat bebas memilih orang yang ingin kita jabat, dan mendapat waktu ngobrol yang cukup pribadi selama rentang waktu sekitar 10 detik. Karena acara tersebut terletak disuatu mall di daerah Senayan Jakarta maka saya dan teman-teman saya memutuskan untuk pergi ketempat itu menaiki kereta dari Bogor pagi sekitar jam 7, akan tetapi karena jadwal jabat tangan yang berbeda-beda maka saya memutuskan untuk berangkat lebih siang apalagi karena sebelum berangkat saya sendiri harus menghadiri acara keluarga terlebih dahulu. Sekitar jam setengah 3 saya sampai dimall tujuan itu juga karena saya cukup lama menunggu teman saya yang ikut menyusul di stasiun Sudirman. setelah itu sayamemutuskan untuk mencari teman saya yang lain yang telah berangkat lebih dulu, yang ternyata sedang istirahat makan di lantai Basement, saya pun langsung memutuskan untuk bertemu mereka disana. Setelah ngobrol dan beristirahat cukup lama di basement, kami pun memutuskan naik kelantai 4 dimana acara jabat tangan berlangsung, sesi saya sendiri jam setengah 4 dan jam setengah 5 jadi saya sendiri santai untuk masalah jabat tangan. Jujur untuk berjabat tangan dengan orang yang di sesi setengah 4 sebenarnya saya agak malas awalnya karena di sesi itu saya benar-benar sendiri, karena teman-teman saya ada disesi lain sedangkan yang disesi setengah 5 ada beberapa teman saya yang ikut jadi tidak masalah, akan tetapi karena saya sudah keburu masuk pada sesi setengah 4 dan menukarkan tiket untuknya saya pun apa boleh buat harus berjabat tangan dengannya, dan satu hal yang saya lihat ketika melihat orang keluar dari acara jabat tangan adalah wajah berbinar bahagia. Saya pun mengantri untuk menukarkan kertas untuk penukaran tiket dengan tiket, selama mengantri saya terus-menerus melihat orang yang keluar dari tempat  berjabat tangan dengan wajah bahagia dan senang, perlahan tapi pasti akhirnya saya menukarkan tiket saya, akan tetapi entah kenapa si penukar tiket seperti berusaha meyakinkan saya apa saya yakin berjabat tangan dengan orang yang saya pilih, lalu saya masuk ketempat berjabat tangan yang dibagi menjadi 6 jalur dengan masing-masing orang didalamnya, orang yang saya tuju berada dijalur 5 sebelum menuju kesana saya menggunakan cairan pembersih yang disiapkan disana sambil melihat keadaan terlebih dahulu, saya pun sempat berbincang sedikit dengan orang yang dituju oleh jalur 1, setelah saya cukup melihat-lihat saya pun melihat antrian orang yang saya tuju dijalur 5 terlihat penuh, akan tetapi ketika saya mendekat saya pun tertipu karena ternyata antrian yang penuh dan sesak adalah antrian dijalur 4 dan 6, sedangkan antrian dijalur 5 sangatlah sepi bahkan ketika saya datang antrian tersebut hanya 3 orang termasuk saya sendiri, dan ketika melihat kebelakang tidak ada seorangpun mengantri dibelakang saya. Setelah 2 orang didepan saya selesai berjabat tangan dan jelas mereka dikenal dengan orang diajak berjabat  tangannya, masuklah giliran saya dan saya pun maju. dan memberikan selembar tiket saya kepada satpam yang berjaga dijalur saya

“Hai *BIPP*

“Hai, Siapa namanya yah ?” *sambil senyum dan tangannya meremas tangan saya pelan

“Hmm… namaku Tri… Tri Juniardi.”

“Ah iya, Tri Juniardi yang suka ngasih *BIPP* itu yah ?” 

“…  Ah, iya Tri yang itu, bener itu aku” *sambil kaget dan terdiam sejenak

“Oh, oke kalau begitu :)” *entah tangannya memijat saya atau meremas saya, saya pun tidak tahu.

“Oh iya mau ngasih tau kalau belum bisa *BIPP* dulu bulan ini, palingan baru bisa lagi bulan depan maaf yah (^_^”)”

“Ah, gak apa-apa kok aku juga belum ada dilist, jadi sampai ketemu lagi bulan depan yah :)”

“oh iya gimana udah sembuh total belum ? kan kemarin kamu sakit =]”

“Oh tenang ajah aku udah sembuh total kok, makasih yah perhatiannya =]”

“Ah iya sama-sama, itu kamu giginya sekarang dibehel yah ?” *sambil menunjuk dan memperhatikan giginya.

“I-Iya soalnya gigiku gak rapi, makanya giginya aku behel, tapi masih lucu kan akunya ?” *dengan senyuman menggoda

“Hmmm lucu ? ah jelaslah masih lucu kamu mah.” *pikiran makin tidak konsen karena tangan saya yang terus diremas

“Oh baguslah kalau begitu, makasih yah =]”

*Terdiam sejenak bingung mau bicara apa lagi tapi ingat bahwa rambutnya kemarin-kemarin baru saja dicat*

“oh iya itu rambutnya… wah sayang banget baru kemaren dicat sekarang udah dihitamkan  lagi” *jujur sebenarnya lebih suka dia dengan rambut hitam, jadi obrolan ini kurang lebih hanyalah basa-basi xD~

“Ah enggak kok ini diwarnain lagi tapi gak terlalu keliatan, jadi……” *konsentrasi saya hilang disini dan pikiran saya buyar kemana-mana karena tangannya dia lagi dan lagi meremas tangan saya dan membuat saya sendiri kehilangan kendali akan pikiran dan konsentrasi saya, akan tetapi konsentrasi saya kembali ketika satpam berkata “NEXT” akan tetapi dia masih belum selesai berbicara juga.

*Setelah dia selesai berbicara dan diakhiri dengan tertawaan  kita berdua, saya sendiri lupa waktu itu tertawa kenapa ( ‘_’)

“*BIPP* makasih yah, jangan lupa jaga kesehatannya”

“Oh iya sama-sama, makasih perhatiannya :)” *sambil memberi stiker yang berada dimeja tempat kami berjabat tangan

“Sampai bertemu nanti   bulan depan yah, Bye~ =]” *sambil melambaikan tangan.

Saya yang awalnya merasa malas, malah bersemangat setelah berjabat tangan dengannya karena saya tidak menyangka dia dapat membuat saya menjadi buyar pikirannya, dan saya cukup senang setelah saya terdapat 2 orang lagi yang ingin berjabat tangan dengannya walaupun tetap saya cukup sedih karena antriannya sangatlah sepi dibanding orang lain di sesinya.

Saya pun keluar dan menceritakan sedikit pengalaman saya didalam dengan teman-teman saya diluar, setelah itu kami semua memutuskan untuk diam ditempat lain sambil menunggu sesi saya lagi tapi nanti jam setengah 5.

Setelah jam setengah 5 saya dan teman saya menyusul teman saya yang lain yang sudah terlebih dahulu masuk ke sesi tersebut, dan antrian pun lebih padat daripada antrian di sesi setengah 4 tadi, ketika antrian penukaran tiket saya sudah cukup depan saya melihat perempuan yang keluar dari tempat jabat tangan dengan histeris dan ekspresif, saya tidak mengerti apa dia terlalu bahagia telah berjabat tangan dengan orang yang dia inginkan atau kenapa yang pasti dia seperti bahagia akan tetapi dia mengungkapkan dengan terlalu ekspresif.

Entah kenapa semakin depan antrian penukaran tiket semakin padat, dan lalu seorang satpam yang mengatur antrian pun berkata dengan lantang “Yang bukan mau berjabat tangan dengan N*BIPP* duluan yah duluan.” mendengar hal tersebut saya dan teman saya dan beberapa orang lainnya yang sepertinya bukan berjabat tangan dengannya maju, akan tetapi ketika saya maju beberapa langkah ada pemuda yang menyerobot antrian saya yang lalu ditanya oleh petugas keamanan. “Kamu mau jabat tangan sama siapa ?”

“Sama N*BIPP* Pak.”

“Kan tadi saya bilang yang bukan N*BIPP* yang duluan”

Akhirnya pemuda-pemuda itu mundur dan saya pun akhirnya menukarkan kertas penukaran saya dengan tiket, setelah masuk ketempat acara saya dan teman saya pun berbincang-bincang terlebih dahulu untuk menunggu karena cukup penuh lajur antrian diorang yang kami tuju dilajur 3. Setelah beberapa lama antrian masih penuh tapi kami memutuskan untuk memasuki barisan antrian dan melanjutkan perbincangan ditengah antrian, akan tetapi perbincangan kami terganggu ketika ada orang dengan jersey berwarna biru membawa cukup banyak tiket dijalur 2, dan ketika satpam menghitungnya dikatakan bahwa tiket yang dia bawa adalah 48 buah yang berarti dia dapat berjabat tangan sebebasnya selama 8 menit, akan tetapi selang sekitar 20 detik orang tersebut langsung pergi meninggalkan tempat jabat tangannya, entah apa yang dia pikirkan membuat saya kaget, satpam yang menjaga jalur 2 kaget dan orang-orang yang mengantri dijalur 2 pun kaget karena hal tersebut.

Beberapa lama saya dan teman saya pun sampai ditengah barisan dimana teman saya yang lain yang mengantri dijalur 4 yang sedang berjabat tangan, dan percakapannya cukup keras dan terdengar hingga telinga saya dan akhirnya dia pun selesai berjabat tangan dengan bahagia kelihatannya. Perlahan akupun maju kedepan akan tetapi entah kenapa perasaan ini semakin berdebar dan keringat dingin pun keluar dari pori-pori tubuh ini, sudah lama rasanya tidak merasakan gugup seperti ini akan tetapi pertanyaannya mengapa harus sekarang dan membuat jantung saya berdebar semakin keras.

Setelah penantian yang cukup memakan waktu akhirnya saya sampai didepan barisan dan teman saya memasuki sesi jabat tangannya, sambil menunggu teman saya tersebut pun jantung saya semakin berdebar hingga akhirnya tiba giliran saya, dan jantung saya berdetak semakin liar hingga saya pun semakin bingung ingin berkata apa berbeda dengan jabat tangan sebelumnya, mungkin karena orang yang akan saya jabat saat ini adalah orang yang sudah saya ikuti selama setahun lebih, berbeda dengan yang sebelumnya sehingga perasaan saya yang terbendung lama seperti ingin tumpah pada saat itu juga. Percakapan kami pun dimulai.

“Hai *BIPP* apa kabar ^_^  ?”

“Kabarku baik kok, kamu sendiri gimana kabarnya ?” *dengan senyum manis yang sudah saya perhatikan selama setahun.

“Kabar aku juga baik kok, hehehe.. .” *sambil tersenyum kaku melihat pancaran senyuman orang didepanku yang sudah tidak dihiasi dengan behel lagi giginya, dia seperti menukar giginya dengan orang yang handshake denganku sebelumnya, dia terlihat sungguh menawan walaupun barisan jerawat terlihat diwajahnya tapi hal tersebut justru seperti menjadi hiasan pemanis diwajahnya.

Tanpa sadar aku terdiam sejenak karena pemikiran tadi  dan ketika tersadar tiba-tiba saja muncul hal yang aku ucapkan entah itu muncul darimana, yaitu :

“*BIPP*, Perkenalkan namaku Tri Juniardi.” *sambil menunduk

“Apa? Tri siapa ?” *Dengan berusaha mendekatkan telinganya ke dekat saya.

“A-aah Tri… Tri Juniardi.” *dengan terbata-bata sambil tergugup karena jarak kami semakin dekat.

“Okey, Tri Juniardi yah ? aku ingat” *sambil tersenyum dengan wajah berbinarnya

Ketika mendengar dia mengeja nama saya disaat itu pula perasaan saya melumer bercampur dengan kebahagiaan, mungkin orang yang membaca cerita saya sejak awal akan mengira saya berlebihan tapi sayangnya itulah yang saya rasakan pada saat itu, dan sesaat pikiran saya yang kosong terisi dengan kebahagiaan yang amat sangat.

“O-oh iya *BIPP* minggu ini kemungkinan besar aku nyaksiin kamu jadi sampai ketemu yah :D”  *entah kenapa pada saat itu saya berkata dengan cukup cepat.

“A-Apa ?” *sambil lagi-lagi mendekatkan telinga dan kepalanya lagi kearah saya.

“Hmmm… Aku kayanya bakal nonton kamu minggu ini jadi sampai ketemu nanti yah :)”

“Oh, Okey sampai ketemu nanti yah :)”

NEXT

“Loh, kok udah habis ? :(“ *dengan wajah sedih bercampur bigung karena entah kenapa cepat sekali sudah habis lagi waktu kami berjabat tangan.

Kami pun mengakhiri sesi jabat tangan dengan bercakap-cakap ringan sambil tangannya menahan tanganku sembari dia mengambil stiker dirinya, dan dia pun memberikan stikernya sambil memiringkan wajahnya dan senyum dengan manis.

“Terima kasih yah *BIPP* sampai ketemu nanti dipenampilan kamu diminggu ini yah :)”

“Ah, sama-sama. Sampai ketemu nanti yah :)”

“Jangan lupa jaga kesehatan juga dan semangat terus yah (^_^)/”

“Okey, aku semangat ! (^_^)/” *sambil melambaikan tangan tanda perpisahan acara jabat tangan kami.

Kedua jabat tangan tersebut memberi pengalaman tersendiri di ingatan saya, dan sekianlah kira-kira cerita jabat tangan saya pada hari tersebut yang masing-masing saya simpan sebagai simpanan memori indah diotak saya, yang terus membuat saya semangat sampai hari ini.

Cerita

Karena sudah lama saya tidak membuat cerita maka saya pikir saya akan mencoba mengetik sedikit cerita karangan saya disini, karena saya kehabisan ide dan inspirasi karena terlalu terikat dengan rutinitas sehari-hari maka saya akan membuat cerita karangan yang berdasarkan kehidupan sehari-hari yang saya rubah sedikit, Jadi mohon dibaca yah sedikit cerita karangan saya walaupun saya tidak akan menulis full ceritanya, hohoho~

Kintan Rilehewati

Kisah Tanpa Tema

~Sisi Kintan~

Redi Junaeni

Prolog

Menjadi siswi SMA yang serius mengejar pendidikan dengan mengesampingkan hubungan cinta dengan lawan jenis.

Mungkin hanya itulah yang  ada di isi kepala Kintan Rilehewati.

Perlu pertemuan yang tidak terduga dan diwaktu yang tepat, hingga akhirnya dapat membuat Kintan membuka hatinya untuk berpikir untuk menjalin hubungan cinta. Bila melihat kebelakang sudah banyak pria-pria yang berusaha untuk melakukannya, akan tetapi berakhir kegagalan untuk membuka hati Kintan.

Pada kondisi kasmaran pertamanya ini, Kintan sendiri bingung apa yang harus dilakukannya untuk membina sebuah hubungan cinta pertamanya tersebut.

Sebuah kisah romantis pertama buatan saya pun dibuat dengan menjadikan saya sebagai tokoh utama dan kehidupan saya belakangan ini sebagai latarnya dengan dicampur khayalan fiksi saya tentang cinta, dan terlahirlah sebuah cerita yaitu…

 «Kisah Tanpa Tema»

BAB 01

Sukmawati 

Sebuah angkutan kota setengah terisi yang sedang ngetem kunaiki tepat didepan Mawar (BigMart) sepulang sekolah.

Entah mengapa tempat duduk dipojok kanan yang berada tepat dibelakang kursi angkutan kota tersebut menarik perhatianku untuk duduk disana. Angkutan kota tersebut adalah 06 yang memiliki jalur operasi Parung-Bogor, yang saat itu sedang ngetem menunggu penumpang penuh dan lalu dia akan mulai beroperasi menuju Parung.

Setelah beberapa lama angkutan tersebut pun mulai penuh hingga penumpang terakhir menaikinya, penumpang tersebut adalah lelaki yang kelihatan sedikit berantakan dengan rambutnya, mukanya pun sedikit kusam, dan dia memakai jaket hitam yang berpola telapak tangan warna-warni yang terlihat kumal. Lelaki itu pun duduk disebelahku karena memang hanya itulah tempat duduk kosong yang tersisa.

Angkutan umum tersebut pun langsung tancap gas sesaat setelah dia membayar sejumlah uang pada keneknya.

“Biip…Biip…Biip.”

Notifikasi telepon layar sentuhku berbunyi, dan kulihat bahwa notifikasi tersebut berasal dari group WhatsApp kelasku XI IPA II.

“Eh, ada yang udah tugas Kimianya bu Jessica gak ?”

“Hah tugas yang mana, cuy ?”

“Tugas disuruh buat laporan praktek kimia kemaren di kertas Folio.”

“Jir, kok gue baru tau sih ?”

“Waduh, gue gak nyatet lagi hasil praktek yang kemaren DX”

Percakapan demi percakapan muncul dari teman-teman sekelasku yang terlihat kaget dengan tugas tersebut, akan tetapi aku sendiri tidak terkejut seperti mereka karena aku kebetulan telah mengerjakan laporan tersebut tepat setelah praktek kimia tersebut.

“Tenang aku udah kok :)”

“Nanti besok pagi kalian tinggal nyalin ajah, tapi dirubah-rubah yah hasilnya soalnya kan prakteknya beda-beda hasil, hehe”

Setelah aku membalas seperti itu, percakapan pun berubah dengan mereka berbondong-bondong mengucapkan syukur dan terima kasih kepadaku. Kebetulan hal tersebut biasa karena aku dianggap anak pintar dan rajin yang selalu menjadi penolong oleh teman-teman dikelasku, aku sendiri tidak mengakui hal tersebut tapi entah mengapa yang lain disekitarku selalu menganggapku begitu.

Setelah tertawa kecil melihat ekspresi teman-temanku yang bermacam-macam, akhirnya aku menaruh telepon genggamku disaku kanan rok abu-abu SMAku tanpa ada keraguan sedikitpun.

Sesampai angkot yang kunaiki didepan Komplek Menteng Asri yang tidak lain adalah komplek rumahku, aku pun turun tanpa ada perasaan apapun dan membayar sejumlah uang kepada supir angkotnya, lalu aku pun menyebrang untuk menuju komplek rumahku yang langsung disambut tukang becak yang menawarkan jasanya, akan tetapi karena hari ini disekolah sendiri tidak terlalu melelahkan aku pun memutuskan untuk berjalan saja menuju rumahku.

Setelah berjalan beberapa lama akupun akhirnya sebentar lagi sampai kerumahku kira-kira tinggal 1 blok lagi, akan tetapi  aku pun teringat akan buku yang temanku pinjam kemarin dan sadar bahwa tugas laporan kimiaku terselip dibuku tersebut, dan ketika aku memutuskan untuk mengirim pesan singkat lewat telepon genggamku disaat itu pula aku tersadar.

“Handphoneku kemana ?”

Wajahku memucat dan keringat dingin bercucuran didahiku, apalagi bila kuingat bahwa telepon genggam itu baru dibeli seminggu lalu ketika telepon genggam lamaku kecopetan disebuah angkot, pemikiran negatif pun muncul “Apa handphoneku diambil sama orang berwajah kusam disebelahku tadi ?” Akan tetapi pemikiran negatifku terpatahkan oleh analisaku sendiri “Gak mungkin sih dia yang ambil, kan aku taruh disaku kananku yang notabene dia duduk disebelah kiriku jadi gak mungkin dia yang ambil.” Aku pun berpikir keras, dan mendapat sebuah jawaban yaitu telepon genggamku hilang akibat ketoledoranku sendiri.

“Aduh gimana nih, ngomong apa ke ibu sama ayah yah ? pasti mereka marah nanti tapi yah mau gimana lagi ? aduh Kintan kenapa sih kamu kok Toledor banget.”

Setelah Berbicara monolog dan berpikir tanpa menemukan hasil kira-kira selama 10 menit terdiam, akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulangku dan berusaha berkata jujur saja nanti sesampainya aku dirumah.

“Kintan !”

Aku pun terkaget mendengar ada yang memanggilku begitu keras, hal tersebut memecah kekhawatiranku akan hilangnya telepon genggamku, sumber suara tersebut berasal dari ibu-ibu yang membawa sebuah motor matic berwarna pink, dan suara tersebut sebenarnya terasa tidak asing, dan aku pun sadar siapakah pemilik suara tersebut setelah melihat sosok wanita gemuk memakai jaket motor berwarna biru dengan jeans berwarna putih.

“Eh, Ibu mau kemana ? Kok siang-siang keluar gini.”

Ibuku adalah tipikal orang yang sering mengagetkan dan mengejutkanku dimanapun dia berada oleh karena itu aku menamainya dikontaku dengan nama “IBU !?!” dimana itu sebagai simbol dia pasti akan memberi kabar mengagetkan melalui telepon ataupun sms, akan tetapi dibalik itu semua dia adalah sosok yang sangatlah ramah dan mudah bergaul dengan lingkungan sekitar, dan juga dia orang yang mudah tersenyum dimana walaupun hal itu menyebabkan kemunculan kerut diwajahnya akan tetapi hal itu juga membuat matanya menyipit dan melengkung bagaikan bulan sabit.

“Kintan, kamu kehilangan HP-mu lagi yah ?”

“E-Eh kok ibu bisa tahu sih ?” Keringatku pun mengucur mendengar hal tersebut

“Ya ampun kamu jadi anak kok toledor banget sih kalau masalah HP, padahal kan kamu anaknya apik banget kalau masalah barang-barang lain, tapi buat ngerawat HP kamu gak pernah apik.”

“Ma-Maaf yah bu aku juga tadi baru tahu Handphone-ku hilang baru saja, ibu sendiri tahu darimana Handphone-ku hilang ?”

“Udah kamu naik motor dulu saja ini dibelakang, nanti ibu jelasin semuanya dijalan.”

“O-Okey.”

Aku pun langsung menaiki jok belakang motor tersebut dan kebiasaan ku pun muncul yaitu memeluk orang yang memboncengiku, sambil bertanya tanya mengapa ibuku bisa mengetahui masalah hilangnya telepon genggamku tanpa aku beri tahu, pemikiran demi pemikiran pun berkecamuk didalam kepalaku berusaha menebak-nebak alasan mengapa ibuku bisa tahu.

“Tan, kamu janji yah jangan pernah hilangin HP-mu lagi, ibu gak mau beliin lagi kalau kamu toledor begini terus yah.”

“Iya bu, maaf yah aku gak lagi-lagi deh tapi yah gimana sekarang udah keburu hilang.”

“Belum hilang kok, jadi gini tadi ada yang nelpon ibu pas ibu lagi beres-beres dirumah, katanya dia nemuin HP-mu dan didalam angkot yang tadi dia naiki, dan sekarang dia lagi nungguin kita didepan polsek yang diseberang Menteng asri itu.”

“Hah, yang bener bu ? Wah orangnya baik banget ngembaliin HP yang dia temuin keorangnya bahkan sampai ditelpon lagi.”

“Makanya kamu jangan toledor lagi, coba yang nemuin bukan orang kaya dia pasti udah ada di counter-counter deh HP kamu.”

Aku pun diam mendengar omelan ibuku dijalan, akan tetapi aku senang karena ternyata telepon genggamku ketemu dan ditemukan oleh orang yang cukup baik hati.

Dengan senyum penuh pengharapan yang diterpa oleh angin motor, itulah awal dari segalanya.

Hari itu dan moment tersebutlah yang memulai perubahan dalam hidupku.

 «Kisah Tanpa Tema»

Tri Juniardi

Itulah akhir dari Bab 1 dari cerita di blog ku saat ini, karena pemeran utamanya adalah saya sendiri tapi sayang sekali belum ada tanda-tanda kemunculan di Bab 1 ini, maka kisah selanjutnya saya harapkan akan segera keluar, dan cerita saya akan saya bagi dengan 2 point of view yaitu yang sekarang dari sisi sosok fiksi Kintan dan nantinya akan sisi dari saya sendiri Tri Juniardi jadi Mohon ditunggu yah lanjutan cerita diatas saya ini, Maaf bila ada salah-salah kata pada tulisan saya dan Terima Kasih atas perhatiannya.  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s