[No Title]

Prolog

Jardi Rituni = Tri Juniardi

Seorang Pemuda 19 tahun yang tergila-gila dengan sosok idolanya Varisca Senjeda. Mungkin hanya itulah yang bisa mendeskripsikan  seperti apa sosok Jardi Rituni.

Butuh waktu setahun lebih hingga Jardi akhirnya dikenal oleh sosok idolanya Risca, bahkan tanpa Jardi sadari alasan sebenarnya Risca mengenalnya karena orang tua Jardi dan Risca yang sebenarnya adalah sahabat karib yang terpisah jauh, kenyataan sebenarnya pun terkuak tepat dirumah Jardi, yang seharusnya terdengar mustahil yaitu seorang idola mengunjungi rumah fansnya sendiri.

Ditengah kenyataan mengejutkan yang terkuak, timbulah perasaan yang melebihi perasaan idola pada fansnya pada hati Risca, Perasaan itupun jelas bukan perasaan menghormati anak dari teman orang tua. Hanya butuh waktu singkat hingga mereka berdua menyadari bahwa perasaan yang mereka rasakan bukanlah perasaan biasa, akan tetapi bila mereka ingin melanjutkan kehubungan yang lebih dari hubungan mereka sekarang, terdapat 2 tembok besar yang menghalangi mereka yaitu kepercayaan mereka yang berbeda dan sebuah aturan semengkilap emas dan kokoh sekokoh benteng baja yang terpatri pada status Risca sebagai Idol Group yaitu “tidak boleh berpacaran”.

Di bawah kondisi ini, Apakah hal yang akan dipilih Risca dan Jardi, akankah perasaan mereka akan dibohongi atau mereka akan melawan aturan yang mengikat perasaan mereka berdua agar tidak menyatu ? hanya merekalah yang mengetahui jawabannya. Sebuah Pertanyaan besar pun dipertanyakan, apakah kejadian itu semua benar terjadi pada hidup Jardi atau semua itu hanyalah delusi dari seorang fans belaka ? atau bahkan mungkin itu semua hanya bagian mimpi dari pembuat blog ini yaitu Tri Juniardi ? Sebuah Blog pun harus dibuat dengan judul yang membingungkan pula yaitu….

 «No Title»

BAB I

Varisca Senjeda = Jessica Veranda

“Semuanya jadi 50 ribu rupiah.”

Sebuah kalimat terucap dari seorang pemuda lebih tua dari Jardi, pemuda tersebut pun menyodorkan sebuah ponsel dan secarik kertas tepat dihadapannya.

Sedetik sesudahnya, Jardi sadar bahwa ponsel BlackBerry pemberian kakaknya sudah selesai diperbaiki dan secarik kertas didepannya pun menjelaskan secara detail penjelasan pembayaran atas jasa servis ponsel yang pemuda didepan Jardi lakukan. Jardi pun memasukan ponsel layar sentuh yang asyik dia mainkan kedalam kantung saku samping celana jeansnya dan dia tukar dengan dompet bahan berwarna coklat dikantung belakangnya.

“Jadi 50 ribu yah, mas ?”

“Iya segitu mas, itu untuk trackball sama biaya servis handphonenya.”

Orang yang didepan Jardi tersebut, memperhatikan Jardi yang mengambil secarik kertas biru satu-satunya dari dompetnya yang bertuliskan 50.000. Jardi pun melirik orang didepannya tersebut dan langsung memberikan uang tersebut.

“Ting-Ning”

Terdengar suara nyaring ringtone ponsel layar sentuhnya Jardi yang bergetar bersamaan suara itu muncul. Jardi menyadari bahwa itu pastilah adalah pesan Line  dari temannya yang menunggunya distasiun, Jardi pun dengan cepat langsung mengambil ponsel Blackberrynya beserta kertas yang berada disampingnya dan langsung beranjak dari tempat itu sambil berkata, “Terima Kasih mas…”

Jardi pun sambil berlari-lari kecil beranjak dari mall dimana tempat servis ponsel itu berada, dia lalu menaiki sebuah angkutan perkotaan yang berada tepat didepan mall tersebut, angkutan tersebut berwarna hijau yang pada ujung samping dari kaca depan dan belakang mobil tersebut terdapat angka (07), setelah dia duduk Jardi pun langsung melihat ponsel layar sentuhnya dan menyentuh sebuah aplikasi berwarna hijau dengan tulisan putih “Line”, lalu dia mengarahkan kesebuah group chat bertuliskan “REC Club”.

Pada dimana braw ?”

Bentar lagi gue nyampe nih, udah diparkiran stasiun nih gue (y)”

Udah semua nih, Jardi lu dimana woy ?”

“Cepetan  dikit kestasiunya bisa kali braw.”

Bales kali braw.”

Udah Dateng nih Jar keretanya, lu dimana  braw ?”

“Bales woy !!!”

Pesan demi pesan pun muncul pada chatroom dari groupchat “REC Club” tersebut, dan pertanyaannya pun hanya menanyakan dimana lokasi Jardi pada saat itu, karena Jardi berjanji untuk bertemu teman-temannya distasiun besar Bogor pada jam 10 tepat, akan tetapi samapi saat ini yaitu jam 10:30 dia belum menunjukan batang hidungnya didepan teman-temannya. Jardi pun dengan cepat menuliskan pesan singkat pada chatroom “REC Club” tersebut.

Sorry, tadi gue abis ngambil HP gue dulu, ini gue lagi otw bentar lagi nyampe kok…”

***

Jardi adalah seorang pemuda pemuda berumur yang masih berkuliah semester 3 disebuah Universitas negeri didaerah Rawamangun, dia adalah seorang pemuda yang menyukai budaya Jepang, akan tetapi saat SMA ketika remaja di negaranya sedang terkena badai budaya Korea Selatan dia malah terkena demam idol group dari negara Jepang sana walaupun dia juga terkena sedikit imbas badai budaya Korea Selatan juga.

Tanpa terasa Jardi pun lebih menyukai kepada sebuah idolgroup dengan konsep teater yaitu TKY48(Tokyo48), mereka adalah idol group pertama dengan konsep teater, dan mereka pun memiliki sister-group lain di beberapa kota lain di Jepang yaitu NGY48(Nagoya48), OSK48(Osaka48) dan FUA48(Fukuoka48). Dan hal yang mengagetkan Jardi pun terjadi yaitu mereka membuat sistergroup di Indonesia yaitu SNY48(Senayan48) yang berlokasi di Jakarta pada daerah Senayan.

Idol Group sendiri lebih seperti tempat les untuk mempromosikan diri daripada sebuah pekerjaan, inti pekerjaan mereka adalah membuat mereka dapat mengejar cita-cita mereka sendiri dengan kerja keras mereka bersama fans, dan mereka memiliki beberapa aturan yang salah satunya adalah “Renai Kinshi Jourei” atau “Aturan melawan rasa cinta” yang intinya dimana member pada idolgroup tersebut terikat aturan agar tidak berpacaran.

Setahun semenjak lahir SNY48 pun berlalu hingga Jardi lebih fokus kepada mereka dan menyukai seorang member disana yang dia dukung semampunya yaitu Varisca Senjeda, dan selama setahun pun teman-teman sesama penikmat idol group tersebut pun bertamabah, dimana dia sering keteater SNY48 bersama teman-teman barunya tersebut. Teater SNY48 sendiri terletak pada lantai 7 disebuah mall yaitu G(y) yang terletak tepat disebelah Gelanggang olahraga besar di Senayan.

Untuk menonton Teater itu dapat dengan 2 cara yaitu dengan mendapatkan email verifikasi telah memesan tiket untuk menonton teater mereka atau mengambil waiting list dengan harapan orang-orang yang mendapat email verifikasi ada yang tidak datang. Teater sendiri adalah ajang mendekatkan diri antara penggemar dan idolanya di SNY48, dan tidak sedikit orang dikenal oleh member SNY48 karena sering keteater atau menarik perhatian member pada saat teater.

Satu-persatu temannya Jardi pun dikenal oleh member yang mereka dukung, hingga akhirnya Jardi merasa bahwa dirinyalah yang paling tertinggal diantara yang lainnya, dia kadang merasa bahwa dialah satu-satunya orang yang asing dimata para member diantara teman-temannya. Jardi pun kadang berusaha dikenal akan tetapi kadang juga dia merasa malas jadi usahanya kadang hanya setengah-setengah.

***

Jar, kita duluan yah tanggung keretanya udah dateng dianggurin gini, nanti ketemu di G(y) aja braw.”

Pesan singkat tersebut masuk kedalam aplikasi Line Jardi diponsel layar sentuhnya disaat dia baru turun dari angkutan perkotaan yang dia naiki, pesan tersebut langsung membuat air muka Jardi menjadi lemas karena dia sudah cukup buru-buru untuk mencapai stasiun tersebut, akan tetapi Jardi pun merasa tidak boleh menyalahkan teman-temannya  karena dirinyalah yang terlambat untuk bertemu mereka distasiun.

Jardi pun membuka jaket kainnya yang berwarna hitam untuk menghilangkan rasa panas dan stress yang memenuhi otaknya, sebuah kaos putih polos bertuliskan “Hai, Nama saya Jardi” kecil dibagian depannya dan besar dibagian belakangnya pun terlihat setelah dia menanggalkan jaketnya, yang dia masukan kedalam tas birunya yang dipenuhi album dengan foto member SNY48 dan 2 buah lightstick berbagai warna.

Setelah dia melepaskan Jaket dan menarik nafas panjang agar dia tenang dan mengembalikan tenaganya kembali, setelah degup jantungnya perlahan melambat kekeadaan normal dan kekondiri rileks, maka Jardi pun melanjutkan perjalanannya kembali kestasiun besar Bogor. Sesampainya disana dia pun membeli selembar tiket kereta commuter jurusan Jakarta kota. Jardi pun langsung menghampiri penjaga pintu gerbang stasiun dengan niatan bertanya kapan kereta selanjutnya datang.

Seorang pria cukup gagah berpakaian serba hitam dengan baju berkantung banyak, dan memiliki logo bertuliskan “Commuterline” dan “PT.KAI”, selain itu terdapat sebuah kotak bertuliskan nama mereka juga pada baju tersebut. Pria tersebut adalah penjaga pintu gerbang masuk stasiun, yang memiliki maksud untuk memeriksa karcis dari penumpang yang masuk dan memberi tanda pada karcis tersebut dengan sebuah pembolong kertas ditangannya.

“Permisi Karcis.”

Tegur pria berpakaian serba hitam tersebut saat Jardi menghampiri gerbang masuk area dalam stasiun, dan diai pun langsung menyodorkan tiket miliknya untuk dilubangi sebagai tanda masuk.

“Pak, Kereta kearah Tanah Abang berangkat jam berapa yah ?”

“Hmm… kereta arah Tanah Abang sudah masuk jalan baru, tapi diberangkatinnya masih setengah jam lagi soalnya berangkatin kereta commuter yang kearah kota itu dulu, mas.” Jawab pria itu sambil menunjuk sebuah kereta commuter yang sedang menanti penumpang disalah satu peron dekat pintu masuk stasiun tersebut yang terdapat tulisan angka [3].

“Oh, kalau begitu terima kasih banyak yah pak.” Jawab Jardi sambil membungkuk pergi memasuki area dalam stasiun.

Jardi langsung memasukan tiketnya kekantung celana kanannya dimana dia menauh ponsel yang baru diservisnya disana juga, dan setelah itu dia pun memasuki stasiun dan langsung mengarahkan langkahnya terus kekanan hingga mendekati sebuah minimarket dekat pintu keluar stasiun, dia mendekati sebuah meja yang memiliki banyak stopkontak yang diatasnya terdapat sebuah papan bertuliskan “Charger Gratis”. Dia pun mengeluarkan sebuah charger dari kantung terdepan tas birunya yang didalamnya terdapat 2 buah tempat kacamata akan tetapi didalamnya tidak terdapat kacamata malah terdapat flashdisk dan satu lagi terdapat kunci rumah dan sebuah testpen.

Jardi yang mengeluarkan charger dari tas birunya yang penuh dengan barang-barang aneh didalamnya, dan dia pun langsung mencolokan chargernya kesalah satu stopkontaknya dan mencolokan ujung terminalnya kelubang pada ponsel layar sentuhnya yang boros baterai dan hanya tersisa sekitar 10% dari sisa energinya. Dia lalu duduk didekat meja tempat dia mengisi baterai dari ponselnya tersebut sambil melihat hamparan suasana stasiun besar Bogor didepan matanya, terlihat ada penjual minuman yang menjajakan berbagai macam minumannya dengan berbagai macam merk dan brand kedalam gerbong  kereta commuter pada peron 3 didepan Jardi, dan tidak lupa beberapa tukang koran lalu lalang menawarkan orang-orang diperon penuh penumpang dan juga didalam gerbong Commuter, ada pula tukang tissue dan masker yang juga menjajakan barang dagangannya dimana terlihat seorang perempuan gemuk dengan baju biru bercelana bahan hitam terlihat sedang membeli tissue yang dijajakan oleh tukang tersebut.

Tak terasa beberapa menit berlalu dimana Jardi hanya terdiam memegang ponselnya sambil melihat keadaan stasiun besar Bogor, hingga kesadarannya disadarkan oleh suara pemberitahuan dari petugas kereta pada speaker di stasiun tersebut.

“Kereta tujuan Sudirman, Tanah Abang, Jatinegara akan segera masuk dari arah utara dan masuk pada jalur 2. Dan segera diberangkatkan kereta pada jalur 3 tujuan Jakarta Kota dengan sinyal hijau aman, silahkan berangkat.”

“Uuuwong !!!”

Terdengar suara klakson dari kereta commuter dihadapanku yang menandakan orang disekitar peron berhati-hati karena kereta akan segera berangkat, bersamaan dengan bunyi klakson kereta tersebut pun sedang menutup seluruh pintu-pintunya,  dan hal tersebut membuat beberapa penumpang yang baru memasuki stasiun panik dan buru-buru memasuki pintu yang masih membuka dan menutup tersebut. Tidak lebih dari 1 menit kereta tersebut pun berangkat dan berganti dengan kereta yang mirip dengan kereta commuter tadi akan tetapi memasuki kejalur 2, hal tersebut menyadarkan Jardi bahwa kereta tersebut adalah kereta yang ingin dinaikinya.

Bersamaan dengan berhentinya kereta tersebut dijalur 2 stasiun besar Bogor, Jardi pun mencabut charger ponselnya lalu menggulungnya dan memasukan kembali kekantung bagian depan tasnya bersama 2 tempat kacamatanya yang terdapat disana.

Sesaat setlah Jardi memasuki kereta itu, dia pun berjalan maju kearah gerbong-gerbong yang lebih ujung karena beberapa gerbong kursinya sudah dengan cepat terisi kursinya oleh penumpang, setelah melewati beberapa gerbong hingga pada akhirnya digerbong ke 2 dari yang terujung, Jardi akhirnya menemukan kursi kosong dan menentukan untuk duduk disana. Beberapa saat setelah Jardi duduk, kereta pun berangkat dengan perlahan dan makin bertambah kecepatan seiring menjauhi stasiun dan terdengar suara roda besi kereta beradu dengan besi rel, hal tersebut mungkin mengganggu pendengaran orang lain akan tetapi berbeda dengan Jardi, dia berpikir itu bagai suatu nyanyian ninabobo yang mengantarkan dia tidur, terbukti baru semenit kereta berjalan dia sudah tertidur dan memasuki alam mimpinya yang penuh delusi.

“Misi karcisnya, Mas.”

Suara seorang pria membangunkan Jardi dari alam mimpinya yang penuh delusi, dia pun membuka matanya dan melihat kondisi gerbongnya yang mulai penuh dan seorang pria berpakaian serba hitam dengan pembolong kertas seperti distasiun tadi berdiri dihadapan Jardi. Jardi pun menyadari kehadiran pria berbaju hitam tersebut bermaksud melubangi kembali tiketnya, dia pun dengan sigap langsung mengeluarkan secarik kertas tiket dari saku kanan celananya dan memberikannya kepada pria tersebut, pria berpakaian serba hitam yang menerimanya langsung melubangi tiket tersebut dengan alatnya dan memberikan kembali tiket Jardi dan langsung melanjutkan tugasnya dengan meminta hal yang sama kepenumpang-penumpang disebelahku. e

Karena saya sudah mengantuk dan sedikit mager maka blog saya akan dilanjut nanti mungkin besok saja yah pembaca blog setia XD, semoga besok bisa selesai semua ceritanya, heheheh..   

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s